Dai adalah Pemberi Nasehat, Bukan Pelaknat

Pemimpin Bani Ad Daus, Ath Thufail bin Amr RA, yang telah masuk Islam, menyerukan kaumnya agar masuk Islam, akan tetapi justru mendapatkan pertentangan dan sikap permusuhan dari kaumnya sendiri. Setelah berputus asa akan da'wahnya, Ath Thufail bin Amr RA mendatangi Nabi Muhammad SAW dan meminta doa agar Bani Ad Daus dibinasakan.

 

Nabi Muhammad SAW tidak bereaksi marah, apalagi melaknat atau mencaci Bani Ad Daus yang menolak da'wah pemimpin mereka sendiri. Nabi Muhammad SAW justru tersenyum dan berdoa dalam sabdanya : "Ya Allah, berikanlah Bani Ad Daus Hidayah, dan datangkanlah hidayah kepada mereka." Ath Thufail bin Amr kemudian kembali ke kaumnya Bani Ad Daus, dan mendapatkan mereka masuk Islam. Inilah doa terindah dan tersuci bagi umat manusia. Sedangkan seruan terburuk bagi umat manusia adalah caci maki dan laknat.

 

Seperti halnya Abu Huraira RA yang sangat mencintai Nabi Muhammad SAW bahkan meninggalkan dunia untuk memilih dekat dengan Nabi Muhammad SAW, walaupun ibunda Abu Hurairah RA saat itu masih membenci Nabi Muhammad SAW bahkan mencacinya siang malam di depan Abu Hurairah RA sendiri. Hal ini mengakibatkan hati Abu Hurairah RA tertekan antara kecintaan kepada ibundanya dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW yang agung. Abu Huraira RA telah berusaha untuk mengajak ibundanya beriman, akan tetapi tidak berhasil, bahkan meminta ibundanya untuk berhenti menghina Nabi Muhammad SAW, akan tetapi juga tidak berhasil.

 

Abu Huraira RA tidak mendapatkan hasil dari jerih payah usahanya dalam membelah cintanya kepada ibundanya sendiri dan Nabi Muhammad SAW. Ia kemudian mendatangi Nabi Muhammad SAW meminta agar memberikan doa atas ibundanya agar dapat mendapatkan balasan karena menolak Islam dan menghina Nabi Muhammad SAW, yang saat itu merupakan kepala negara dan penutup Para Nabi AS yang di dalam genggaman Nabi Muhammad SAW terdapat kekuasaan dunia dan agama.

 

Akan tetapi Nabi Muhammad SAW hanya tersenyum seperti biasanya dan berdoa dalam sabdanya : "Ya Allah, berikanlah hidayah kepada ibunda Abu Huraira." Kemudian Abu Hurairah RA pulang ke rumahnya dan mendapati ibundanya bersuci dan mengucapkan dua kalimat sahadat. Itulah doa bagi kebaikan umat manusia, bukan doa atas kebencanaan umat manusia. Sesungguhnya, Nabi Muhammad SAW sangat mencintai hidayah bagi seluruh alam semesta, bukan kemarahan  dan kebencian.

 

Begitu juga dalam kasus Bani Tsaqif yang tinggal di daerah Thaif yang merupakan daerah subur dekat Makkah, dengan keangkuhan mereka menolak masuk Islam setelah Pembebasan Makkah, bahkan mereka mengepung dan membunuh sebagian Sahabat RA yang merupakan dari kalangan bangsawan. Berbagai dai mendatangi Bani Tsaqif akan tetapi mereka tetap menolak dengan angkuh. Bahkan pemimpin Bani Tsaqif Urwah bin Mas'ud Ats Tsaqifi sendiri mendatangi mereka akan tetapi Bani Tsaqif tetap menolak mereka, sehingga mendatangi Nabi Muhammad SAW dan berkata : "Wahai Rasulullah SAW doakanlah atas Bani Tsaqif adzab karena mereka menolak da'wah Islam, bahkan dahulu bani Tsaqif dari kalangan pembesar dan anak-anak kecil mereka, mengusirmu, mencacimakimu dan melemparimu dengan batu."

 

Nabi Muhammad SAW justru tersenyum dan dengan penuh lembut dan kasih sayang berdoa dalam sabdanya : " Ya Allah, berikanlah hidayah bagi Bani Tsaqif." Kemudian, Bani Tsaqif semuanya masuk Islam bahkan keimanan mereka semakin kuat dan Bani Tsaqif turut membantu memerangi kaum murtad setelah Nabi Muhammad SAW meninggalkan dunia yang fana ini.

 

Doa Kebaikan Bukan Keburukan

 

Pernah sekali Nabi Muhammad SAW mendoakan sebuah kaum dengan keburukan karena membunuh para utusan dai yang dikirim kepada mereka, dan doa tersebut terbalut dengan rasa sedih. Akan tetapi Allah SWT menegur Nabi Muhammad SAW dengan firmannya "Bukan bagimu kewenangan atas sesuatu, menerima taubat mereka dan menyiksa mereka, walaupun sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang lalim."

 

Nabi Muhammad SAW memahami bahwa Allah SWT berkehendak agar dirinya menjadi simbol kasih sayang dan mengajak manusia kepada kasih sayang Allah SWT, bukan menjadi bencana bagi mereka. Allah SWT berkehendak agar Nabi Muhammad SAW menjadi gerbang kasih sayang kepadaNya, bahkan kepada mereka yang menyiksa dan membunuh sahabatnya sendiri.


Baca juga : Rahasia Senyuman Istri Kepada Suami

 

Allah SWT berkehendak agar Nabi Muhammad SAW menjadi derajat tertinggi dalam kenabian dan risalahnya lebih tinggi dari Nabi Nuh AS yang mendoakan bencana atas kaumnya setelah berputus asa dalam da'wah kepada mereka. Seolah Allah SWT secara tersirat berfirman : "Sesungguhnya Aku berkehendak menutup risalah kenabian denganmu, dan agar engkau menjadi yang terakhir dan tertinggi dalam membentuk manhaj da'wah kepada umat manusia dengan mendoakan kebaikan bagi mereka, bukan mendoakan bencana atas mereka."

 

Kita harusnya memiliki keinginan untuk mendoakan umat manusia agar mendapatkan hidayah dan kebenaran, karena hal ini adalah tugas kita sebagai para dai yang mengikuti jejak langkah dan tauladan Nabi Muhamamd SAW, bukan mendoakan atas mereka bencana. Sedangkan mereka yang mendoakan keburukan dan bencana atas sebagian kelompok umat manusia dalam ceramah-ceramah mereka, sejatinya belum menguasai manhaj hidayah Nabi Muhammad SAW, dan belum meresap ke dalam hati mereka rasa kasih sayang dan toleransi yang ditauladankan oleh Nabi Muhammad SAW. Seolah mereka merasa memiliki pengaruh atas hancurnya sebuah kaum. Bahkan sebenarnya mereka mengedepankan kepentingan mereka sendiri atas kemaslahatan agama yang lebih agung.

 

Saya mengetahui dan selalu mendengar banyak orang mengaku dai mendoakan keburukan bagi 3/4 penduduk bumi dalam ceramah-ceramah mereka, tanpa terbesit berfikir apa yang dapat diberikan jika mereka semua masuk neraka. Bahkan saya mengatahui dengan betul, adanya orang-orang yang mengklaim sebagai dai dan menyerukan balas dendam dengan mengatasnamakan Tuhan atas setiap pihak yang menentang atau menyerang kelompoknya. Apakah mereka tidak pernah terbesit dalam kepala mereka, bahwa Allah SWT tidak akan memberikan bencana kecuali setelah sebuah kaum tersebut tersiksa dengan kelaliman mereka sendiri, sampai mereka berhak untuk diadzab.

 

Saya pernah berkata dalam hati : "Sungguh engkau sangat bijak dan penuh kasih wahai baginda Rasulullah SAW, yang di mana engkau mengajarkan kami agar mendoakan kebaikan bagi umat manusia, bukan mendoakan bencana atas mereka." Maka, apakah kalian wahai Kaum Islamis belajar dari hal tersebut, atau tetap meminta bencana atas pihak lain yang berbeda pandangan dan kepentingan dari kalian ?

 

 

Serial tulisan dari buku Bahaya Mimpi Al Baghdadi

 

 Penulis : dr. Najih Ibrahim - Pemikir Islam Mantan Ketua Dewan Syuro JI Mesir

Alih Bahasa : Mush’ab Muqoddas EP, Lc - Pengamat Terorisme di Timur Tengah

Comment

LEAVE A COMMENT