Keseteraan dalam Ketaatan: Relasi Istri kepada Suami

Keseteraan dalam Ketaatan: Relasi Istri kepada Suami

Berbicara tentang hubungan antara suami-isteri dalam hal hak dan kewajiban, maka yang paling cepat muncul dibenak kita adalah bahwa suami bekerja di luar mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan isteri dan anak-anak. Suami menjadi kepala rumah tangga, dalam arti pengambil keputusan akhir adalah suami, isteri dan anak-anak wajib patuh kepadanya.

Sebaliknya isteri, berkewajiban mengurus urusan rumah. Misalnya, memasak, membersihkan rumah, menyapu halaman, menggosok pakaian, merawat anak anak dan lain sebagainya. Istri wajib patuh dan menurut kepada arah kebijakan rumah tangga yang telah ditentukan oleh suami.

Pembagian tugas dalam rumah tangga tersebut jamak diterapkan di keluarga Indonesia. Seakan telah menjadi kodrat perempuan bahwasannya tugas istri adalah segala hal yang berkaitan dengan urusan domestik rumah tangga dan tugas suami adalah segala hal yang berkaitan dengan urusan non domestik.

Padahal, di zaman yang menuntut kekritisan berpikir seperti saat ini, telah banyak terjadi pemaknaan ulang terhadap peran suami dan istri dalam rumah tangga. Tentunya,  pemaknaan tersebut tetap berakar pada koridor hukum Islam dengan tafsiran-tafsiran yang dinamis, moderat dan relevan menjawab tantangan zaman.

Lalu, bagaimana pandangan tentang istri yang bekerja ?. Tidak bisa dipungkiri bahwasannya kaum perempuan pada saat ini telah diberi ruang seluas luasnya untuk mengaktualisasikan diri, sehingga terjadi perluasan sudut pandang bahwasannya tidak semua wanita hanya berkutat di dapur, sumur dan kasur.

Tidak semua perempuan hanya terampil memasak, berdandan dan beranak pinak. Banyak juga perempuan yang mumpuni memberikan kontribusi, sumbangsih tenaga dan pikirannya dalam sektor public, sehingga memberi warna warni dalam dinamika perkembangan peradaban.

Terbukanya peluang kaum hawa dalam berkarya dan memberi manfaat adalah bukti bahwasannya masyarakat Indonesia memiliki semangat berbenah menuju pemahaman universal yang mengusung nilai–nilai kesetaraan kemanusiaan tanpa memandang gender.

Baca juga : Wanita Tidak Terbakar, karena Begitu Cinta kepada Rasulullah SAW

Belum terlaksana secara menyeluruh memang. Namun gerakan kesetaraan kemanusiaan terus menggaung dan bergema, membangunkan kesadaran khalayak yang selama ini terlena oleh budaya patriarki buta.

Islam Menyadarkan Kesetaraan

Rosululloh sendiri adalah pribadi yang sangat humanis. Beliau tidak pernah memanfaatkan statusnya sebagai suami untuk menuntut ketaatan terhadap istri-istrinya. Spirit relasi yang beliau bangun dalam bingkai rumah tangga bukanlah prinsip “istri harus taat karena suami adalah pemimpin mutlak rumah tangga” namun beliau lebih mengedepankan moral spiritual dalam membangun relasi tersebut.

Bukan berdasar pada relasi “Husband-centered”, tetapi “Truth-centered”, yang berarti istri taat kepada suami sebagai kesadaran atas ketaatan hamba pada aturan kebenaran yakni aturan Alloh SWT. Sikap tersebut merupakan penerapan dari ayat Al Quran Surat An. Nisa ayat 1 yang berbunyi :

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. an-Nisa’: 1).

Relasi ketaatan yang dibangun atas semangat tersebut, akan berlandaskan pada keimanan dan jalan kebenaran, sehingga dalam mengambil langkah dan keputusan dalam berumah tangga tidak lagi terpaku pada kehendak suami ataupun istri saja, namun langkah dan kebijakan rumah tangga yang diambil akan selalu mengutamakan prinsip prinsip kebenaran dan senantiasa mengikuti petunjuk Alloh SWT.

Dalam kerangka berpikir tersebut, maka suami dan istri berada pada level yang setara. Suami dan istri bersama sama membina rumah tangga sebagai media untuk mencapai ridlo Ilahi. Suami tidak memperlakukan istri “hanya” sebagai objek dan istri juga mampu menempatkan diri sebagai partner hidup yang juga memikul tanggung jawab moral dan dapat mengambil peran lebih dari sekedar pengikut. Dengan demikian, rumah tangga yang dibina pun akan bertumbuh menuju keluarga yang harmonis, yakni keluarga yang humanis dan selalu bergerak dengan energi cinta yang saling menguatkan dan mengutamakan nilai  nilai kebenaran.

Comment

LEAVE A COMMENT