Kunci Menjadi Orang Tua yang Sukses dalam Mengasuh Anak

Ketika seorang anak terlahir ke dunia, sesungguhnya kelahirannya bukanlah tentang dirinya saja. Dia juga membawa dunia baru bagi sepasang manusia yang menjadi media kelahirannya.

 

Bagi ayah dan ibunya, seorang bayi yang baru lahir adalah pintu gerbang menuju dimensi hidup yang berbeda. Sebuah dimensi yang menuntut mereka untuk menjalani hidup secara lebih hati-hati dan waspada. Karena menjadi orang tua adalah tanggung jawab besar yang akan mereka pikul dalam periode yang tak terbatas.

 

Bukan dalam kurun waktu tertentu, tidak hanya sampai anaknya bisa berjalan atau berbicara. Amanah orangtua adalah sesuatu yang harus dipikul seumur hidup.  Batasnya adalah hingga kelak ketika Allah meminta pertanggungjawaban bagi setiap hambanya atas apa apa yang mereka kerjakan di dunia.

 

Termasuk, bagaimana kita membesarkan anak–anak, sudahkan kita mengasuhnya dengan pengasuhan yang benar? Sudahkah kita menuntun mereka tidak hanya menjadi individu yang sholeh sebagai bagian dari komunitas sosial, namun juga individu yang sholeh secara spiritual? Sudahkah kita bentuk anak-anak kita menjadi individu yang berkarakter luhur yang memahami sepenuhnya tugasnya sebagai manusia dan Hamba Alloh SWT?

 

Rosulullah bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

 

Dari Abdulloh ia berkata: Nabi saw bersabda:”setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban, seorang lelaki adalah pemimpin atas keluarganya dan dia akan dimintai pertanggung jawaban, seorang perempuan adalah pemimpin pada rumah suaminya dan dia akan dimintai pertanggung jawaban, dan seorang budak adalah pemimpin atas harta majikannya dan dia akan dimintai pertanggung jawaban. Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban”. (HR. Bukhori) (Imam Bukhori, hal: 131, No: 4860)

 

Tidak ada sekolah yang mengajarkan kita menjadi orang tua yang bijak. Kurikulum pendidikan di Indonesia tidak memasukkan subyek “pengasuhan” sebagai sebuah kompetensi yang wajib dikuasai setiap peserta didik. Meskipun, hal tersebut merupakan keniscayaan.

 

Miliki! 5 Kunci Kesadaran Orang Tua dalam Mengasuh Anak

 

Menjadi orangtua adalah fase hidup yang pasti akan dijalani oleh mayoritas setiap manusia. Tanggung jawab menjadi orangtua terlalu sepele untuk dijalankan sambil lalu dan tanpa persiapan. Diperlukan kesadaran individu untuk mempersiapkan diri menyongsong masa itu.  

 

Pertama, kesadaran untuk memperkaya sudut pandang sebagai orangtua dengan mempelajari dasar dasar pendidikan dan pengasuhan. Ilmu dan pemahaman yang baik mengenai bagaimana orangtua mendidik dan mengasuh anak akan menjadi bekal yang bergizi sebelum memutuskan untuk memiliki anak. Sebab, salah satu faktor anak tidak bertumbuh kembang dengan baik adalah karena kekurangsiapan orangtua dalam melengkapi dirinya dengan perangkat – perangkat ilmu, karakter yang baik dan kesiapan mental.

 

Kedua, setelah sang anak lahir, orangtua juga hendaknya selalu memiliki kesadaran bahwasannya kehadiran buah hati di dunia merupakan media untuk mendekatkan dirI pada Alloh SWT. Pengasuhan yang berlandaskan pada kesadaran ini akan memiliki corak yang berbeda dengan pengasuhan yang tidak disertai dengan nilai–nilai spiritual.

 

Visi pengasuhan orang tua tidak akan terbatas pada 5 atau 10 tahun ke depan atau hingga anak–anak tumbuh dewasa, namun jauh lebih panjang daripada itu. Visi orangtua adalah, tidak hanya agar sang buah hati tumbuh selamat dan bahagia di dunia namun juga mendapatkan kebahagiaan kelak di akhirat.

 

Ketiga, kesadaran bahwa pengasuhan terhadap anak dilandasi pada niatan dan pemahaman bahwa membesarkan anak adalah wujud ibadah kepada Alloh SWT. Pancaran spiritual dari karakter luhur orangtua dengan niat dan kesadaran ini akan ditangkap sang buah hati sebagai sebuah teladan. Oleh karenanya, tidaklah salah satu pepatah yang mengatakan bahwa “buah jatuh tak jauh dari pohonnya.” Ketika orang tua senantiasa eling dan waspada dan memasukkan nilai spiritual dalam menjalani kehidupan di dunia, maka sang anak juga akan menduplikasinya. Mereka juga akan tumbuh menjadi pribadi yang “mindful”, pribadi yang senantiasa meniatkan gerak geriknya di dunia sebagai bentuk ibadah dan keberserahan diri pada Alloh SWT.

 

Keempat, kesadaran bahwa tidak sekedar kewajiban mengasuh, tetapi orang tua mempunyai tanggungjawab memberikan teladan dan pengajaran. Tentu saja, teladan tanpa arahan tidak akan berjalan dengan maksimal. Setelah memberikan teladan, orangtua juga hendaknya memberikan arahan yang benar.

 

Anak terlahir dalam keadaan suci, dan orangtualah yang menjadikannya bercorak warna melaui teladan dan arahan hidup dalam kesehariannya. Sebagiamana hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a :

 

“Nabi Muhammad SAW pernah bersabda : Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (tidak mempersekutukan Alloh) tetapi orangtuanyalah yang menjadikan dia seorang yahudi, atau nasrani atau majusi..”

 

Anak terlahir ke dunia dalam keadaan suci dari dosa. Maka ketika dia tumbuh menjadi manusia yang tidak beriman pada Allah, maka itu semua adalah menjadi taggung jawab orangtua. Imam Ghazali menjelaskan dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin :

 

“Kecenderungan anak apabila dia dibiarkan tumbuh liar tanpa adanya pendidikan moral yang baik, biasanya dia akan tumbuh dengan akhlaq yang tercela seperti : suka berdusta, pendengki, suka mencuri, mengadu domba, suka mencampuri urusan orang lain, suka melecehkan orang lain dan suka menipu.”

 

Oleh karena itu, orangtua sebagai bagian terdekat dari anak memiliki kewajiban untuk bisa mengarahkan dan mendidik anak menuju keluhuran budi menjadi manusia yang beradab.

 

Kelima, kesadaran untuk selalu mendokan anak. Tidak bisa dipungkiri bahwa pertolongan Allah adalah faktor penentu dalam segala hal termasuk dalam pengasuhan putra putri kita. Tanpa adanya campur tangan Allah, maka tidak akan ada penyatuan hati antara orang tua dan anak.

 

Cara meminta pertolongan Alloh adalah dengan banyak banyak berdoa. Dalam doa pada Allah SWT, tidak hanya terkandung permintaan hamba pada Tuhannya, namun juga ada dimensi kesungguhan dan penguatan kesadaran  atas apa yang menjadi hajat orangtua terhadap anak–anaknya. Semisalnya, orangtua memohon pada Alloh agar anak terjaga dari godaan syaitan dan keburukan hawa nafsu, maka orangtua akan mengupayakan segala cara untuk memproteksi anak anaknya dari hal-hal buruk akibat mengikuti ajakan syetan maupun hawa nafsu yang menjerumuskan, yakni dengan cara penguatan pemahaman keagamaan dan penanaman budi pekerti yang luhur.

 

Semoga dengan lima kesadaran inilah anda tidak hanya menjalani tanggungjawab sebagai orang tua, tetapi mempunyai tanggungjawab kepada Allah. Anak adalah amanat yang dititipkan. Orang tua akan mengembalikan titipan itu kepada Tuhannya dalam keadaan yang baik dan buruk tergantung cara dan pola asah, asuh dan asih kita kepada anak-anak kita.

Comment

LEAVE A COMMENT