Mendidik Toleran Sejak dalam Keluarga

Mendidik Toleransi Sejak dalam Keluarga

Hidup sebagai warga Indonesia yang kaya akan kemajemukan menyadarkan kita akan pentingnya toleransi. Sebagai seorang muslim, toleransi adalah sifat yang wajib dimiliki. Rasululloh Muhammad SAW adalah pribadi yang menjunjung tinggi nilai toleransi. Beliau tidak pernah membeda-bedakan dalam melayani dan memperlakukan ummatnya. Semuanya diperlakukan dengan hormat dan penuh welas asih.

Rasulullah adalah pribadi yang humanis, memanusiakan manusia tanpa melihat agama apa yang dianut maupun dari suku mana berasal. Dalam sebuah hadits Rosulullah pernah bersabda :

“Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata:  ditanyakan kepada Rasulullah saw. “Agama manakah yang paling dicintai oleh Allah?” maka beliau bersabda: “Al-Hanifiyyah As-Samhah (yang lurus lagi toleran)”

Meneladani sikap Rasulullah yang toleran dan penuh welas asih adalah sebuah kewajiban bagi setiap muslim. Toleransi adalah sikap tentang keterbukaan dan penghormatan terhadap perbedaan yang ada di masyarakat. Toleransi bukan hanya dalam hal keragaman suku, budaya, dan agama, tetapi juga perlu diterapkan pada berbagai perbedaan lainnya seperti menghargai penyandang disabilitas, menghargai pilihan yang tak sama, dan menghargai pendapat yang berbeda.

Sikap toleransi menjadi sangat penting karena nilai ini adalah dasar untuk menuju masyarakat madani. Dengan semangat toleransi, manusia dapat menjembatani kesenjangan budaya, menolak stereotip yang tidak adil, dan menciptakan hubungan baik di tengah perbedaan.

Keluarga sebagai Sekolah Pertama

Media pertama untuk menumbuhkan sikap toleransi adalah keluarga. Keluarga adalah sekolah pertama bagi setiap anak. Keluarga yang menanamkan nilai nilai luhur kehidupan akan membesarkan generasi penerus yang berbudi perkerti dan berkarakter mulia.

Baca juga : Agar Anak Menjadi Penyejuk Hati (Qurrota A’yun)

Menanmkan nilai toleransi dalam keluarga dapat dimulai sedini mungkin. Sebab, Anak-anak, apalagi di usianya yang masih muda, mengembangkan nilai-nilai kehidupan dasar sebagian besar dari cerminan sikap dan nilai-nilai yang ditunjukkan dari orangtua dan orang orang di lingkungan terdekatnya.

Melihat orang tua yang mampu menunjukkan respek dan toleransi beragama, tidak membeda-bedakan ras, warna kulit hingga kemampuan fisik dan intelegensia, akan membuat anak belajar banyak hal untuk menghargai perbedaan. Contoh dari orang tua akan tertanam baik sebagai nilai yang dianut anak. Tentu saja bukan berarti anak bisa mengadopsi semua keberagaman, di dalam keluarga sendiri juga perlu ditanamkan prinsip beragama Islam dengan benar dan kuat sehingga anak mampu mengambil sikap menghadapi perbedaan antara dirinya dengan orang lain.

Melalui perbincangan sehari-hari, orang tua perlu menyampaikan tentang makna dasar merajut kebhinnekaan. Perlu disampaikan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk bertengkar. Perbedaan  harus diterima sebagai karunia dari Alloh SWT. Allah menciptakan manusia secara berbeda-beda agar manusia bisa saling mengenal dan saling menghargai, bukan saling membenci. Oleh sebab itu, setiap orang tidak boleh menganggap dirinya lebih penting dari yang lain. Setiap orang punya hak yang sama untuk didengarkan dan diperhatikan. Sebagaimana firman Alloh dalam surat Al – Hujurat ayat 13 :

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Orang tua juga bisa membahas secara ringan dengan anak bagaimana ia perlu menyikapi perbedaan di sekitarnya seperti misalnya menghargai agama temannya, tidak mengejek kekurangan temannya, membiasakan berpikiran terbuka dan bersikap rendah hati.

Melalui beberapa pendekatan tersebut, diharapkan anak semenjak usia dini dapat memahami dan mampu mensikapi perbedaan. Anak-anak akan tumbuh dengan rasa solidaritas dan toleransi yang tinggi terhadap setiap perbedaan yang mereka temui. Mereka akan mampu mengimplementasikan rasa kasih dan sayang terhadap sesama, sehingga terpatri dalam dirinya untuk tidak melakukan perilaku amoral, arogansi serta dekadensi moral lainnya. Inilah generasi yang dicita citakan Nabi Muhammad. Generasi yang menyebarkan nilai islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

*Thoyibatun Nuroniyah


Baca Artikel Terkait : 

Salahkah Anak Ketika Banyak Bertanya?

Agar Anak Menjadi Penyejuk Hati (Qurrota A’yun)

Adab Guru Terhadap Murid Menurut KH Hasyim Asy’ary

Kunci Menjadi Orang Tua yang Sukses dalam Mengasuh Anak





Comment

LEAVE A COMMENT