Meraih Keluarga Bahagia menurut Imam Ghazali

Kebahagian dalam sebuah keluarga adalah dambaan dan impian setiap orang. Tidak ada satupun orang dan keluarga yang menginginkan kehidupannya larut dalam ketidakbahagiaan dan malapetaka. Seorang ibu rumah tangga akan selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi anak-anak dan suaminya. Demi untuk sebuah kebahagian, demikian pula sebaliknya, seorang suami sebagai kepala rumah tangga akan menggunakan seluruh potensi yang dimiliki untuk membahagiakan keluarganya. Siang dan malam harus bekerja keras agar dapat memenuhi kebutuhan keluarganya demi sebuah kebahagian.

Kebahagian yang dimaksud di sini bukanlah kebahagian dunia semata, tetapi yang paling penting adalah kebahagian akhirat. Namun untuk mencapai kebahagian akhirat haruslah dimulai dengan kebahagian di dunia, karena Allahpun memerintahkan kita agar bekerja dan mencari kehidupan di dunia ini demi kebahagian dan tidak melupakan kehidupan di akhirat nanti. 

Betapa pentingnya kehidupan keluarga sehingga sebagian ulama dan pemikir menyatakan bahwa kebahagian dan kesejahteraan serta kedamaian dalam sebuah masyarakat bahkan negara dimulai dari kehidupan keluarga. Keluarga adalah tiang utama masyarakat dan Negara. Oleh karena itu keluarga menjadi sangat vital dalam upaya menciptakan perdamaian dan kebahagian di lingkungan masyarakat dan negara.

Tidak mengherankan jika hampir semua agama baik samawi maupun wadhiyah menekankan betapa pentingnya kehidupan keluarga dan pendidikan anak-anak sebagai penerus kehidupan di masa-masa yang akan datang. Tanpa itu, maka kebahagian dalam keluarga dan masyarakat bahkan negara tidak akan tercipta.  

Islam sendiri memberikan perhatian penting terhadap pendidikan anak sebagai bagian yang terpisahkan dalam kehidupan keluarga, bahkan dalam sebuah hadis disebutkan bahwa “Didiklah anak-anak kalian sebelum ia lahir”. Ini menunjukkan bahwa pembinaaan anak sebagai calon penerus bukan saja sejak ia masih dalam kandungan, tetapi juga setelah ia tumbuh dan berkembang.

Sebagaimana firman Allah dalam Alquran yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS.at-Tahrim:6) . Ayat ini secara jelas menunjukkan bahwa menjaga anak-anak dan generasi muda dari api neraka sangatlah penting karena jika anak-anak dibiarkan maka tidak menutup kemungkinan menjadi beban masyarakat dan keluarganya, sehingga pada gilirannya keberadaannya  justru menjadi bencana dan malapetaka bagi keluarga dan masyarakatnya.  

Dewasa ini, pendidikan dan pembinaan terhadap anak seringkali jauh dari ajaran-ajaran yang telah diajarkan oleh agama. Akibatnya, seringkali seorang ayah dan ibu mengeluhkan tingkah laku anak-anaknya dan bahkan tidak sedikit keluarga yang menyerahkan anak-anaknya kepada seorang kiyai atau ustaz misalnya agar dibina dengan baik.

Imam Ghazali dalam kitabnya Kimiayatus a-saadah (energi kebahagian) yang disusun di Naizabur menjelang akhir hayatnya telah memberikan petunjuk dan nasehat kepada umat Islam tentang pendidikan dan pembinaan terhadap anak, sehingga kebahagian yang diinginkan oleh kedua orang tuanya dapat diraih bukan saja di dunia, tetapi lebih-lebih nanti di akhirat. Salah satu nasehat Imam Ghazali dalam kitab tersebut menyebutkan bahwa membiasakan anak-anak dengan memberikan apa yang diinginkan seperti memberikan uang, membelikan pakaian yang bagus-bagus dan memenuhi seluruh keinginanya justru akan melahirkan karakter yang yang sombong, malas, angkuh dan pemalas.

Jika seorang ayah senang memberikan anak-anaknya apa yang diinginkan maka sesungguhnya telah menanamkan pada dirinya sifat yang malas dan tidak suka bersabar. Dan jika orang tua sering memberikan uang atau materi maka sesungguhnya telah mengajarkan sifat senang meminta, dan jika senang  memberikan barang-barang yang bagus maka sesungguhnya telah menanamkan dalam dirinya benih-benih keangkuhan dan keserakahan. Apabila memberikan makan dan minum, berikanlah kepadanya yang halal, karena dari makanan dan minuman yang halal itu akan tumbuh daging yang baik dalam diri anak itu sehingga nanti ia akan menjadi orang yang baik bagi dirinya dan masyarakat disekitarnya.

Imam Ghazali menegaskan bahwa ketahuilah bahwa anak itu adalah amanah bagi orang tua. Hatinya bersih ibarat kertas yang siap dituliskan. Ia seperti lilin yang siap menyala jika dibakar dan ia seperti  tanah subur yang belum pernah ditanami, maka apapun yang orang tua tanamkan pada dirinya maka itulah yang akan tumbuh dalam dirinya. Jika orang tua menanamkan kebajikan dalam dirinya maka akan tumbuh kebajikan dan menjadi kebahagian bagi kedua orang tuanya. Dan jika yang ditanamkan keburukan, maka kedua orang tuanya akan ikut merasakan perihnya keburukan itu. Di saat itulah kebahagian akan semakin jauh dalam kehidupan keluarga.

Dalam menutup nasehatnya ia menyebutkan bahwa ketahuilah bahwa ilmu adalah sesuatu yang sangat penting maka bekalilah anak-anakmu dengan ilmu dan pengetahuan. Dengan ilmulah anak-anak akan menjadi orang yang baik bagi dirinya dan masyarakatnya. 

Wallahua’lam bisshawab

Comment

LEAVE A COMMENT