Nasihat Nabi Muhammad kepada Para Istri

Nasihat Nabi Muhammad kepada Para Istri

Nabi Muhammad SAW adalah sumber tauladan bagi seluruh umat manusia. Kesempurnaan akhlaknya meliputi segala aspek kehidupan. Tak terkecuali kehidupan berumah tangga. Bagaimana Rasulullah bersikap terhadap istri – istrinya? Apakah Rasulullah adalah pribadi yang romantis? Bagaimana cara Nabi membina keluarga yang bahagia dan penuh kasih sayang?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menuntun kita untuk mempelajari lebih lanjut tentang akhlak Nabi yang mulia khususnya dalam kehidupan pribadi beliau sebagai kepala rumah tangga. Alangkah baiknya jika kita menyerap keindahan akhlak beliau untuk kemudian kita tuangkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Nabi Muhammad bukanlah seorang pencela. Berikut kepada istri-istri beliau, Nabi Muhammad tidak pernah mencela, dengan celaan yang halus sekalipun. Nabi Muhammad berbicara kepada istri-istrinya dengan bahasa yang santun dan ramah.

Bagi Nabi, istri adalah teman hidup yang menemani dalam waktu susah dan senang. Pemahaman tersebut terpancarkan dari sikap welas asih Nabi Muhammad kepada para istrnya dengan tidak pernah berkata kasar dan menyakitkan hati.

Baca juga : Romantisme ala Nabi: Inilah 5 Sikap Romantis Nabi

Lantas, bagaimana Nabi Muhammad meluruskan ketika sang istri berbuat kesalahan? Ketika ada hal yang tidak sesuai dilakukan oleh para istri atau sahabat, Nabi Muhammad memberikan nasihat alih alih mencela atau mencaci. Beliau memberi nasihat dengan cara yang lembut dan welas asih. Berikut beberapa nasihat Nabi Muhammad SAW kepada para istri:

Pertama, istri hendaknya taat kepada suami dalam kebenaran dan menyenangkan hati suami meski harus mempersingkat kewajiban agamanya (ritual ibadah). Nabi bersabda, “ Tidak halal bagi seorang istri berpuasa sunnah sementara suaminya ada (tidak sedang bepergian), kecuali dengan izinnya.” (Misykat 2 : 72).

Ketundukan istri terhadap suami adalah perwujudan ketaatan kepada aturan-aturan Allah. Sehingga, hendaknya istri menaati suami dengan penuh ketulusan sebagai sarana agar mendapatkan Ridlo Allah SWT. Taat pada suami dalam kebenaran artinya istri harus menaati segala perintah suami selama perintah itu adalah sesuatu yang benar. Jika perintah suami mengandung unsur maksiat atau merugikan pihak tertentu, maka istri tidak wajib menaati.

Suatu kali Nabi ditanya oleh seorang sahabat, “Siapakah yang terbaik di antara kaum perempuan?” Beliau menjawab, “Istri yang shalihah, menyenangkan apabila dipandang, patuh apabila diperintah, memenuhi sumpah pernikahan, menjaga dirinya dan kekayaan suami saat suami pergi.” (Misykat 2 : 73).

Adapun dalam Al Qur’an disebutkan bahwasanya penjelasan dari perempuan shalihah adalah perempuan yang taat kepada Allah dan memelihara diri ketika suaminya tidak ada. (QS An.Nisa : 43).

Kedua, istri wajib memenuhi ajakan suaminya, kecuali jika tidak memungkinkan untuk berhubungan intim. Nabi bersabda, “ketika seorang suami memanggil istrinya untuk kebutuhannya, hendaklah dia datang kepadanya meskipun sedang berada di dekat tungku.” (Misykat 2 : 61).

Nasihat Nabi Muhammad SAW ini mesti ditempatkan dalam kerangka memelihara hubungan mesra dan cinta antara suami dan istri. Bukan menempatkan istri dalam posisi yang ditekan dan terpaksa menjalani hubungan suami istri. Maka, suami yang bijak dan penuh cinta akan selalu memperhatikan perasaan dan kebutuhan istrinya dan tidak memaksakan kehendaknya.

Demikian pula istri yang bijak hendaknya memahami kebutuhan suami dan melayani dengan perasaan yang bahagia. Pasangan suami-istri yang saling peka akan perasaan dan kebutuhan masing-masing akan bisa menempatkan diri dalam kehidupan berumah tangga dan menguatkan kasih sayang di antara keduanya. Keridloan dari masing masing pasangan akan menarik kuat Rahmat Allah dalam membina rumah tangga yang tenang, lapang dan bahagia.

Ketiga, istri harus senantiasa menjaga kehormatannya di manapun dan kapanpun berada. Nabi Muhammad SAW bersabda : “Seorang perempuan yang menegakkan shalat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan mematuhi suaminya, akan memasuki surga melalui pintu mana saja yang dia kehendaki.”

Sabda Nabi lainnya, “ Perempuan yang meninggal, sementara suaminya ridha kepadanya (di kala hidupnya) akan masuk surga.” (Misykat 2:60).

Demikian beberapa nasihat Nabi Muhammad kepada para istri. Semoga, dengan mengimplementasikannya dalam kehidupan berumah tangga, dapat menjadi catatan amal baik bagi kita semua dan menjadi pengingat untuk senantiasa berusaha menjadi hamba Allah yang bertaqwa.


*Thoyibatun Nuroniyah

Comment

LEAVE A COMMENT