Sempurnakan Puasa Dengan 6 Hal

Sempurnakan Puasa Dengan 6 Hal

Hakikat puasa adalah menahan diri bukan hanya soal perut dan syahwat biologis, namun lebih dari itu menahan telinga, mata, lisan, tangan, kaki, dan semua anggota tubuh dari perbuatan dosa. Menjaga seluruh aktifitas anggota badan, pikiran dan hati ini tidak hanya untuk menjamin puasa agar tidak batal, tetapi juga memastikan puasa yang dilakukan tidak menjadi sia-sia.

Rasulullah telah memperingatkan kepada orang yang berpuasa dalam sabdanya:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّالظَّمَأُ.

Artinya: “Banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali dahaga semata”. (HR. Al-Darimi)

Hadis ini sebenarnya peringatan Nabi agar umat Islam tidak menjalani puasa hanya formalitas dan rutinitas semata dengan menahan hal yang membatalkan puasa. Nabi seakan memberikan peringatan tegas bahwa orang yang berpuasa menjadi sia-sia jika tidak menjaga atau menjauhi perbuatan-perbuatan keji, seperti berbohong, mengadu domba, sumpah palsu, dan lain-lain, meskipun puasanya menggugurkan kewajiban.

Sungguh akan menjadi sia-sia dan merugi ketika kita sudah berjuang menahan lapar dan dahaga untuk mencapai kesempurnaan puasa tetapi yang didapatkan hanya sekedar haus dan lapar. Karena itulah, lakukan 6 hal berikut ini untuk menjamin kesempurnaan puasa kita:

1.   Menjaga Pandangan

Orang yang berpuasa seharusnya menjaga dan menahan pandangan untuk tidak melihat hal-hal yang tercela dan hal yang memalingkan hati untuk berdzikir mengingat Allah. Pandangan itu merupakan panah yang beracun yang menjadi senjata iblis. Mata yang tidak bisa dijaga dengan baik adalah pintu menuju perbuatan yang tidak bermanfaat dan jatuh dalam perangkap dosa. Hati-hatilah dengan pandangan. Puasa kita harus menjaga mata kita.

Baca juga : Puasa adalah Terapi Pengenalian Diri

2.   Menjaga Lisan

Orang yang berpuasa hendaknya menghindari omongan yang tak berguna, berbohong, menggunjing, mengadu domba, sumpah palsu, dan lain-lain. Ketika berpuasa lisan seharusnya banyak dihiasi dengan dzikir dan membaca Al-Qur’an. Sufyan al-Tsauri berkata, menggunjing dapat merusak puasa. Puasa kita harus mampu menjaga lisan kita.

3.   Menjaga Telinga

Orang yang berpuasa harus menjaga telinga dari mendengarkan hal-hal yang buruk. Setiap ucapan buruk dan tidak bermanfaat maka tak pantas pula didengarkan. Jika berkumpul dengan orang-orang yang menggunjing hendaknya menyingkir, karena orang yang menggunjing dan yang mendengarkan sama-sama berdosa. Puasa kita harus mempu menjaga telinga kita.

4.   Menjaga Anggota Tubuh

Orang yang berpuasa hendaknya menjaga tangan, kaki dari perilaku keji. Begitu juga saat berbuka hendaknya menjaga diri makanan  dan minuman yang belum jelas halal-haramnya (syubhat). Puasa menjadi sia-sia jika seharian menahan makan-minum yang halal, lalu saat berbuka dengan makanan yang haram. Ini bagaikan membangun satu rumah, namun merobohkan rumah sekampung. Puasa kita harus mampu menjaga anggota tubuh kita.

5.   Menjaha pikiran

Orang berpuasa hendaknya juga menjaga pikiran dari pra sangka jelek, menebar kecurigaan dan selalu mencari kesalahan orang lain. Hikmah puasa adalah mengendalikan pikiran kita dari pikiran negative dan hanya mengarahkan pikiran tertuju kepada mencari ridho Allah. Pikiran yang bersih adalah sumbu tindakan yang baik dan bermanfaat. Puasa kita harus mampu menjaga pikiran kita.

6.   Menjaga Hati

Orang berpuasa pada akhirnya harus bisa membersihkan hati. Bulan suci adalah momentum membersihkan berbagai penyakit hati seperti iri, dengki, sombong dan syirik. Selama berpuasa umat Islam harus terus mengharap dengan sungguh-sungguh bahwa puasa yang kita laksanakan diterima Allah. Puasa kita harus mampu menjaga hati kita.

Alangkah indahnya bulan suci ini apabila umat Islam tidak hanya melaksanakan ibadah puasa untuk tujuan formalitas dan rutinitas semata. Puasa adalah latihan mengendalikan seluruh anggota tubuh, pikiran dan hati dari hal yang negatif. Inilah yang dikatakan bahwa di bulan Ramadan ini syetan dibelenggu oleh ibadah umat Islam, karena tidak ada satu pun celah untuk melakukan hal negatif yang bersumber dari anggota tubuh, pikiran dan hati.

Wallahu a’lam 


*Zainol Huda

(Alumni Ma’had Aly Situbondo dan Dosen STAIM Sumenep)

Comment

LEAVE A COMMENT