Syarat Diterima Taubat

Syarat Diterima Taubat

Kemuliaan manusia itu tidak diukur dari apakah dia bersih dari kesalahan atau tidak,. Semua manusia memiliki kesalahan. Hal terpenting bukan melakukan kesalahan atau tidak, tetapi bagaimana bereaksi terhadap kesalahan yang pernah kita lakukan.

Manusia itu tempatnya salah dan lupa, mereka pasti pernah keliru dan salah. Allah SWT mengetahui karakter makhluknya. Walaupun demikian, manusia dengan penuh kesalahan dan dosa nyatanya tetap dipilih Allah, yakni Nabi Adam AS untuk menjadi khalifah di bumi dalam menjalankan tugas untuk memakmurkan bumi.

Adakah yang aneh atas ditugaskannya Nabi Adam untuk menjadi khalifah di bumi, walaupun telah dikatakan gagal dalam menjalani ujian karena termakan godaan Iblis? Justru intinya di sini? Manusia tidak mungkin akan lepas untuk tidak melakukan kesalahan, tetapi manusia wajib berusaha agar tidak terjatuh dalam jurang kesalahan secara terus-menerus.

Lalu bagaimana dengan Nabi Adam dan Siti Hawa setelah melanggar aturan itu? Mereka berdua kemudian menyesal dan minta ampun kepada Allah SWT. Penyesalan dan mau mengakui kesalahan serta menerima konsekuensi dikeluarkan dari surga adalah suatu keberhasilan untuk menuju kemuliaan.

Berbeda dengan Iblis meski sama-sama diusir dari surga, tapi tidak tobat. Iblis terkutuk dengan dosa dan kesalahannya sampai hari kiamat karena sombong untuk mengakui kesalahan dan penyesalan.

Baca juga : Idealitas Karakter Kepemimpinan Islam

Melakukan kesalahan itu manusiawi. Sifat manusia adalah selalu tidak pernah lepas dari kesalahan, tetapi segera mengakui dan bertaubat. Tetapi sifat Iblis adalah melakukan kesalahan dan tidak mengakuinya. Tidak mau mengakui kesalahannya adalah sifat Iblis yang justru merasa benar sendiri dan menjadi sombong.

Ingat! Iblis bukan atheis, dia justru percaya Tuhan yang Esa dan bahkan pernah ketemu dan berdialog dengan Tuhan. Namun, kesalahan besar Iblis bukan tidak percaya Tuhan tetapi sikap sombong, menyepelekan orang lain, merasa benar narasi-narasi yang menyesatkan orang lain.

 Kalau ada orang mengaku yang paling benar, paling dekat dengan Tuhan, paling mulia di sisi Allah, paling ahli surga, sementara yang lain sesat, kafir, ahli bid’ah, ahli neraka, saya khawatir orang demikian sebenarnya sedang meniru gaya Iblis di hapadan Allah.

Orang-orang dengan sikap iblis demikian, jangan pernah berharap ada keberhasilan menuju kemuliaan hidup. Orang merasa mulia dan sombong akan jatuh dalam kenistaan, sementara sifa Nabi Adam yang mengakui kesalahan justru naik tingkat dalam kemulian.

Diriwayatkan waktu Syaikh Abdul Qodir sampai usia 18 tahun, beliau pergi ke padang rumput untuk menggembalakan satu ekor unta. Di tengah perjalanan unta tersebut menoleh kebelakang dan berkata kepadanya : “Bukan begini tujuan hidupmu dilahirkan ke dunia ini”. Mendengar kata-kata ini Syaikh kembali ke rumahnya untuk menjumpai ibunya. Lalu Syaikh memohon kepada ibunya agar mengirimkannya ke Bagdad untuk menuntut ilmu.

Ketika ibunya  mendengar permohonan putranya itu, ia sangat setuju dan mengijinkan syaikh berangkat ke Bagdad. Dengan bekal uang sebesar empat puluh dinar, dimasukan ke dalam baju putranya persis di bawah ketiak lalu dijahit agar tidak hilang. Syaikh Abdul Qodir disuruh menggabungkan diri bersama suatu kafilah yang akan berangkat ke Bagdad.

Ibunya berpesan kepada Syaikh Abdul Qodir agar jangan berdusta dalam keadaan bagaimanapun. Setelah kafilah berangkat dan hampir memasuki kota Bagdad tiba-tiba datanglah enam puluh orang penyamun berkuda merampok kafilah tersebut habis-habisan. Tanpa kecuali kepada Syaikh yang awalnya tidak ada yang perduli karena kesederhanaanya, tapi akhirnya ada seorang perampok yang bertanya kepadanya tentang harta yang ia punya. Dijawablah bahwa ia punya uang 40 dinar dijahit dibawah ketiak.

Syaikh dibawa kepada kepala perampok lalu dibuktikan perkataannya. Kepala perampok terheran-heran kemudian menanyakan kepada Syaikh apa sebabnya dia berkata yang sebenarnya. Dijawab dengan tenang bahwa beliau berjanji kepada ibunya tidak akan berkata bohong dalam keadaan bagaimanapun.

Mendengar jawaban itu kepala perampok menangis karena ia merasa selama hidupnya terus menerus melanggar perintah Allah SWT. Sedang Syaikh ini tidak berani melanggar janji terhadap ibunya.

Kesimpulannya syarat orang yang diterima taubatnya bukan karena kesalahannya, tetapi niat tulus, kesadaran akan kesalahan, dan penyesalan untuk tidak mengulangi kembali. Manusia adalah tempat salah dan dosa, tetapi Allah Maha Pengampun atas segala dosa hambanya dengan sebenar-benarnya taubat. Kunci taubat paling pokok adalah mengakui kesalahan, menyesali dan berkomitmen untuk tidak mengulangi kembali.

Wallahu a’lam

*Apipudin Apip (Matan Media Damai)

Baca Artikel Terkait : 

3 Jalan Taubat untuk Menjadi Hamba Yang Rabbani

Ini dia Abu Hafs Al Muritani: Mufti Besar Al Qaeda yang Telah Bertaubat


Comment

LEAVE A COMMENT