Tidak Sekedar Berdoa, Bekerja juga Ibadah

Apakah seluruh hidup manusia harus dicurahkan dan dihabiskan untuk beribadah? Jawabannya secara tegas iya dan harus. Manusia diciptakan oleh Allah semata-mata untuk beribadah. Sebagaimana firman Allah:  

وماخلقت الجن والانس الاليعبدوت   

Artinya: “Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaku” (Q.S adz-Dzaariyaat ayat 56).

Namun, menjadi persoalan apabila kita hanya memaknai ibadah sekedar dalam bentuk yang sempit seperti shalat, puasa, zakat dan lainnya. Kesalahan memaknai ini akan menyebabkan kita menepikan diri dari kehidupan sosial dan melupakan kewajiban sehari-hari seperti bekerja.

Mungkin tidak asing di tengah masyarakat ada sekelompok orang yang hanya menghabiskan waktunya di masjid berminggu-minggu dan melupakan kewajiban yang ia penuhi seperti tanggungan anak dan keluarganya. Apakah seperti itu yang dimaksudkan menghabiskan waktu dan hidup untuk beribadah?

Ada kisah yang sangat menarik yang diceritakan oleh Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin. Kisah ini tentang Nabi Isa a.s. Suatu saat Nabi Isa a.s melihat seorang laki-laki, lalu bertanya: apakah yang engkau kerjakan? Laki-laki itu menjawab : Aku beribadah. Isa a.s bertanya lagi: Siapakah yang menanggung kebutuhanmu? Laki-laki itu menjawab: saudara saya! Lalu Isa a.s menegaskan: saudaramu lebih banyak ibadahnya daripada kamu!

Dalam kisah tersebut, Nabi Isa tidak menyalahkan laki-laki yang sedang beribadah, tetapi ia menegornya tentang kebutuhan dirinya. Secara implisit Nabi Isa ingin menegaskan bahwa bekerja untuk memenuhi kebutuhan dan tanggungan adalah sebuah tindakan ibadah.

Makna ibadah tentu saja sangat luas dan tidak sempit hanya di lingkungan masjid dan tempat ibadah. Segala macam perbuatan atau ucapan yang dicintai dan diridhai oleh Allah adalah ibadah. Termasuk mencari riizki dengan cara halal untuk memenuhi kebutuhan dirinya, keluarganya dan orang yang ditanggungnya adalah ibadah.

Nabi bersabda: Barang siapa mencari dunia secara halal, menjaga diri dari meminta-minta, berusaha untuk keluarga dan menaruh kasih sayang kepada tetangga, niscaya ia menumpai allah, sedang wajahnya seperti bulan pada malam purnama. (Imam Ghazali, Ihya Ulumuddin).

Bekerja merupakan tindakan ibadah selain untuk memenuhi kebutuhan dirinya, tetapi juga untuk mencegah diri dari cara meminta-minta. Islam memang mewajibkan ibadah zakat untuk dibagi kepada mereka yang membutuhkan. Tetapi Islam, sebagaimana diajarkan Nabi sangat mencegah umatnya untuk meminta-minta. Nabi dalam riwayat yang lain bahkan menegaskan bekerja adalah bagian dari ibadah fisabilillah.

Suatu saat Nabi duduk bersama para sahabat lalu mereka melihat seorang pemuda yang tabah dan kuat. Ia pagi-pagi benar pergi bekerja. Sahabat berkata : alangkah baiknya, pemuda itu, kalau muda dan tabahnya digunakan fi sabilillah. Sontak Nabi menegor: jangan engkau mengatakan itu! Karena apabila pemuda itu berusaha untuk dirinya, supaya ia tercegah dari meminta-minta dan ia tidak memerlukan pertolongan orang lain, maka dia itu sudah fi sabilillah. Dan kalau ia berusaha untuk orang tuanya yang sudah lumah atau keturunannya yang lemah, untuk memenuhi keperluan mereka, maka ia juga fi sabilillah. Namun, jika ia berusaha untuk membanggakan diri dan membanyakkan harta maka ia sudah fi sabilisy-syaitan.

Beberapa pelajaran di atas ingin mengajarkan kepada kita bahwa umat Islam harus menggunakan usaha untuk mencari rizki. Tuhan memberkati bumi sebagai lapangan rizki bagi umat manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Mencari rizki merupakan perintah Allah bagi umat manusia dalam rangka memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Dalam Qur’an Allah berfirman :

وجحلناالنهارمعاشا

Artinya : Dan Kami jadikan siang untuk penghidupan (An-Naba: 11).

Tuhan telah melapangkan rizki bagi seluruh umat manusia di muka bumi. Kewajiban manusia adalah berusaha dan bekerja. Mendapatkan rizki tidak cukup hanya dengan doa. Sahabat Umar r.a berkata: Jangan kamu hanya duduk mengharapkan rizki seraya berkata: Wahai Allah Tuhanku! Anugerahilah aku rizki. Sesungguhnya kamu mengetahui bahwa langit itu tidak menurunkan hujan emas dan perak.

Tuhan telah melapangkan rizki bagi seluruh umat manusia di muka bumi. Kewajiban manusia adalah berusaha dan bekerja. Mendapatkan rizki tidak cukup hanya dengan doa. Sahabat Umar r.a berkata: Jangan kamu hanya duduk mengharapkan rizki seraya berkata: Wahai Allah Tuhanku! Anugerahilah aku rizki. Sesungguhnya kamu mengetahui bahwa langit itu tidak menurunkan hujan emas dan perak.

Comment

LEAVE A COMMENT