tawasul
tawasul

Hukum Bertawasul ( 2 ) : Hukum Bertawassul kepada Orang yang Sudah Mati

Seperti yang sudah maklum, Salafi Wahabi adalah kelompok yang paling gerah dalam menyikapi perilaku manusia. Jika tidak sama dengan hasil pemikirannya, pasti divonis bid’ah, kafir, atau syirik. Begitu juga dalam menyikapi orang-orang yang bertawasul melalui orang-orang shalih yang sudah meninggal dunia. Dengan gampang mereka katakan sebagai berbuatan syirik dan pelakunya kekal di neraka.

Padahal sudah turun temurun sejak masa sahabat Nabi saw, umat Islam terbiasa bertawasul melalui orang yang sudah meninggal dunia manakala ia mendapatkan kesusahan. Di antara bukti bahwa umat Islam sejak dahulu melakukan tawasul melalui orang yang meninggal dunia yaitu apa yang diriwayatkan oleh Utsman bin Hunaif ra. Berikut riwayat:

“Seorang laki-laki berkali-kali datang kepada Utsman bin Affan ra untuk suatu keperluan (hajat) tetapi Utsman bin Affan ra tidak menanggapinya dan tidak memperhatikan keperluannya. Kemudian orang tersebut menemui Utsman bin Hunaif ra dan mengeluhkan hal itu. Maka Utsman bin Hunaif ra berkata “Pergilah ke tempat berwudhu’ dan berwudhu’lah kemudian masuklah ke dalam masjid kerjakan shalat dua raka’at kemudian berdoa “Ya Allah aku memohon kepadamu dan menghadap kepadamu dengan Nabi kami, Nabi pembawa rahmat. Ya Muhammad aku menghadap denganmu kepada Tuhanmu Tuhanku agar memenuhi keperluanku” kemudian sebutkanlah hajat atau keperluanmu, berangkatlah dan aku dapat pergi bersamamu. Maka orang tersebut melakukannya kemudian datang menghadap Utsman bin Affan ra, ketika sampai di pintu, penjaga pintu memegang tangannya dan membawanya masuk kepada Utsman bin Affan ra, maka ia dipersilakan duduk di sampingnya. Utsman bin Affan ra berkata “apa keperluanmu” laki-laki tersebut menyebutkan keperluannya dan Utsman bin Affan ra segera memenuhinya. Utsman berkata “aku tidak ingat engkau menyebutkan keperluanmu sampai saat ini” kemudian Utsman berkata “kapan saja engkau memiliki keperluan maka segeralah sampaikan”. Kemudian orang tersebut pergi meninggalkan tempat itu dan menemui Utsman bin Hunaif, ia berkata “Semoga Allah SWT membalas kebaikanmu, ia awalnya tidak memperhatikan keperluanku dan tidak mempedulikan kedatanganku sampai engkau berbicara kepadanya tentangku” (HR. Al Thabarani)

Berangkat dari riwayat ini, umat Islam meyakini bahwa bertawasul kepada orang yang sudah mati hukumnya boleh. Di antara ulama yang memastikan kebolehannya yaitu Syeikh Yusuf bin Ismail An Nabhani. Ia berkata: “Tidak ada perbedaan dalam bertawassul kepada Nabi Muhammad saw atau kepada Nabi-Nabi dan Rasul lainnya, Begitu juga bertawassul kepada para Nabi dan orang-orang shalih, baik mereka masih hidup atau pun sudah mati. Karena mereka tidak mampu menciptakan apapun, dan tidak mampu memberi pengaruh apapun. Akan tetapi bertawassul kepada mereka karena mencari barokah darinya, sebab mereka adalah orang-orang yang terdekat keada Allah”[1]

Baca Juga:  Kaidah Fikih: Tidak Boleh Melangkahi Pemimpin

Ini juga menjadi jawaban kepada Salafi Wahabi bahwa umat Islam datang kepada makam para awliya’ bukan meyakini orang wali tersebut yang mampu memenuhi hajat. Tetapi Allah swt yang memberikan kebaikan dan keburukan. Hanya saja umat Islam meyakini dengan bertawassul kepada para awliya’ akan mudah diterima karena mereka orang-orang yang dekat dengan Allah swt. Umat Islam melakukan do’a dengan cara seperti ini karena mengikuti anjuran Allah swt, Nabi Muhammad saw serta perilaku ulama Salaf.

Wallahu a’lam


[1] Yusuf bin Ismail al Nabhani, Syawahid al Haq, Hal 158-159

Bagikan Artikel ini:

About M. Jamil Chansas

Dosen Qawaidul Fiqh di Ma'had Aly Nurul Qarnain Jember dan Aggota Aswaja Center Jember

Check Also

lagu ya thaybah

Lagu Ya Thaybah Syirik, Benarkah ?

Beberapa hari yang lalu, warganet dibuat gemas dengan ujaran artis Five Vi tentang lagu Ya …

aswaja

Benarkah Abu Hasan Al Asy’ari Meyakini Allah Swt Berada di Arsy ?

Sudah berabad-abad lamanya, umat Islam yang sampai pada kita saat ini mayoritas bermadzhab Asya’iroh, yaitu …