daging kurban kepada non muslim
daging kurban kepada non muslim

Daging Kurban pada Non Muslim, Boleh Diberikan??!!

Struktur masyarakat majemuk; suku bangsa, agama, adat, serta kedaerahan —seperti Indonesia—pada dasarnya tidak bisa ditafsirkan sebagai ancaman bagi kohesivitas sosial dan agama. Sebaliknya justru menjadi potensi besar pembentukan masyarakat yang demokratis dan toleran, yang dicirikan terbangunnya civil society seperti masyarakat Madinah tempo dulu.

Islam sebagai anutan agama mayoritas yang berkembang di masyarakat majemuk seperti Indonesia, mesti fleksible seperti plastic dalam penerapan ajaran ajarannya. Dan memang seperti itu yang telah dan akan terjadi, jika tidak ada yang mencoba menyulut sumbu intoleransinya.

Dalam hitungan beberapa hari kedepan, Islam akan menyelenggarakan aktifitas keagamaan (religious activity) tahunannya, yaitu Idul Adha dan Qurban.

Qurban sebagai event sosial dan keagamaan apakah lantas hanya khusus untuk umat islam saja? Ditengah kehidupan yang plural ini? Bolehkah Non muslim juga terlibat dalam event ini? Dari sisi bisa menerima dan menikmati daging kurban?

Dalam studi fikih Islam, kurban dibagi menjadi dua macam; Kurban sunnah dan Kurban wajib (wajib karena nadzar ataupun wajib karena ta’yin). Soal pendistribusian daging Kurban kepada Non Muslim, Ulama dalam Madzhab Syafii ternyata tidak dalam satu kesepahaman. Ada perbebedaan pendapat.

Pertama, Ibnu Hajar al-Haitamiyal-Bujairamiy,  mengatakan tidak boleh mendistribusikan daging Kurban kepada Non Muslim secara mutlak (baik mereka Fakir, apalagi kaya. Baik qurban sunat-wajib), baginya berbagi dalam qurban sejatinya untuk melekatkan hubungan keislamannya sekaligus jamuan dari Allah (dhiyafah). Sementara non muslim tak memiliki akses untuk mendapat itu semua. Hsyiyah al-Bujairamiy ‘Al al-Khatib, 13/246, Tuhfah al-Muhtaj, 3/378:

( وَلَهُ ) أَيْ الْمُضَحِّي عَنْ نَفْسِهِ مَا لَمْ يَرْتَدَّ إذْ لَا يَجُوزُ لِكَافِرٍ الْأَكْلُ مِنْهَا مُطْلَقًا وَيُؤْخَذُ مِنْهُ أَنَّ الْفَقِيرَ وَالْمُهْدَى إلَيْهِ لَا يُطْعِمُهُ مِنْهَا وَيُوَجَّهُ بِأَنَّ الْقَصْدَ مِنْهَا إرْفَاقُ الْمُسْلِمِينَ بِأَكْلِهَا فَلَمْ يَجُزْ لَهُمْ تَمْكِينُ غَيْرِهِمْ مِنْهُ

Baca Juga:  Tata Cara Shalat Ghaib Lengkap dengan Bacaannya

Kedua, al-Nawawi mengutip fatwa Ibn al-Mundzir. Menurutnya, ditemukan beberapa fatwa yang berbeda soal pendistribusian daging kurban kepada non muslim, dalam pandangan Hasan al-Bisri, Abu Hanifah, dan Abu Tsaur boleh sebagai rukhshakh membagikan daging kurban kepada non muslim yang dzimmi dan miskin.

Kendatipun Imam Malik tidak berkenan dengan fatwa seperti itu, menurutnya, jika hanya bertujuan membangun toleransi beragama, maka non muslim bisa diajak dalam satu jamuan makanan dari daging kurban itu. Jika langsung diterimakan dagingnya itu sama halnya memberikan ruang  dalam ritual peribadatan. Ternyata al-Baijuriy memberikan dukungan penuh kepada al-Nawawi. Menurutnya, boleh memberikan sebagian kurban sunah kepada kafir Dzimmi (orang kafir yang tinggal di Negeri Muslim, memiliki perjanjian (damai) dengan kaum Muslimin) yang miskin. Tapi ketentuan ini tidak berlaku untuk kurban yang wajib.” Hasyiyah Al Baijuri, 2/31. Al-Majmu, 8/425.

Bagikan Artikel ini:

About Abdul Walid

Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo

Check Also

waktu kurban

Hari Tasyrik, Perbedaan Ulama tentang Waktu Kurban

Idul Adha memiliki dua sebutan popular, Idul Hajji (hari Raya Haji) dan Idul Qurban (Lebaran …

ulama ahli ziarah

Kisah Para Ulama Ahli Ziarah Kubur, Masihkah Diragukan Kesunnahannya?

Gencar untuk menjauhkan amalan sunah Nabi, Kaum Wahabi membuat  propaganda dengan berbagai cara dengan selalu …