menari di dalam masjid
masjid

Hukum Menari di dalam Masjid

Beberapa minggu yang lalu sempat viral tentang video mahasiswa dari perguruan tinggi tertentu menari-nari di dalam masjid seusai acara. Spontan video itu mendapat tanggapan dari berbagai kalangan. Lebih-lebih dari tokoh agama dan cendekiawan muslim lainnya menilai perbuatan tersebut tidak pantas dilakukan di dalam masjid.

Lalu bagaimana fiqh menanggapi hal tersebut ?

Hukum menari-nari pada dasarnya adalah boleh, sebagaimana sering dilakukan oleh kalangan Sufi.

Imam Ibn Hajar Al Haitami menjelaskan:

وَأَمَّا الرَّقْصُ فَلَا يَحْرُمُ لِفِعْلِ الْحَبْشَةِ بِحَضْرَتِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ تَقْرِيْرِهِ عَلَيْهِ

Artinya: “Menari-nari hukumnya tidak haram, karena orang-orang Habsyah menari-nari Nabi Muhammad saw datang, sementara Nabi saw tidak mengingkarinya” (Fatawa Al Fiqhiyah Al Kubra)

Hanya saja, kebolehan tersebut tidak bersifat mutlak. Para ulama masih membatasi kepada tarian yang tidak sampai menyerupai gerak gerik wanita, atau tarian yang terlalu banyak gerakannya sehingga menghilangkan muruah (harga diri laki-laki). Maka yang demikian itu hukumnya haram. (At Tadrib Fil Fiqhis Syafii)

 Namun, kebolehan hukum menari menjadi persoalan lain mana kala dilakukan di dalam masjid, sebagaimana kasus di atas. Dalam hal ini ada perbedaan pendapat di kalangan ulama Syafi’iyah.

Pendapat pertama mengatakan boleh. Hal ini karena berdasarkan riwayat hadits tentang orang-orang Habsyah yang menari di masjid. Sayyidah Aisyah ra berkata:

لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا عَلَى بَابِ حُجْرَتِيْ, وَالْحَبْشَةُ يَلْعَبُوْنَ فِي الْمَسْجِدِ, وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتُرُنِيْ بِرِدَائِهِ, أَنْظُرُ اِلَى لَعِبِهِمْ

Artinya: Saya melihat Rasulullah saw suatu hari di pintu kamarku, sementara orang-orang Habsyah bermain dengan menari-nari di masjid. Lalu Rasulullah saw menutupiku dengan selendangnya, saya pun melihat permainan tarian mereka (HR. Bukhari dan Muslim)

Pendapat kedua mengatakan haram, sekalipun yang menari bukan seorang wanita. Karena hal tersebut menghina kepada kemulyaan masjid. (Hasyiyah Al Bujairomi Alal Khatib). Bahkan jika berniat secara sengaja dalam rangka menghina masjid yang merupakan simbol agama Islam, bisa-bisa orang tersebut tergolong kepada barisan orang-orang murtad. Syeikh Al Bahuti berkata:

Baca Juga:  Menyembelih Hewan Kurban untuk Orang yang Sudah Meninggal, Bagaimana Hukumnya?

اِذَا أَتَى بِقَوْلٍ اَوْ فِعْلٍ صَرِيْحٍ فِي اْلإِسْتِهْزَاءِ بِالدِّيْنِ شَرَعَهُ اللهُ كَفَرَ

Artinya: Apabila seseorang melakukan dengan ucapan atau perbuatan yang jelas dalam merendahkan simbol-simbol agama yang telah disyariatkan oleh Allah, maka hukumnya kafir (Ad Durorul Bahiyah Minal Fatawa Al Kuwaitiyah)

Dan sampai sekarang, tidak ada seorang pun yang menolak bahwa masjid adalah simbol Islam yang disyariatkan oleh Allah swt dan Rasul_Nya.

Jika kita telusuri secara mendalam, seperti pendapat kedua yang lebih kuat dibanding pendapat yang pertama. Sebab para ulama dalam membolehkan tarian di dalam masjid jika tarian itu ada kemaslahatan pada Islam. Tarian yang dilakukan oleh orang-orang Habsyah di masjid Rasulullah saw tidak lain adalah tarian memainkan pedang dalam rangka berperang melawan kafir harbi. Imam As Suyuti berkata:

إِنَّ لَعْبَ الْحَبَشَةِ كَانَ بِالسِّلَاحِ وَاللَّعْبُ بِالسِّلَاحِ مَنْدُوْبٌ إِلَيْهِ لِلْقُوَّةِ عَلَى الْجِهَّادِ

Artinya: Sesungguhnya tariannya orang-orang Habasyah itu menggunakan senjata, tarian menggunakan senjata hukumnya sunnah karena dapat menguatkan dalam berjihad (Hasyiyah As Suyuti)

Tarian semacam itu tentu hukumnya boleh, karena terdapat manfaat bagi agama Islam. Al Muhlab berkata:

وَاللَّعْبُ بِالْحِرَابِ مِنْ تَدْرِيْبِ الْجَوَارِحِ عَلَى مَعَانِي الْحُرُوْبِ وَهُوَ مِنَ الْإِشْتِدَادِ لِلْعَدُوِّ وَالْقُوَّةُ عَلَى الْحَرْبِ فَهُوَ جَائِزٌ فِي الْمَسْجِدِ

Artinya: Tarian dengan tombak dalam rangka latihan melukai dalam peperangan adalah termasuk memperkuat melawan musuh. Memperkuat dalam peperangan boleh dilakukan di dalam masjid (Ad Durorul Bahiyah Minal Fatawa Al Kuwaitiyah)

Artinya, tarian-tarian di dalam masjid yang diperbolehkan apabila terdapat kemaslahatan bagi agama, apapun jenis tarian itu, apakah tarian melatih melukai atau berdzikir. Oleh sebab itu jika tarian tersebut hanya sekedar kesenangan saja, maka hukumnya haram bahkan bisa sampai kepada tingkatan murtad jika diniati merendahkan masjid.

Baca Juga:  Kaidah Fikih: Hasil Tak Mendustai Proses

 

Wallahu alam

Bagikan Artikel ini:

About Ernita Witaloka

Mahasantri Ma’had Aly Nurul Qarnain Sukowono Jember Takhassus Fiqh Siyasah

Check Also

shalat rebo wekasan

Dalil Shalat Rebo Wekasan, Apakah Ada ?

Sebagian ahlul kassyaf menjelaskan bahwa pada rabu terakhir dari bulan Safar, Allah Swt. akan menurunkan …

kitab ilmu pengetahuan

Hukum Membakar Kitab Ilmu Pengetahuan

Lagi-lagi Islam dihebohkan dengan konten video yang memberikan kerugian dalam Islam sendiri. Sebelumnya sempat ramai …