shaf shalat
shaf shalat

Viral Imam Serukan Wajib Rapatkan Shaf Shalat, Bagaimana Hukum Sebenarnya?

Semenjak Covid-19 dinyatakan menjadi wabah layaknya tha’un, ada pemandangan yang tak sewajarnya terlihat di beberapa masjid di Indonesia, khususnya daerah yang berada dalam zona merah (danger zone). Sebelumnya shaf jamaah rapat, lurus dan rapi, namun saat ini menjadi renggang, terkadang berbelok dan tak beraturan.

Baru baru ini, dilansir dari suara.com beredar sebuah video viral dari media sosial memperlihatkan seorang pria meminta jamaah shalat untuk merapatkan shafnya (23/7/2021). Bahkan ia tidak akan memulai shalat jamaah jika masih ada shaf yang tidak rapat.

Bagaimana aturan  fikih soal shaf shalat? Apakah harus rapat dan lurus ataukah yang penting lurus walaupun tidak rapat. Lalu, bagaimana shaf shalat di tengah pandemi?

Syaikh Utsaimin mengatakan meluruskan shaf hukumnya sunnah. Standarisasi lurus menurut beliau adalah dari sisi atas adalah lurusnya bahu, dan dari sisi bawah adalah lurusnya tumit (mata kaki). Al-Mukhtashar Min al-Mumti’ Syarh zad al-Mustaqni’, 13/1

Menurut Imam ‘Ali, dikutip oleh Ibn Hazm meluruskan shaf hukumnya bukan sunnah tapi wajib (fardhu). Berdasarkan hadits

سووا صفوفكم ، فإن تسوية الصفوف من إقامة الصلاة

Luruskan shaf shaf kalian karena lurusnya shaf bagian dari menegakkan shalat. HR: Bukhari:702

Menurutnya, bila lurusnya shaf bagian dari menegakkan shalat, sementara menegakkan shalat itu hukumnya wajib, maka lurusnya shaf juga wajib. al-Muhalla, Ibnu Hazm, 3/25

Kok begitu? Karena sesuai kaidah fikih

ما لايتم الواجب إلا به فهو واجب

Artinya : Sesuatu yang menjadi penyebab tidak sempurnanya suatu kewajiban, maka sesuatu itu juga dihukumi wajib. Talqih al-Afham al-‘Aliyyah, Walid Ibnu Rasid al-Sa’idan, 3/20

Lalu bagaimana dengan shaf yang lurus tapi renggang? Dalam pandangan Jumhur al-Ulama’ bahwa shaf yang lurus tapi renggang sudah dianggap cukup memenuhi kesempurnaan shalat berjama’ah. Namun bagi Ibnu Taimiyyah, fatwa seperti itu salah kaprah. Menurutnya, shaf di samping harus lurus namun juga harus rapat. Artinya menurut Ibnu Taimiyyah wajib merapatkan shaf.

Baca Juga:  Penggusuran Makam demi Sebuah Proyek dalam Tinjauan Fikih

 Tidak bagi sayyid Sabiq, Sayyid Sabiq berkata: disunnahkan Imam menyuruh untuk meluruskan shaf dan mengisi shaf yang tidak rapat sebelum memulai shalat berjama’ah. Artinya, merapatkan shaf hukumnya hanya sunnah saja (lebih baik rapat shafnya, tidak rapatpun juga tidak apa apa (Fiqh al-Sunnah, 1/241. Al-Qaul al-Mubin Fi Akhtha’ al-Mushallin, 1/137)

Nabi bersabda:

عن أنس أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ” رصوا صفوفكم وقاربوا بينها وحاذوا بالأكتاف ، فوالذي نفسي بيده إني لأرى الشيطان يدخل من خلل الصف كأنها الحذف

Dari Anas sesungguhnya Rasulullah bersabda: rapatkanlah shaf (barisan dalam shalat berjamaah) kalian, dan dekatkanlah diantara shaf, dan luruskanlah bahu bahu kalian. Karena demi dzat yang jiwaku berada dalam kekuasaanNya, sesungguhnya aku mrlihat syaitan masuk dari celah celah shaf yang tidak rapat. Seakan akan shaf itu lalu menjadi terputus putus (HR: Ibnu Hibban: 2190).

Dua fatwa yang berbeda ini jelas akan melahirkan dilema di kalangan umat. Membingungkan umat. Sepintas memang ya, membingungkan, namun sebenarnya, dua fatwa ini bisa diaplikasikan pada saat  dan kondisi yang berbeda. Bahasanya Imam al-Sya’rani “faruji’al amru ila martabatail mizal”.

Bagi umat yang berada di zona merah (danger zone) pamdemi covid 19, bisa mengambil dan menerapkan fatwa yang mengatakan shaf yang renggang tetapi lurus sudah dianggap cukup sebagai kesempurnaan shalat berjamaah.

Bagi umat yang berada di zona kuning (alert zone) pamdemi covid 19 bisa mengambil dan menerapkan fatwa yang mengatakan shaf sunnah dirapatkan sebagai kesempurnaan shalat berjamaah. Bagi umat yang berada di zona hijau (safe zone) pamdemi covid 19 Bisa mengambil dan menerapkan fatwa yang mengatakan shaf wajib rapat dan lurus sebagai kesempurnaan shalat berjamaah.

Baca Juga:  Membedakan Darah Haid dan Istihadhah

Jika disimpulkan, maka sejatinya, yang dharuriy (tak bisa disangkal, pasti dan harus) shaf shalat itu harus lurus, sebagai gambaran kedisiplinan dalam satuan komando. Sementara rapatnya shaf hanyalah sekedar tahsiniy yang tak harus dipenuhi. Hal yang penting pula yang dharury adalah menjaga keselamatan jiwa. Jika keselamatan jiwa terancam dengan adanya kerumunan tanpa jarak, sejatinya keselamatan jiwa itu lebih diutamakan dari pada kesunnahan merapatkan shaf shalat.

Wallahu a’lam

Bagikan Artikel ini:

About Abdul Walid

Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo

Check Also

doa iftitah

Menyanggah Ustadz Adi Hidayat yang Berulah tentang Doa Iftitah

“iini wajjahtu itu, kalau Anda teliti kitab haditsnya, itu bukan doa iftitah, tapi doa setelah …

akhlak

Ciri Gagal Beragama : Mementingkan Iman dan Syariat, Mengabaikan Akhlak

Di negeri yang seratus persen menjalankan agama secara kontinu, namun ironis, Tindakan korupsi makin menjadi …