waqaf
waqaf

Hukum Wakaf Non Muslim Menurut Syeikh Zakaria al Anshari

Dalam Islam, wakaf adalah investasi dengan laba paling banyak, bahkan sampai meninggal dunia sekalipun harta wakaf tetap memberikan manfaat kepada wakif. Yaitu, suatu laba pahala yang tidak terputus sekalipun orangnya telah meninggal dunia. Istilah yang sering dipakai adalah amal jariyah (amal yang pahalanya mengalir terus-menerus).

Umat Islam sangat dianjurkan untuk berwakaf. Sebab, selain memiliki nilai pahala berlimpah dan tidak putus, juga sangat bermanfaat untuk syiar agama. Misalnya, mewakafkan sebidang tanah untuk dibangun masjid, mushalla, madrasah dan untuk sarana kebaikan yang lain.

Imam Zakaria bin Muhammad bin Zakaria al Anshari, masyhur dengan Zakaria al Anshari, dalam kitabnya Asnal Mathalib fi Syarhi Raudhit Thalib, pada juz II halaman 457 beliau menulis tentang hukum non muslim mewakafkan sebidang tanah untuk masjid.

Pengertian Syariat Wakaf

Sebelum membahas hal tersebut, beliau lebih dulu membahas tentang definisi wakaf. Tulisnya, secara bahasa wakaf berarti “menahan”. Sedangkan secara istilah (fikih) adalah menahan harta benda untuk diambil manfaatnya,  dilarang untuk ditasharrufkan (disewakan, dan lain-lain) dan harta benda tersebut tidak berubah. Tujuannya pemanfaatan harta tersebut tidak lain adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Dasar disyariatkannya wakaf adalah hadis Nabi riwayat Imam Muslim “Apabila manusia meninggal dunia seluruh amalnya terputus, kecuali tiga hal; shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendoakannya”.

Wakaf menurut para ulama, diantaranya Imam Rafi’i, masuk dalam kategori amal jariyah. Karenanya, wakaf menjadi ibadah yang sangat dianjurkan. Dalam sejarah Islam, Umar bin Khattab tercatat sebagai muslim pertama yang melakukan ibadah wakaf.

Dari Abdullah Ibnu Umar, ia menceritakan, “Umar bin Khattab mendapatkan bagian tanah perkebunan di Khaibar, lalu ia datang menemui Nabi untuk meminta saran, ia berkata, “Wahai Rasulullah, saya mendapat bagian tanah perkebunan di Khaibar, dan saya belum pernah mendapat harta yang sangat saya banggakan seperti kebun itu, maka apa saran anda tentang harta tersebut”?. Rasulullah menjawab: “Jika kami mau, peliharalah pohonnya, dan sedekahkan hasilnya. Ibnu Umar berkata: “Kemudian Umar menyedekahkan tanah tersebut, pohonnya tidak dijual, begitu pula buahnya juga tidak dijual, tidak diwariskan dan tidak dihibahkan”.

Baca Juga:  Tata Cara dan Bacaan Niat Puasa Ramadhan

Menurut pendapat yang masyhur, berdasar hadis riwayat Imam Muslim di atas, Umar bin Khattab adalah muslim pertama yang mempraktekkan ibadah wakaf.

Wakaf Non Muslim

Bagaiman kalau yang mewakafkan adalah non muslim? Kalau wakif adalah muslim tentu tidak ada masalah secara hukum fikih. Tetapi, bagaiman kalau wakif tersebut non muslim? Secara fikih sah atau tidak?

Lanjut Syaikh Zakaria al Anshari, apabila ada non muslim mewakafkan sebidang tanah untuk masjid hukumnya sah, meskipun ia memiliki keyakinan bahwa perbuatannya tersebut bukan sebagai upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Berdasarkan keterangan ini, seandainya di suatu tempat ada non muslim yang ingin mewakafkan sebidang tanah untuk kepentingan umat Islam, seperti untuk membangun masjid, mushalla, madrasah dan lain-lain, hendaklah diterima. Disamping sah secara hukum fikih, juga bisa mengikat lebih erat tali persaudaraan sebangsa dan terbinanya persaudaraan antar sesama yang lebih harmonis meskipun beda agama.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

Allah mengabulkan doa

Cara Allah Mengabulkan Doa Hambanya

Apakah semua doa hamba kepada Rabbnya akan dikabulkan? Kita harus yakin bahwa doa yang kita …

puasa syawal

Istri Puasa Sunnah Syawal, Tetapi Suami Tidak Mengizinkan?

Sebagaimana maklum diketahui, puasa Ramadhan ditambah puasa sunnah enam hari bulan Syawal pahalanya sama seperti …