hukum penista agama
youtuber muhammad kece

Hukuman bagi Penista Agama dalam Perspektif Fikih

Hukuman apa yang tepat menurut Fiqh bagi penista agama ? Ini pertanyaan yang seringkali menggelinding dalam benak umat Islam ketika agamanya dicaci maki. Apapun bentuknya, caci maki tetap tidak memberikan dampak yang baik, justru hanya saling menyakiti antar agama. Sebagai  akibatnya, orang yang melakukan penistaan terhadap suatu agama haruslah ditindak secara serius dan tegas agar perbuatan yang sama tidak terulang kembali.

Hari-hari belakangan ini viral nama Muhammad Kece dengan video diskusinya yang diupload dalam media sosial. Dalam unggahan videonya itu, Muhammad Kece terang-terangan menghina Nabi Muhammad saw dengan mengatakan Nabi Muhammad saw kerasukan jin. Bukan hanya itu, ia juga menilai kitab kuning yang menjadi pelajaran pokok Pondok Pesantren sebagai sumber radikalisme dan terorisme. Spontan pernyataan tersebut merespon amarah umat Islam Indonesia, karena Nabi Muhammad saw dan kitab kuning adalah simbol agama Islam.

Sebab itu Muhammad Kece terjerat hukum pasal 156a tentang larangan penodaan terhadap agama.

Bagaimana menurut Fiqh ?

Di dalam al Qur’an ayat 108 surat al An’am, Allah swt berfirman:

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللهِ فَيَسُبُّوا اللهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

Artinya: “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan” (QS. Al An’am: 108)

Firman Allah swt ini dengan jelas melarang umat Islam untuk tidak mencaci simbol-simbol agama orang lain. Dari ayat ini juga, ada makna tersembunyi yang sangat penting diresapi, yaitu mencaci simbol-simbol milik orang lain, akan berpotensi orang lain mencaci balik. Dan hal tersebut tidak sukai oleh Allah swt terhadap umat Muhammad saw.

Dari ayat ini, As Syaukany dalam Fathul Qadirnya menyimpulkan:

Baca Juga:  Halal Haram Ucapan Selamat Natal

وَفِي هَذِهِ الْآيَةِ دَلِيْلٌ عَلَى أَنَّ الدَّاعِيَ إِلَى الْحَقِّ ، وَالنَّاهِيَ عَنِ الْبَاطِلِ ، إِذَا خَشِيَ أَنْ يُتَسَبَّبَ عَنْ ذَلِكَ مَا هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ مِنِ انْتِهَاكٍ حَرُمَ

Artinya: “Dari ayat ini adalah dalil bahwa mengajak kebaikan dan melarang kepada perbuatan batil jika berpotensi kepada dicaci yang lebih parah maka termasuk perbuatan yang rusak dan hukumnya haram”[1]

Dari pendapat As Syaukani ini, perbuatan baik bisa berdampak hukum haram jika berpotensi akan terjadi keburukan kepada pelakunya. Menghina agama non Islam mungkin saja itu perbuatan baik, jika diniati untuk mengagungkan dan memenangkan syiar Islam. Tetapi hukumnya tetap haram dan dibenci oleh Allah swt karena berpotensi agama non muslim menghina balik terhadap Islam.

Sebab itu, ulama’ Komite Fatwa Kuwait menegaskan keharaman menghina simbol-simbol agama non muslim karena mafsadah yang akan diterima jauh lebih besar dibanding maslahah yang diperoleh bagi umat Islam[2].

Bagaimana menghina agama Islam ?

Dalam Fatawa al Azhar, ulama’ sepakat bahwa siapa saja yang menghina agama Islam, hukum murtad dan kafir.

مَنْ يَلْعَنُ الدِّيْنَ كاَفِرٌ مُرْتَدٌّ عَنْ دِيْنِ الْإِسْلَامِ بِلَا خِلَافٍ

Artinya: “Barangsiapa yang melaknat agama Islam, maka hukumnya kafir dan murtad dari agama Islam tanpa ada perbedaan pendapat”[3]

Hukuman apa bagi penista agama menurut Fiqh ?

Seperti yang disampaikan sebelumnya, penista agama hukumnya termasuk perbuatan haram, bahkan bisa hukum murtad bila menghina agama Islam. Dalam Fiqh, hukum dilaksanakan agar pelaku menjadi jera dan tidak mengulangi perbuatan yang sama. Sehingga jika hukuman butuh kepada tindakan keras, maka perlu untuk kepada yang keras.

Begitu juga terhadap penista agama, jika hukuman penjara 5-6 tahun sudah cukup membuat jera pelaku, maka tidak perlu melakukan hukuman yang lebih berat lagi seperti membunuhnya. Namun jika hal tersebut tetap saja tidak memberikan efek apapun, maka boleh pada tingkatan membunuh[4].

Baca Juga:  Fikih Gender (11) : Perempuan Menunaikan Ibadah Haji Tanpa Suami

[1] As Syaukani, Fathu al Qadir, Juz 2, Hal 461

[2] Al Mausu’ah al Fiqhiyah al Kuwaitiyah, Juz 28, Hal 188

[3] Fatawa al Azhar, Juz 6, Hal 64

[4] Ibn Qasim al Ghazi, Fathul Qarib, Hal 77

Bagikan Artikel ini:

About Ernita Witaloka

Mahasantri Ma’had Aly Nurul Qarnain Sukowono Jember Takhassus Fiqh Siyasah

Check Also

shaf shalat jamaah

Ma’mum Shalat Jangan Salah Tempat dalam Membaca Fatihah !

Dalam madzhab Syafi’i, membaca Fatihah dalam shalat hukum wajib, karena termasuk rukun shalat. Kewajiban ini …

melagukan adzan

Hukum Melagukan Adzan

Sudah tabiat manusia ingin selalu terlihat lebih indah, baik dalam berpakaian, bertingkah, begitu juga dalam …