Ada ungkapan yang sering kita dengar yakni “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.” Ungkapan ini bermakna bahwa setiap tindak tanduk seorang anak makan tak akan jauh dari perilaku orang tuanya. Ungkapan ini benar, tetapi tidak sepenuhnya berlaku terutama dalam kisah Ikrimah bin Abu Jahal.

Dilihat dari namanya Ikrimah merupakan putra ‘Amr bin Hisyam atau biasa kita dengar dengan nama Abu Jahal. Abu Jahal merupakan tokoh Quraisy yang terkenal sangat memusuhi Rasulullah dan dakwah Islam di Makkah. Bahkan Abu Jahal tidak segan melukai dan menyiksa para pengikut Rasulullah. 

Ikrimah merupakan seorang bangsawan Quraisy yang disegani dan berasal dari keturunan ningrat. Ia dikenal sebagai pemuda Quraisy yang gagah berani dan mahir dalam berkuda. Pada mulanya, ia memusuhi Rasulullah karena melihat ayahnya yang begitu keras membenci Rasulullah. Karena alasan itulah Ikrimah turut memusuhi Rasulullah. 

Kala itu Ikrimah mengikuti perang Badar, ia berada tepat di sisi ayahnya. Dalam perang inilah, Ikrimah melihat Abu Jahal tewas di depan matanya. Hatinya merasa sakit, sejak itu Ikrimah menyimpan dendam terhadap pasukan Muslim. Usai Perang Badar, Ikrimahpun bersumpah untuk membalaskan kematian ayahnya. 

Dalam Perang Uhud, ia didampingi oleh istrinya Ummu Hakam. Ikrimah terus berupaya memperkuat mental orang-orang Quraisy. Perjuangannya dalam perang ini tidak sia-sia. Banyak pejuang Islam yang gugur dalam pertempuran. Bahkan Rasulullahpun mengalami luka-luka yang serius. Inilah momentum Ikrimah melampiaskan dendam kematian ayahnya. 

Namun, saat Perang Khandaq terjadi, pasukan Quraisy tidak menyangka kaum Muslim menggunakan strategi Persia yang belum pernah mereka jumpai. Mereka harus menghadapi parit yang cukup dalam, yang mencegah akses menuju pusat Madinah. 

Pasukan Quraisypun hanya bisa menunggu di seberang parit (khandaq) selama berhari-hari hingga akhirnya Ikrimah mulai merasa bosan. Dengan persiapan yang belum matang, ia berupaya menembus blokade parit. Namun, upaya ini sia-sia. Pasukan musrikin kalah dan Ikrimah salah satu orang yang berhasil melarikan diri dari hujan panah yang datang dari pasukan Muslim.

Karena takut dihukum mati, Ikrimah memutuskan untuk kabur ke Yaman. Begitu tahu kekalahan suaminya itu, Ummu Hakam memohon kepada Rasulullah SAW agar mengampuni Ikrimah. Rasulullah memenuhi permohonan itu. Maka Ummu Hakam pun berangkat menyusul Ikrimah.

Setelah bertemu dengan Ikrimah di tempat pengasingannya, Ummu Hakam membujuk suaminya agar mau kembali ke Makkah. Ia juga mengabarkan bahwa Rasulullah telah mengampuni dan memaafkannya. Ajakan istrinya pun ia penuhi. 

Ketika Ikrimah dan istrinya memasuki majelis Rasulullah, beliau menyambutnya dengan gembira. Ketika Rasulullah duduk kembali, Ikrimah duduk pula di hadapan beliau dan mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai tanda keislamannya. 

Sejak itu, Ikrimah mulai mengikuti dakwah. Ia bergabung dalam anggota pasukan berkuda yang cekatan dan gagah berani di medan perang. Di samping itu, Ikrimah juga menjadi seorang ahli ibadah dan pembaca Alquran yang tekun di masjid.

Ketika terjadi Perang Yarmuk, Ikrimah ikut maju dalam peperangan. Ikrimah mengobarkan semangat kepada para pejuang muslim, dan sebagian kaum muslim mengambil langkah untuk mendampingi Ikrimah. Mereka berada pada barisan depan, kaum musliminpun mulai menerjang musuh-musuh yang ada di depan mereka.

Meski banyaknya korban dari pasukan muslim, namun mereka berhasil memukul mundur pasukan Romawi dengan kemenangan yang gemilang. Di akhir pertempuran terlihat Ikrimah bin Abu Jahal sedang dalam keadaan kritis. Ia merasa sangat haus karena kelelahan. Namun sayang ketika Ia hendak diberikan minum, nyawanya sudah tidak tertolong.

Kematian Ikrimah merupakan tanda keimanan sejati. Dengan penuh kesadaran ia menyadari besarnya dosa yang selama ini ia perbuat sehingga membuatnya bertekad untuk menebus dosa dengan sholat, puasa, berinfak serta berjihad di jalan Allah.

Ikrimah adalah contoh dari beberapa anak pembesar Quraisy yang pada akhirnya memilih Islam sebagai jalan hidup dan perjuangannya. Meskipun pada mulanya ia sangat membenci Islam dan Rasulullah karena pengaruh ayahnya, Ia pun menebus kebencian itu dengan rasa cinta dan perjuangannya bersama Islam dan Rasulullah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.