imam besar al azhar mesir syekh ahmad el tayyeb  140805104540 630
imam besar al azhar mesir syekh ahmad el tayyeb 140805104540 630

Imam Besar Al-Azhar: Pernyataan Macron Dapat Memicu Kebencian Dan Lahirkan Terorisme

KAIRO – Beberapa waktu lalu, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengemukakan akan melawan separatisme dan mencoba memasukkan Undang-undang baru untuk membatasi pendanaan masjid serta sekolah-sekolah yang berhubungan dengan Islam di Prancis.

Pidato yang kemudian mendapatkan banyak kecaman dan dianggap sebagai sebuah bentuk menyebarkan benih-benih kebencian di Prancis. Salah satu tokoh yang bersuara lantang yaitu Imam Besar Al-Azhar Ahmed Al-Tayyeb menyatakan bahwa pernyataan Macron sangat berbahaya karena dapat mengakibatkan perilaku tidak beradab terhadap Islam, membangun budaya kebencian dan rasialisme, serta melahirkan terorisme.

Dikutip dari laman republika.co.id El-Tayyeb juga mengutuk apa yang disampaikan Marcon dalam pidatonya sebagai pernyataan tidak bertanggung jawab, yang dibuat baru-baru ini tentang Islam. Kecaman El-Tayyeb ini telah diunggah di halaman Facebook dalam bahasa Arab, Inggris, dan Prancis.

Dalam pidatonya yang kontroversial minggu lalu, Macron mengumumkan Prancis telah menerapkan strategi untuk berperang melawan separatisme di negerinya. Macron juga berencana mengajukan rancangan undang-undang (RUU) ke parlemen Prancis pada awal tahun nanti untuk mengatasi masalah separatisme tersebut.

Menurut El-Tayyeb, pernyataan itu dibuat untuk mendapatkan keuntungan politik dengan mengkambinghitamkan agama Islam. Karenanya, El-Tayyeb memperingatkan dampak dari pernyataan Macron tersebut dapat membangun budaya kebencian dan rasialisme serta melahirkan terorisme.

Dalam RUU tersebut, akan ada kontrol yang lebih ketat atas pendanaan untuk masjid-masjid di Prancis. Macron juga akan membatasi sekolah di rumah untuk mencegah anak-anak diindoktrinasi di sekolah yang tidak terdaftar yang menyimpang dari kurikulum nasional.

RUU tersebut juga melarang imam dari negara Turki, Maroko, dan Aljazair melatih ulama Prancis kelompok Ikhwanul Muslimin. Menurut Macron, para imam akan dilatih di Prancis sehingga mereka bisa belajar bahasa dan hukum negaranya.

Baca Juga:  Ramai di Medsos Perempuan Haid Bisa Tetap Berpuasa, PBNU: Haid Dilarang Puasa!

“Ada krisis Islam di mana-mana, yang dirusak oleh bentuk-bentuk radikal. Masalah muncul ketika ideologi mereka mengklaim hukumnya sendiri harus lebih tinggi dari hukum republik,” kata Macron.

Macron menambahkan, dia berusaha membangun Islam yang tercerahkan di Eropa. Dalam sebuah pernyataan pada Sabtu, Akademi Riset Islam Al-Azhar, yang bekerja untuk mereformasi budaya Islam dan menjaganya dari intoleransi politik dan ideologis, mengatakan Macron telah mengarahkan tuduhan palsu yang tidak ada hubungannya dengan konteks agama yang sebenarnya.

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

kisah nabi adam

Begini Kisah Wafatnya Nabi Adam dan Permintaan Terakhirnya

Jakarta – Nabi Adam AS merupakan manusia pertama yang diciptakan oleh Allah SWT. Nabi Adam …

Paham radikalisme pernah menyaru dengan pariwisata pantai di Garut selatan Salah satunya di Desa Mekarwangi Cibalong Yuk lihat keseharian warga Cibalong Pradita Utamadetikcom

Thogutkan Pancasila, Masuk Surga Cukup Bayar Rp 25 Ribu

Garut – Penyebaran paham radikal sudah seperti virus Covid- 19, menyebar dan menyusup ke berbagai …