penyebab malas beribadah

Ingat 3 Hal ini agar Tidak Menunda Ibadah Karena Perkara Dunia

Semua makhluk yang diciptakan Allah itu diwajibkan beribadah kepadaNya. Termasuk manusia, yang diciptakan belakangan. Selain ibadah, manusia juga harus mematuhi perintah dan menjauhi larangan yang ditetapkan oleh sang Khaliq. Sebagaimana yang telah diterangkan di dalam Al-Qur’an surat Adz-Dzariyat ayat 56-57 :

وما خلقت الجن والإنس إلا ليعبدون (56) مَا أُرِيْدُ مِنْهُمْ مِنْ رِّزْقٍ وَمَآ أُرِيْدُ أَنْ يُطْعِمُوْنِ (57) (الذَّارِيَات : 56-57)

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan”.

Ayat di atas secara tegas menjelaskan bahwa ibadah untuk bekal kehidupan akhirat itu menempati posisi utama dari pada pekerjaan duniawi untuk dikerjakan. Jadi sesungguhnya manusia tak punya alasan untuk menunda ibadah karena ingin menuntaskan perkara duniawi dulu. Dalam surat Adl-Dluha ayat  4, Allah pun sudah menjelaskan keutamaan akhirat yang abadi dari pada dunia yang bersifat sementara.

وَلَلْأَخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الأُوْلى  (الضُّحَى : 4)

“Dan sesungguhnya kehidupan akhirat itu lebih baik bagimu dari pada kehidupan dunia.”

Melihat fenomena di masyarakat, kita sering menyaksikan orang-orang yang tidak menunda ibadah wajib sampai benar-benar mereka lalai akan kewajibannya seperti shalat, puasa Ramadhan, zakat atau beramal saleh lainnya. Mereka asyik dengan urusan duniawi seperti bekerja, bisnis, bermain dan nongrong-nongkrong di cafe.  Padahal Allah dalam ayat di atas sudah memberikan “kunci kehidupan” supaya kita mendapatkan keselamatan.

Ingat 3 hal ini

Oleh karenanya, dalam kesempatan ini, penulis mengajak kita semua untuk kembali mengingatkan 3 hal penting di bawah ini. Hal ini diperlukan supaya kita semua tak lagi menunda-nunda ibadah dan lebih mementingkan perkara duniawi.

Baca Juga:  Cinta Butuh Logika, Jangan Membabi Buta

1. Sadar bahwa ajal akan menjemput dengan tiba-tiba

Tak satupun orang yang mengetahui kapan dirinya akan dicabut nyawanya. Makanya banyak orang yang belum benar-benar siap untuk mati. Malaikat pencabut nyawa tak akan berbelas kasih kepada siapapun. Mau dia masih miskin, belum tercapai impiannya atau ia masih muda, hal tersebut tak jadi penghalang. Semuanya tak tahu apakah dia akan hidup sampai sukses, impiannya tercapai, sampai pensiun atau kaya raya. Karena ajal itu hanya Alloh-lah yang mengetahuinya, Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat An-Nisa’ ayat 78 :

أَيْنَمَا تَكُوْنُوْا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِى بُرُوْجٍ مُشَيَّدَةٍ …(78) (النِّسَآء : 78)

“Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu kendatipun kamu berada didalam benteng yang tinggi lagi kukuh.”

2. Yang ditunda bukan ibadah tapi perkara dunia

Sangat rugi sekali orang yang bersungguh-sungguh dengan meluangkan segala waktu, tenaga dan hartanya hanya untuk urusan dunia. Di sisi lain, ia malah lalai dengan menunda sampai ia tak beribadah atau beramal saleh untuk bekalnya di akhirat. Padahal Allah sudah menjamin kehidupan dunianya ketika ia mau mendahului ibadah atau amal salehnya. Ibnu Atho’illah dalam hal ini berkata :

إجْتِهَادُكَ فِيْمَا ضُمِنَ لَكَ، وَتَقْصِيْرُكَ فِيْمَا طُلِبَ مِنْكَ، دَلِيْلٌ عَلَى انْطِمَاسِ البَصِيْرَةِ مِنْكَ

“Kesungguhan di dalam perkara yang sudah di jamin dan kecerobohan didalam perkara yang dibebankan padamu adalah bukti atas butanya mata hatimu”.

3. Ibadah manusia itu bertujuan untuk mensucikan hati, menghapus dosa dan terhindar dari kemaksiatan

Poin ketiga ini sesungguhnya sudah berungkali kita semua dengar. Mulai shalat yang bisa menjaga kita berbuat keji, sodaqah yang bisa menolak bencana, zakat yang menghapus dosa atau perkara haram sampai puasa yang membuat kita terhindar dari kemaksiatan. Namun berulangkali pula kita menunda ibadah di atas dan pada akhirnya kita melakukan perbuatan keji dan kemaksiatan.

Baca Juga:  Tujuh Hak Istri atas Suami

Dalam hal ini, petugas pelayanan publik seperti guru, polisi, ASN dan pejabat pemerintahan jangan sampai menunda ibadahnya, apalagi sampai melalaikannya. Ini bisa berdampak baik kepada kinerjanya yang diharapkan bisa mewujudkan kebahagiaan baik kehidupan pribadi maupun bermasyarakat.

Terakhir, perlu diketahui pula bahwa jiwa dan raga kita semua adalah milik Allah SWT. Maka sangat keliru sebagian orang yang mengira bahwa sebagian amal itu milik Allah dan sebagian yang lain itu milik manusia. Prasangka ini sebenarnya sangat bertentangan dengan apa yang kita ucapakan sehari-hari ketika shalat.

إنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

“Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku adalah milik Allah, Tuhan semesta alam”.

Bagikan Artikel ini:

About M. Alfiyan Dzulfikar

Avatar of M. Alfiyan Dzulfikar

Check Also

penyebab doa tidak terkabulkan

4 Penyebab Doa Tidak Terkabulkan Menurut Hadist Nabi Muhammad SAW

Doa itu termasuk salah satu ibadah yang sakral, namun unik. Sakralnya, dengan doa kita seakan …

mempelajari sejarah nabi

Faedah-Faedah Mempelajari Sejarah Nabi Muhammad SAW

Mempelajari sejarah adalah upaya untuk mengetahui apa saja yang ada pada waktu lampau tertentu. Misalnya …