Batal Puasa

Ingin Tahu Puasamu Batal atau Tidak? Ini Kaidah Fikih Tentang Hal yang Membatalkan Puasa

Yang membatalkan puasa, seperti termaktub dalam kitab-kitab fikih, diantaranya makan, minum, persetubuhan, dan aktivitas yang semakna dengan ketiganya. Sehingga dalam praktiknya yang dapat membatalkan puasa banyak sekali.

Supaya lebih mudah untuk mengetahui sesuatu yang membatalkan puasa, para ulama kemudian mencoba membuat kaidah umum sebagai alat deteksi pembatal puasa. Tapi, sebagaima lazimnya kaidah fikih, tentu ada yang dikecualikan dari kaidah-kaidah tersebut.

Kaidah pertama ditulis oleh al Kasani dalam al Bada’i, “Puasa menjadi batal karena sebab sesuatu yang masuk (ke dalam tubuh), tidak karena sebab sesuatu yang keluar (dari dalam tubuh).

Secara umum yang membatalkan puasa adalah karena masuknya benda  ke dalam tubuh melalui lubang-lubang (jauf) yang ada pada tubuh, yakni, mulut, hidung, telinga, dan kemaluan. Benda yang masuk ke dalam tubuh melalui lubang-lubang tersebut bisa membatalkan puasa apabila melewati batas yang telah ditetapkan oleh para ulama. Pada mulut misalnya, benda yang masuk melalui mulut bisa membatalkan puas bila telah melewati kerongkongan.

Ada beberapa kasus yang dikecualikan oleh kaidah ini. Diantaranya muntah dengan sengaja adalah membatalkan puasa. Muntah berarti keluar dari tubuh. Namun secara umum, yang membatalkan puasa adalah kerena sebab sesuatu yang masuk, bukan karena sesuatu yang keluar dari tubuh.

Kaidah kedua ditulis oleh Imam Nawawi dalam Raudhatu al Thalibin, “Barometer batal dan tidaknya puasa adalah sampainya suatu benda ke dalam rongga (perut) atau otak melalui lubang yang asli”. Seperti hidung, telinga dan dubur.

Pada kaidah kedua ini, kata kuncinya adalah melalui lubang asli pada tubuh, yaitu mulut, hidung, telinga dan dubur. Dari sini bisa dipahami, bila sesuatu benda masuk ke dalam tubuh tidak melewati lubang yang asli maka tidak membatalkan puasa.

Baca Juga:  Anda Pengantin Baru, Ini Doa Malam Pertama

Kaidah ketiga ditulis oleh Imam Nawawi juga dalam al Majmu’ Syarh al Muhaddzab. “Aktivitas makan membatalkan puasa. Baik makan sesuatu yang biasa dimakan atau tidak biasa dimakan, mengenyangkan atau tidak”.

Contohnya adalah makan biji-bijian, kayu, rumput, kerikil dan benda-benda yang tidak lumrah dimakan. Ini yang disebut dalam kitab-kitab fikih dengan istilah yang semakna dengan makan.

Kaidah keempat ditulis oleh Imam al Syairazi dalam al Tanbihnya. “Yang semakna dengan jima’ (persetubuhan)  membatalkan puasa”. Seperti, menggauli istri bukan pada kemaluannya sampai keluar sperma. Demikian juga meraba, mencium, menyentuh tubuh istri dengan syahwat sampai keluar sperma.

Kaidah kelima kembali ditulis oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Raudhatu al Thalibin. “Sampainya atsar (efek) suatu benda kedalam tenggorokan tidak membatalkan puasa”. Yang membatalkan adalah benda, bukan efek benda tersebut.

Lima kaidah umum di atas merupakan standar umum sesuatu yang membatalkan dan yang tidak membatalkan. Dengan demikian, mudah bagi kita untuk menjaga supaya puasa yang kita jalani tidak batal. Serta tidak ragu ketika melakukan aktivitas tertentu apakah membatalkan atau tidak.

Bagikan Artikel

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo