Muslim Amerika
Muslim Amerika

Washington DC – Masih dalam rangka peringatan HUT ke-244 Amerika Serikat Program Pembibitan Penghapal Al Quran (PPPA) menggelar diskusi virtual mengenai Islam di Negeri Paman Sam. Diskusi itu  membasa berbagai hal tentang ajaran Islam di Amerika Serikat. Mulai syariat yang ditetapkan hingga sejarah perkembangannya.

Salah satu pembicara dalam diskusi itu adalah ustadz diaspora asal Indonesia, Hilman Fauzi. Ia dikenal sebagai ustadz muda yang sering membawakan acara keislaman di televisi Amerika.

Ustadz Hilman mulai tinggal di Amerika pada 2006 sebagai pelajar. Sepuluh tahun kemudian, ia kembali untuk bersafari dakwah, berturut-turut pada 2016 dan 2017. Ia mengatakan, pengalaman belajar dan berdakwah di Amerika Serikat membekalinya kepercayaan diri untuk menghadapi tantangan apa pun dalam berdakwah.

Di Amerika Serikat, Hilman berdakwah untuk warga negara Indonesia. Hanya sedikit orang Amerika yang hadir, dan kebanyakan adalah pasangan diaspora Indonesia.

“Jadi tidak langsung bisa berdialog secara keagamaan dengan orang-orang yang berbeda keyakinan,” kata Hilman Fauzi n, seperti dikutip dari VOA, Senin (13/7/2020).

Berdasarkan pengalamannya, Hilman mencatat tiga karakter orang Amerika. Pertama, sangat kritis. Sikap ini sempat menghentak Hilman. Pada sisi lain, ia mendapati orang Amerika mudah menerima argumentasi kalau bisa memahami apa yang disampaikan.

“Dari situ saya melihat bahwa berangkat pertanyaannya bukan dari apa, tetapi kenapa? Jadi sangat fundamental,” jelas Hilman.

Karakteristik kedua, lanjut dia, orang Amerika tidak mempertanyakan legalitas yang cenderung menghakimi orang lain, melainkan berdiskusi, mempertanyakan “bagaimana”, sehingga melihat isu dari berbagai “kacamata”. Menurut Hilman, ini menyadarkan untuk tidak memaksakan satu penilaian kepada orang lain.

Karakteristik ketiga, kata Hilman, menjunjung toleransi.

Sebelum berangkat ke Amerika, Hilman mengaku dibayangi hal tidak menyenangkan akan sikap orang terhadap Muslim. Setelah beberapa kali ke Amerika, ia mendapati orang Amerika sangat terbuka.

Ia ingat di Washington, Philadelphia, dan Phoenix melihat banyak gereja yang dibuka untuk salat Jumat. Ia mengaku rindu melihat toleransi seperti itu. Wujud toleransi lain di Amerika, Hilman menunjuk pesatnya pertumbuhan masjid. Bahkan kini ada pesantren pertama di Amerika, Nusantara Foundation, yang didirikan Imam Besar Masjid New York Ustadz Shamsi Ali.