peradaban islam
peradaban islam

Inilah Sosok Non Muslim yang Berkontribusi Membangun Peradaban Islam

Pada Masa Dinasti Abbasiyah Islam pernah menorehkan tinta emas kemajuan peradaban Islam. Pada saat itu Islam mencapai puncak kemajuan peradaban. Kejayaan Islam pada masa kekuasaan Abbasiyah ditandai dengan berkembang pesatnya ilmu pengetahuan, kebudayaan dan pendidikan.

Khalifah Al Ma’mun mendirikan Baitul Hikmah di Baghdad, Irak. Baitul Hikmah, selain menjadi perpustakaan terbesar saat itu, juga menjadi pusat penerjemahan buku-buku pengetahuan berbahasa Yunani, Persia, Suryani dan India. Proyek besar penerjemahan ini bisa dimaklumi sebab ilmu pengetahuan pernah lahir dan berkembang di negara-negara tersebut.

Alhasil, untuk merealisasikan kerja ilmiah tersebut Khalifah Al Ma’mun membutuhkan banyak cendikiawan dan kaum intelektual yang memiliki kemampuan dan pemahaman yang baik terhadap karya-karya ilmiah berbahasa Yunani, Persia, Suryani dan India.

Satu di antara pekerja penerjemahan tersebut bernama Abu Zaid Hunain bin Ishaq al ‘Ibadi. Di Eropa dikenal dengan nama Johannitius. Ia lahir tahun 809 M di Hira, sebuah kota yang terletak diantara Iran dan semenanjung Arab, wafat tahun 873 M. Ia hidup pada masa kekuasaan Khalifah al Ma’mun dari Dinasti Abbasiyah. Al I’badi merupakan sebutan bagi suku Arab yang konsisten memeluk agama Kristen di bawah kekuasaan Islam.

Abu Zaid Hunain bahkan tercatat sebagai pekerja ilmiah paling produktif dalam hal penerjemahan. Sedikitnya, ia telah menerjemahkan 161 karya ke dalam bahasa Arab dan Suryani. Lebih dari itu, karya-karya hasil buah tangan Abu Zaid Hunain memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dunia Islam.

Abu Zaid Hunain juga ditunjuk untuk mentahqiq karya-karya hasil penerjemah yang lain. Hal ini membuktikan kepiawaian dan penguasaan yang baik terhadap bahasa Yunani. Sarjana, dokter dan ilmuan tersebut juga ditunjuk sebagai penanggung jawab proyek penerjemahan di Baitul Hikmah.

Kealiman dan kepintaran Abu Zaid Hunain diakui oleh gurunya, Johanes bin Masweh. Pengakuan itu ditulis khusus dalam buku An Nadir al Thayyibah, sebuah karya yang didedikasikan khusus untuk sang murid. Karya itu hendak mengungkapkan, jarang di dunia ini seseorang seperti Abu Zaid Hunain.

Salah satu karyanya adalah Al ‘Asyara Maqalat fil ‘Uyun, sepuluh makalah tentang mata. Karya ini menjadi pintu masuk revolusi ilmiah tentang ilmu kedokteran mata kala itu.

Keterbukaan adalah Prinsip Islam untuk Kemajuan Peradaban

Abu Zaid Hunain bin Ishaq al ‘Ibadi hanya satu dari sekian orang yang berkontribusi terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam. Tentu masih ada sosok non muslim seperti Hunain yang luput dari catatan sejarah.

Kisah ini merupakan potret sejarah umat Islam yang terbuka untuk menerima kelompok lain sebagai satu kesatuan. Keterbukaan adalah kunci mencapai kemajuan peradaban Islam. Alhasil, untuk mencapai kemajuan peradaban harus mengesampingkan perbedaan yang ada.

Islam adalah agama yang tidak melarang umatnya untuk merajut hubungan dengan penganut agama lain. Bekerja sama dengan orang yang berbeda agama bukan sesuatu yang terlarang, bahkan dianjurkan.

Di Indonesia sejatinya umat Islam juga demikian. Bersikap terbuka menerima kelompok penganut agama lain, berhubungan baik dan saling bersinergi untuk membangun sebuah peradaban bangsa yang lebih maju. Kisah Abu Zaid Hunain bin Ishaq al ‘Ibadi merupakan contoh toleransi yang dipraktekkan oleh Khalifah al Ma’mun. Sehingga negara aman, damai, harmonis dan maju.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo dan Bendahara Umum divisi Politik, Hukum dan Advokasi di PC Fatayat NU KKR

Check Also

istri

Fikih Politik Perempuan (3): Haruskah Istri Menaati Suami dalam Pilihan Politik?

Harus diakui, perempuan masih menjadi kelompok rentan di negeri ini dalam segala bidang, tak terkecuali …

al-quran

4 Prinsip dalam al Qur’an Menangkal Corak Ekstremisme dalam Beragama

Tak bisa dipungkiri, fenomena ghuluw dalam beragama akhir-akhir ini menciptakan nuansa teror dalam masyarakat. Ghuluw …