Bertemu Ketum Muhammadiyah September Lalu, Wapres Asosiasi Muslim China Bantah Isu Muslim Uighur

Bertemu Ketum Muhammadiyah September Lalu, Wapres Asosiasi Muslim China Bantah Isu Muslim Uighur

Beijing – Kabar tentang adanya kamp konsentrasi terhadap muslim Uighur di Provinsi Xinjiang akhir-akhir ini ramai diberitakan, ternyata sudah pernah dibantah oleh pihak China. Itu terjadi saat Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir berkunjung ke China, September lalu.

Vice President China Islamic Assosiation, Abdullah Amin Jin Rubin menjelaskan, apa yang dikabarkan melalui berbagai media bahwa Muslim Uighur mendapatkan perlakuan tidak adil dan diskriminatif oleh pemerintah setempat adalah tidak benar. Menurutnya, kehidupan umat muslim,  baik di Tiongkok secara keseluruhan maupun di Uighur, memiliki kebebasan yang sama dan perlakuan pemerintah yang baik.

“Di Tiongkok terdapat 5 agama,  dan  perlakuan pemerintah terhadap kelima agama ini sama.  Termasuk kepada umat muslim.  Baik umat muslim yang ada di Tiongkok secara keseluruhan maupun umat muslim yang ada di Uighur.  Buktinya di sana (Xinjiang), di mana tempat suku Uighur berada,  terdapat 28.000 masjid dan 30.000 lebih imam shalat.  Bahkan di Xinjiang,  pemerintah ikut serta mendukung berdirinya islamic college.  Jadi kehidupan beragama umat muslim disana bagus saja”, tuturnya dikutip dari suaramuhammadiyah.id.

Sebelumnya,  Haedar Nashir sempat mempertanyakan simpang siur kondisi umat muslim,  khususnya di Xinjiang dalam kunjungan Ketua Umum PP Muhammadiyah dan rombongan di Assosiation Islamic Tiongkok,  Jumat (14/09/2018) lalu.  Menurut Haedar, selain berbicara tentang pentingnya kemitraan dua organisasi ini, yaitu Muhammadiyah dan Assosiation Islamic Tiongkok,  ketua Asosiasi Islam Tiongkok perlu menjelaskan kondisi kehidupan umat Muslim Uighur di Xinjiang.

Baca juga : Jadi Situs Penting, Makam Paman Nabi Diperluas Pemerintah Guangzhou

Sebelumnya, Kementerian Adminitrasi Urusan Agama Tiongkok telah memberikan jawaban, bahwa tidak adanya diskriminasi terhadap umat Muslim.  Namun karena jawaban tersebut keluar dari pemerintah yang kebetulan notabene non Muslim, ada anggapan bahwa jawaban tersebut hanya lips service dan menutupi fakta sebenarnya.

Sementara itu,  Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti melihat kondisi umat muslim di Uighur Xinjiang tidak seperti yang diberitakan.  “Hari ini kita mendapatkan informasi yang seimbang, yaitu dari pemerintah dan juga dari organisasi Islam.  Jadi saya pikir apa yang dikembangkan oleh media tertentu tentang Islam Uighur di Xinjiang,  berlebihan, walaupun ada perlakuan yang berbeda terhadap umat muslim disana,  tidak bisa diabaikan.  Akan tetapi kita tetap harus hati-hati, mengembangkan opini-opini yang tidak sesuai fakta,”  ungkap Mu’ti saat dihubungi terpisah.

Comment

LEAVE A COMMENT