India Cabut Status Otonomi, Umat Muslim Kashmir Terkekang Jelang Idul Adha

Kashmir – Situasi Kashmir makin tegang setelah India mencabut status otonomi negara bagian yang mayoritas dihuni umat Muslim itu. Kondisi Kashmir bisa diumpamakan seperti ‘bara dalam sekam’ yang siap meledak oleh perang saudara.

Bahkan menjelang Hari Raya Idul Adha yang jatuh pada tanggal 10 Dzulhijjah atau 10 Agustus 2019 ini umat Muslim masih terkekang karena telekomunikasi dibatasi hingga penahanan para pemimpin politik pro-India serta kekhawatiran perubahan demografi. Hal itu terjadi sepekan setelah pemerintah India memperingatkan kemungkinan adanya serangan militan yang berpusat di Pakistan. Pihak Pakistan menolak tuduhan itu.

"Kami tidak akan merayakan Idul Adha kali ini. Ini adalah situasi berkabung. Di bawah konspirasi yang terencana dengan baik, umat Islam di wilayah ini akan menjadi korban," kata seorang pengusaha Ahmed, dilansir Aljazirah dikutip via laman Republika.co.id, Kamis (7/8/2019).

Baca Juga: India Cabut Otonomi Kashmir, PM Pakistan Khawatir Bakal Ada Pembersihan Etnis Muslim

Sebelum India mencabut status istimewa (otonomi) Kashmir). Setelah keputusan itu, puluhan ribu pasukan India dikerahkan untuk mengekang potensi pemberontakan. Sekitar setengah juta pasukan sudah ditempatkan di sana.

Warga Kashimir dibatasi alat komunikasinya, dan pemerintah India juga memberlakukan pembatasan gerakan. Khawatir adanya pemberontakan massal, India memerintahkan para peziarah dan wisatawan Hindu pergi dari Khasmir. Pemerintah India menyebutnya ancaman teror.

Polisi menggeledah hotel dan rumah wisata meminta turis pergi. Polisi juga menyerukan imbauan perjalanan bagi warga Inggris, Jerman, Israel, dan Australia agar tidak berlibur di wilayah tersebut.

"Saya menghabiskan satu bulan di sini dan berteman dengan banyak orang. Perasaan saya mengatakan apa yang dilakukan pemerintah India adalah sesuatu yang bukan untuk kepentingan rakyat Kashmir," kata seorang turis AS kelahiran Kanada Rachel Jones (41 tahun).

Meski diusir dari Kahsmir, Jones memutuskan tetap kembali. Ia merasa kehadirannya sangat penting untuk menunjukkan solidaritas pada orang Kashmir.

Turis dari negara bagian Goa Anuja Bose kecewa karena rencana bepergian di wilayah Kashmir terpotong karena adanya imbauan pergi dari sana. "Sejauh ini, saya telah menjadi seorang musafir di lembah Kashmir. Orang-orang di sini luar biasa," kata Bose.

Baca Juga: Penghapusan Simbol Islam Bukti Penganiayaan Terhadap Muslim di China Terus Terjadi

Pemilik hotel menilai pemerintah India telah membunuh bisnis mereka di daerah yang memang ekonominya sudah tidak baik.

"Kami melakukan bisnis yang baik. Kini, tidak lagi," kata seorang pemilik wisma di lingkungan Dal Gate Jehangur Ahmed (33)

Sejak India merdeka dari jajahan Inggris 1947, Kashmir terpecah untuk dua pertiga India, sementara sisanya termasuk wilayah otoritas Pakistan. Keduanya dipisahkan oleh garis yang disebut Line of Control (LoC).

Wilayah Himalaya yang indah itu menjadi sengketa oleh India dan Pakistan, yang telah berperang dua kali sejak 1947. Pemberontak bersenjata dan pengunjuk rasa sipil menginginkan kemerdekaan Kashmir atau penggabungan dengan Pakistan melalui pemungutan suara umum yang didukung PBB. Pemberontakan berintensitas rendah terhadap pemerintahan India pun telah membara sejak tahun 1989 yang sejak itu  menyebabkan puluhan ribu orang yang kebanyakan warga sipil terbunuh.

Kendati demikian, Pakistan menegaskan, jika India mencoba mengubah demografi Kashmir dengan menempatkan lebih banyak orang India di sana, hal itu dapat mengubah hasil pemungutan suara di masa yang akan datang.

Comment

LEAVE A COMMENT