Lho, Kok Ulama Islam Serukan Boikot Haji! Ada Apa?

Jakarta - Ibadah haji adalah rukun kelima bagi umat Islam. Maka setiap tahun, dua juta umat Islam berbondong-bondong melaksanakan ibadah haji di Mekah dan Madinah. Namun sejak tahun lalu, beberapa ulama malah menerbitkan fatwa boikot terhadap pelaksanaan ibadah haji, terutama bagi mereka yang sudah pernah melakukan.

Langkah itu dilakukan akibat eskalasi politik di semenanjung Arab dan tindak-tanduk penguasa baru Kerajaan Arab Saudi, yang tidak lain adalah putra mahkota Mohammed bin Salman (MBS). Keputusan Arab Saudi atas perintah MBS melakukan operasi militer di Yaman, Libya, Sudan, Tunisia dan Aljazair menjadi pemicunya.

Menurut para ulama tersebut dilansir dari Al-Araby dan dikutip dari laman dw.com, mereka yang berhaji untuk kedua kali atau lebih justru membantu Arab Saudi melakukan tindak kejahatan terhadap saudara muslim yang lain.

Arab Saudi mendapat pemasukan sangat banyak dari pelaksanaan ibadah haji. Diperkirakan 20 persen pemasukan Arab Saudi berasal dari haji, bukan dari minyak dan gas saja. Sejak era Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud, pemerintah Riyadh berniat mereformasi struktur ekonomi dengan lebih banyak mengandalkan sektor non-migas.

Sepak terjang putra mahkota MBS-lah yang memicu ragam kontroversi, mulai dari perang di Yaman yang banyak menyisakan korban jiwa di kalangan penduduk sipil dan pembunuhan berencana terhadap wartawan AS, Jammal Khashoggi.

Baca Juga: Arab Saudi Larang Istilah Wisata Religi untuk Haji dan Umrah

Di tahun keempat perang di Yaman sejauh ini telah menimbulkan hampir 70.000 korban jiwa dan 14 juta penduduk terancam wabah kelaparan, menurut organisasi HAM Human Rights Watch. Tingginya angka korban jiwa disebabkan oleh serangan udara aliansi militer pimpinan Arab Saudi yang seringkali menimpa warga sipil.

PBB memperkirakan, jika berlanjut maka perang di Yaman berpotensi menyebabkan 230.000 kematian pada 2020, dengan rincian 102.000 tewas dalam pertempuran, sementara 130.000 meninggal dunia akibat dampak tak langsung berupa kelaparan dan penyakit.

Majelis Ulama Tunisia mendesak Mufti Besar Othman Battikh agar mengeluarkan fatwa boikot haji. Kepada harian al-Bawaba, ulama senior Tunisia Fadhel Ashour tahun lalu mengatakan uang yang diterima Arab Saudi selama musim haji tidak digunakan untuk membantu fakir miskin di dunia. Melainkan digunakan untuk membunuh dan mengusir penduduk di Yaman.

Ancaman boikot dari Tunisia sedemikian nyata, sampai-sampai Menteri Urusan Islam, Dakwah dan Fatwa Arab Saudi, Syeikh Abdullatif al-Syeikh mengundang Battikh untuk membahas hubungan kedua negara di Jeddah, awal Juli lalu. Dalam pertemuan itu keduanya menegaskan kedekatan Tunisia dan Arab Saudi, serta peran Riyadh dalam menyebarkan ideologi damai ke seluruh dunia Islam.

Baca Juga: Kuota Haji Indonesia Bertambah 10 ribu Jamaah

Berbeda dengan seruan boikot Haji sebelumnya yang kebanyakan digerakkan oleh perpecahan ideologi antara syiah dan sunni, kali ini fatwa anti-haji lebih banyak bersinggungan dengan kondisi politik di Timur Tengah yang memanas sejak suksesi monarki di Riyadh.

Ulama Yusuf Qaradawi, menulis bahwa muslim yang memberi makan fakir miskin, merawat kaum yang sakit dan memberikan rumah bagi tuna wisma lebih disukai Allah ketimbang mereka yang menghabiskan uang untuk haji dan umrah setiap tahun.

Comment

LEAVE A COMMENT