Mantan Sekjen PBB Prihatin Dengan Kondisi Pengungsi Muslim Rohingya di Bangladesh

Dhaka – Kondisi pengungsi Muslim Rohingya di Bangladesh semakin memprihatinkan. Kondisi penampungan orang-orang Rohingya yang terusir dari negaranya, Myanmar, semakin buruk dan masih terus dijubeli pengungsi yang terus datang.

Mantan Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki-moon pun trenyuh melihat kondisi ini saat mengjungi kamp-kamp pengungsian. Ia menilai Bangladesh yang menampung populasi besar Rohingya, tidak bisa diharapkan bisa terus menampung warga Rohingya tersebut.

"Tidak mungkin bagi Bangladesh menjadi tuan rumah sejumlah besar Rohingya untuk waktu yang lama," kata Moon dalam kunjungannya ke kamp sementara Rohingya di distrik Cox's Bazar selatan dilansir kantor berita resmi Sangbad Sangstha, dan dikutip dari laman resmi Republika.co.id, Rabu (10/7/2019).

Baca Juga: Jaksa ICC Minta Penyelidikan Kejahatan Kemanusiaan Terhadap Muslim Rohingya Dibuka

Seperti diketahui, lebih dari 730 ribu Rohingya melarikan diri dari Myanmar ke negara tetangga Bangladesh. Ini setelah tindakan keras yang dilakukan tentara Myanmar dan etnis mayoritas pada 2017. Menurut para penyelidik PBB, mereka dieksekusi dengan niat genosida, termasuk pembunuhan massal, pemerkosaan geng, dan pembakaran yang meluas.

Moon mengkritik Myanmar karena keengganannya mengizinkan Rohingya yang dianiaya kembali ke negara asal mereka. Menurutnya, repatriasi yang aman, dan bermartabat dari para pengungsi adalah suatu keharusan bagi solusi harmonis krisis Rohingya.

"Pemerintah Myanmar harus berbuat lebih banyak agar Rohingya dapat kembali ke tanah air mereka tanpa takut akan penganiayaan," kata Moon.

Menurut sebuah laporan oleh Ontario International Development Agency, dari 25 Agustus 2017, hampir 24 ribu Muslim Rohingya dibunuh oleh pasukan Myanmar.

Baca Juga: Terancam Deportasi di India, Muslim Rohingya Pilih ‘Nyebrang’ ke Bangladesh

Dalam laporan berjudul Forced Migration of Rohingya: The Untold Experience terungkap lebih dari 34 ribu Rohingya dibakar, sementara lebih dari 114 ribu lainnya dipukuli. Selain itu, sekitar 18 ribu perempuan dan gadis Rohingya diperkosa oleh tentara dan polisi Myanmar. Kemudian lebih dari 115 ribu rumah Rohingya dibakar dan 113 ribu lainnya dirusak.

Pemerintah Myanmar membantah tuduhan tersebut. Mereka menyatakan kampanye militernya di seluruh Negara Bagian Rakhine utara adalah tanggapan terhadap serangan pemberontak Rohingya.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Bangladesh Shahidul Haque mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa negaranya tidak sanggup lagi terus mengakomodasi lebih banyak lagi pengungsi Rohingya dari Myanmar.

Bangladesh dan Myanmar menandatangani perjanjian repatriasi pada November 2017 dengan jangka waktu dua tahun untuk mengembalikan para pengungsi Rohingya ke Myanmar. Pemulangan itu ditunda karena kekhawatiran global tentang keselamatan Rohingya di negara asal mereka.

Comment

LEAVE A COMMENT