Masjid-Masjid di AS Kekurangan Imam Berkualitas

Masjid-Masjid di AS Kekurangan Imam Berkualitas

COLUMBUS, Ohio - Menemukan imam atau pemimpin agama yang tepat menjadi misi yang mustahil bagi banyak komunitas Muslim AS. Sosok terutama mencari seseorang yang dapat memimpin shalat, bekerja dengan kaum muda, dan memimpin komunitas. Laporan itu dikeluarkan oleh The Columbus Dispatch dikutip dari aboutislam.net.

"Kami kekurangan kandidat yang memenuhi syarat dan sesuai untuk ukuran komunitas kami. Kami harus lebih agresif dalam merekrut dan mencari keluar untuk mendapatkan imam berkualitas yang bisa memimpin dan membimbing komunitas kami," kata Ronney Abaza, ketua dan direktur Komite Badan Pencarian Iman Dewan Noor Islamic Cultural Center's.

Setelah pencarian selama 3 tahun, akhirnya komunitas muslim di Columbus, khususnya Masjid Noor, menyambut kedatangan Abdel Moniem sebagai pemimpin agama yang baru, Rabu lalu. Moniem selama ini menjadi imam di Tampa, Florida.

Baca juga : Muslimah Anggota Kongres AS Dilantik Dengan Al Quran

Ihsan Bagby, seorang profesor Studi Islam di University of Kentucky, percaya bahwa kekurangan imam yang berkualitas adalah masalah yang dihadapi Muslim Amerika pada umumnya dan bukan hanya masjid Noor.

Bagby mengatakan kekurangan itu bukan disebabkan oleh kurangnya imam tetapi kurangnya kualitas imam yang diinginkan sebagian besar masjid yaitu imam yang berasal dari orang-orang lokal yang berpengetahuan luas yang dapat bekerja dengan pemuda Muslim di AS dan juga dapat bekerja di lapangan publik dan berinteraksi dengan mitra antaragama.

“Ada standar (tradisional) yang dipahami untuk seorang imam: bahwa mereka dapat membaca Al-Quran, telah menghafal banyak teks dasar Al-Qur'an, dan fasih dalam hukum Islam. Mereka seperti seorang sarjana, ” kata Bagby.

"Imam baru adalah seseorang yang mengerti apa artinya menjadi seorang pendeta, seseorang yang tahu konseling, dan seseorang yang dapat mengembangkan hubungan dengan kaum muda."

Kondisi itu membuat banyak masjid tidak memiliki pemimpin agama penuh waktu. Mereka bergantung pada sukarelawan yang paham tentang agama Islam dan Al-Qur'an. Beruntung Masjid Noor akhirnya menemukan imam dengan karisma dan visi sesuai harapan masyarakat muslim setempat.

"Dia memiliki hati yang besar, dan itu salah satu hal utama yang membuat kami tertarik dengannya," kata Abaza.

"Sangat penting untuk memiliki seorang imam yang tinggal cukup lama di AS untuk memahami budaya dan menganggap dirinya orang Amerika.”

Menurut laporan "The American Mosque 2011" oleh profesor Universitas Kentucky Ihsan Bagby, setengah dari semua masjid di AS tidak memiliki staf penuh waktu, dan hanya 44 persen imam yang bekerja sebagai pemimpin penuh waktu yang dibayar.

Comment

LEAVE A COMMENT