Militer Myanmar Janji Seret Anggotanya Yang Bantai Muslim Rohingya

Jakarta-- Angkatan Bersenjata Myanmar menjanjikan bakal menyeret anggotanya yang diduga membantai etnis Muslim Rohingya ke mahkamah militer. Pernyataan itu mereka sampaikan setelah dilakukan penyelidikan baru terkait dugaan pelanggaran hak asasi manusia terhadap etnis minoritas itu di negara bagian Rakhine, Senin (2/9/2019).

Dalam situs resmi militer Myanmar, Panglima Militer Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing, menuturkan tim pengadilan militer telah mengunjungi utara Rakhine. Tempat itu adalah pusat kekerasan dan persekusi terhadap Rohingya yang terjadi pada 2017 lalu, hingga memicu gelombang ratusan ribu pengungsi ke Bangladesh.

Dari hasil peninjauan itu, ditemukan fakta kelemahan personil militer dalam menjalankan instruksi dan prosedur dalam beberapa insiden, terutama di sebuah desa yang disinyalir tempat pembantaian Muslim Rohingya. Meski begitu, militer Myanmar tak menjelaskan lebih lanjut siapa yang akan diadili dan apa hasil penyelidikan itu.

Baca Juga: Myanmar Tengah Lakukan Upaya Sistematis Hapus Identitas Muslim Rohingya

Sementara itu, pada Minggu (1/9/2019) kemarin, juru bicara militer Myanmar, Tun Tun Nyu dikutip dari Reuters via cnnindonesia.com, mengatakan bahwa investigasi militer itu adalah rahasia.

"Kami tidak berhak mengetahuinya. Mereka (tim penyelidik) akan merilis pernyataan lain tentang hal ini ketika prosedur selesai," kata Tun Nyu.

Pengadilan militer yang terdiri dari seorang mayor jenderal dan dua kolonel ini dibentuk pada Maret lalu guna menanggapi tuduhan pembunuhan massal, pemerkosaan, dan pembakaran yang dilakukan pasukan Myanmar terhadap Rohingya. Tim tersebut dilaporkan telah mengunjungi Rakhine dua kali pada Juli dan Agustus lalu.

Baca Juga: Dunia Internasional Didesak Bantu Bangladesh Tangani Pengungsi Muslim Rohingya

Tahun lalu, misi pencari fakta PBB menyimpulkan bahwa militer Myanmar telah meluncurkan operasi terhadap etnis Muslim Rohingya dengan niat genosida. Misi tersebut bahkan meminta Myanmar memecat Aung Hlaing dan lima jenderal lainnya dari pucuk kepemimpinan di militer atas tindakan kejahatan paling berat di bawah hukum internasional.

 

Comment

LEAVE A COMMENT