Pembunuh 3 Muslim di AS Akhirnya Mengaku di Persidangan

North Carolina -  Tiga orang mahasiswa Muslim terbunuh pada tragedi memilukan tahun 2015 lalu. Mereka ditembak secara membabi buta di rumahnya sendiri di North Carolina, Amerika Serikat.

Setelah sempat molor selama pertama, tersangka pelaku penembakan itu, Craig Stephen Hicks (50 tahun)  akhirnya mengakui perbuatannya dalam persidangan. Ia mengakui aksi brutalnya menembak tiga orang mahasiswa Muslim yang merupakan tetangga apartemennya.

Dikutip dari laman Republika.co.id, Craigh Hicks mengakui tindakan kejinya itu dalam persidangan tingkat pertama di ruang sidang Durham, Carolina Utara, Rabu (12/6/2019) waktu setempat.

"Saya ingin mengaku bersalah sejak hari pertama," kata Hicks kepada Hakim Pengadilan Tinggi, Orlando Hudson.

Persidangan kasus ini dimulai kembali usai jaksa baru di wilayah setempat bertekad menyelesaikan kasus-kasus lama. Jaksa baru ini berharap bisa menyelesaikan kasus ini dengan berupaya menuntut Hicks dengan hukuman mati.

Baca juga : Menjadi Muslim Membuat Hidup Pogba Lebih Tenang

Pada 2015 atau ketika Hicks berumur 46 tahun, ia melakukan pembunuhan terhadap tiga orang tetangganya sekaligus, yakni Deah Shaddy Barakat (23 tahun), istrinya Yusor Abu-Salha (21), dan saudari Deah, Razan Abu-Salha (19). Deah ditembak beberapa kali saat berada di lorong pintu masuk rumahnya. Sedangkan istri dan adik iparnya ditembak dari jarak dekat di bagian kepala secara berulang-berulang.

Polisi mengatakan aski Hicks itu dipicu perebutan tempat parkir di apartemen mereka. Sedangkan keluarga korban mengatakan, tindakan keji Hicks karena ia adalah seorang anti-Muslim.

Ayah korban, Mohammad Abu-Salha yang seorang psikiater, memberikan kesaksian di depan sidang kongres. Menurut dia, aksi itu merupakan sebuah kejahatan rasial. Sebelum aksi itu dilakukan, kata dia, Hicks pernah menyatakan kebencian tentang anak perempuanya lantaran menggunakan jilbab.

"Tiga pemuda-pemudi Amerika yang baik telah dibunuh secara brutal dan tiada keraguan kami untuk mengatakan aksi ini lahir dari kefanatikan dan kebencian," kata Abu-Salha ketika bersaksi.

Abu-Salha mengungkapkan kepedihan semakin terasa olehnya karena ia sebagai dokter, membaca sendiri laporan dan perincian kematian anaknya.

"Semua itu membakar ingatanku," tukasnya..

 

Comment

LEAVE A COMMENT