Pisahkan Anak Muslim Uighur Dengan Orang Tuanya, Pemerintah China: Tidak Ada Sama Sekali

London – Peneliti Jerman Dr Adrien Zenz mengungkapkan anak-anak Muslim dari suku minoritas Uighur di Xinjiang barat, dimasukkan ke kamp pendidikan ulang dan dipisahkan dari orangtuanya oleh pemerintah China. Selain Zenz, kantor berita Inggris BBC juga menyatakan ada ratusan anak-anak dari kelompok etnis minoritas Uighur yang dipisahkan dari kedua orang tua mereka.

Pernyataan itu langsung dibantah oleh pemerintah China. Duta Besar (Dubes) China untuk Inggris, Liu Xiaoming, membantah pemerintahnya melakukan tindakan sistematis yang memisahkan anak-anak Muslim di Xinjiang barat dari orangtuanya.

"Tidak ada pemisahan anak-anak dari orang tua mereka. Tidak sama sekali," bantah Dubes Liu dalam program Andrew Marr Show di BBC, Minggu (7/7/2019).

Liu bahkan menantang bila ada orang yang kehilangan anak-anak, ia meminta diberikan nama dan ciri-ciri mereka. Ia berjanji pemerintah China akan ikut membantu menemukan mereka.

Baca Juga: Bertemu Jinping, Erdogan 'Ngeper' Lalu Bilang Muslim Uighur Hidup Bahagia di Xinjiang

Bukti yang dikumpulkan oleh BBC menunjukkan bahwa di satu kota mandiri di Xinjiang, lebih dari 400 anak telah kehilangan kedua orang tua mereka karena suatu bentuk pengasingan.

Pihak berwenang China mengklaim orang-orang Uighur dididik di pusat-pusat pelatihan kejuruan yang dirancang untuk memerangi ekstremisme.

Tetapi bukti menunjukkan bahwa banyak orang Uighur yang ditahan hanya karena mengekspresikan iman mereka, seperti berdoa atau mengenakan kerudung dan karena memiliki koneksi luar negeri seperti Turki.

Jurnalis BBC, John Sudworth, mewawancarai orang tua dari komunitas Uighur di Turki yang mengatakan anak-anak mereka hilang di China.

Seorang pejabat di Xinjiang mengatakan kepada BBC bahwa anak-anak yang orangtuanya telah ditahan di kamp-kamp dikirim ke sekolah berasrama dengan disediakan akomodasi, makanan, dan pakaian.

Zenz mengatakan sekolah asrama memberikan konteks yang ideal untuk rekayasa ulang budaya berkelanjutan terhadap masyarakat minoritas.

"Saya pikir bukti untuk secara sistematis memisahkan orang tua dan anak-anak adalah indikasi yang jelas bahwa pemerintah Xinjiang sedang berusaha untuk membangkitkan generasi baru yang terputus dari akar asli, kepercayaan agama dan bahasa mereka sendiri," katanya.

Baca Juga: China Kembangkan Aplikasi Ponsel Pintar Pantau Muslim Uighur

Ribuan orang Uighur telah pindah ke Turki untuk melakukan bisnis, mengunjungi keluarga, atau untuk melepaskan diri dari batasan-batasan pengendalian kelahiran China dan apa yang mereka sebut penindasan agama. Banyak yang bertahan di Turki setelah China mulai menahan ratusan ribu warga Uighur selama tiga tahun terakhir.

Liu menggambarkan orang tua Uighur yang berbicara kepada BBC di Turki sebagai "orang anti-pemerintah".

"Anda tidak dapat mengharapkan kata yang baik (dari mereka) tentang pemerintah. Jika mereka ingin bersama anak-anak mereka, mereka bisa kembali,” ungkapnya.

Comment

LEAVE A COMMENT