Sebulan Diblokade, Muslim Kashmir Bagai Burung Dalam Sangkar

Jakarta -  Sejak otonomi dan status khusus Jammu dan Kashmir dicabut 5 Agustus lalu, penduduk negara bagian yang sebagian besar umat Muslim, harus memutar otak untuk menghubungi keluarga mereka. Negara bagian tersebut diblokade. Internet dimatikan dan pergerakan penduduk dibatasi sehingga Muslim Kashmir diibarakatkan seperti ‘bagai burung dalam sangkat’.

Dikutip dari BBC via laman wartaekonomi.co.id, seorang pria Irfan Ahmed yang berprofesi sebagai resepsionis, mengaku memiliki kekasih di Kashmir. Sebelum blokade dilakukan pemerintah India, ia mengaku rutin berkomunikasi dengan kekasihnya tersebut. Tapi selama blokade ini, ia benar-benar tidak bisa berkomunikasi membuat rasa rindu begitu membuncah. Padahal antara Srinagar, tempat tinggalnya, dengan Jammu dan Kashmir tidak terlalu jauh.

’’Setelah blokade, kami tidak bisa berbicara di telepon atau bertemu. Jadi, kami kembali mulai menulis surat,’’ terang Irfan.

Baca Juga: Muslim Perempuan Kashmir Menderita Atas Pencabutan Otonomi Kashmir oleh India

Perdana Menteri India Narendra Modi mencabut otonomi dan status khusus Jammu dan Kashmir sejak 5 Agustus lalu. Jammu dan Kashmir sebelumnya punya pemerintahan, konstitusi, dan bendera sendiri. Khusus untuk urusan hubungan luar negeri, komunikasi dan pertahanan mereka bergabung dengan India.

India mengirimkan ribuan personel untuk mengamankan situasi. Jaringan internet dimatikan dan pergerakan penduduk dibatasi. Orang-orang tidak lagi bebas keluar masuk wilayah tersebut. Ketegangan mulai terasa di wilayah dengan penduduk muslim terbesar di India itu.

Warga yang mulai resah akhirnya mencari cara baru untuk berkomunikasi. Yang paling banyak adalah berkirim surat seperti yang dilakukan Ahmed. Setiap kali merasa rindu kepada kekasihnya yang merupakan seorang mahasiswa, dia menulis surat cinta. Ahmed bak pemuda tahun 80–90 yang menuliskan ungkapan hatinya di atas kertas.

Baca Juga: India Cabut Status Otonomi, Umat Muslim Kashmir Terkekang Jelang Idul Adha

Tak ada lagi emotikon lucu-lucu bentuk hati yang bisa bergerak-gerak atau lagu-lagu syahdu yang bisa dikirim kepada pujaan hatinya. Surat yang sudah jadi akan dilipat dan dilempar ke jendela kekasihnya. Dia harus menunggu barang satu dua hari sebelum mendapat balasan surat yang juga dilempar ke jendela kamarnya. Surat itu tak hanya untuk mengungkap cinta dan kerinduan, tapi juga menentukan tempat dan waktu untuk janjian ketemuan.

Penduduk lain memilih untuk kembali mengaktifkan sambungan telepon kabel mereka. Sejak ada telepon genggam dan internet, telepon kabel dilupakan. Di India ada lebih dari satu miliar pemilik HP dan 560 juta pengguna internet. Namun, pemilik telepon kabel hanya 23 juta.

Telepon kabel yang sudah disambung lagi juga tak serta-merta bisa langsung dipakai. Kadang bisa, kadang juga tidak tersambung sama sekali. Sebagian yang lain memilih pergi ke kotak telepon umum sementara yang dibuat pasukan keamanan. Sebagian lagi menumpang telepon di kantor polisi. Mereka bisa menelepon gratis, tapi antre dan berbatas waktu.

Manzoor Ahmed memilih untuk menggunakan fasilitas telepon umum milik pasukan keamanan. Pedagang 55 tahun itu pusing. Pelanggannya yang tinggal di luar Kashmir membayar dengan cek. Namun, bank tak bisa mencairkannya karena tidak ada koneksi internet. Padahal, Ahmed membutuhkan uang tersebut.

’’Jadi, saya berjalan keliling kota dan mencari telepon untuk menghubungi pelanggan saya dan memintanya transfer uang saja,’’ terangnya.

Orang-orang di luar Jammu dan Kashmir juga kelabakan. Mereka tak bisa menghubungi keluarga dan kenalan mereka di wilayah yang diblokade tersebut. Sebagian akhirnya berkirim surat lewat pos. Itu pun tak tahu apakah sampai atau tidak.

Baca Juga: India Cabut Otonomi Kashmir, PM Pakistan Khawatir Bakal Ada Pembersihan Etnis Muslim

Jurnalis lepas asal Kashmir, Vikar Sayed, berusaha membantu. Beberapa waktu lalu, dia berkunjung ke Delhi agar bisa mengakses berita dan internet. Di akun Facebook-nya, dia menulis siap mengirimkan surat yang ditujukan untuk penduduk di Jammu dan Kashmir. Syaratnya hanyalah harus ada alamat lengkap.

Sayed akhirnya menerima 17 kiriman surat. Ada yang dikirim langsung lewat pesan elektronik. Ada pula yang berupa tulisan tangan dan difoto sebelum dikirim kepada Sayed dalam format gambar. Begitu kembali ke Kashmir, Sayed berkeliling ke beberapa rumah untuk mengirimkan pesan yang dititipkan kepadanya.

Comment

LEAVE A COMMENT