Konstantinopel
Konstantinopel

Islam dan Penaklukan Konstantinopel

Konstantinopel adalah pusat dunia Barat dan sekaligus pertahanan Kristen terhadap Islam. Ia telah menjadi bukti sejarah sebuah perseteruan panjang hingga ratusan tahun, antara dua versi kebenaran yang berdekatan.

Kala itu, pasukan muslim sering mengalamai kekalahan, tak mampu menembus benteng pertanan kelompok Kristen yang begitu kokoh. Bagi umat muslim, kekalahan di Konstantinopel itu konon lebih bersifat teologis daripada militer. Kondisi ini berbanding terbalik dengan abad pertama perkembangan Islam, yang nyaris tidak ada alasan untuk meragukan bahwa imanlah yang mendukung kemenangan.

Di bawah tembok Konstantinopel, Islam ditolak oleh bayangan imannya sendiri. Kristen adalah agama moneteis saingan dengan semangat dan hasrat yang sama demi memperoleh pengikut. Konstantinopel menjadi mahkota yang layak diperebutkan. Bukan hanya lantaran keindahan dan kemakmurannya, tapi juga prospek jangka panjang untuk penyebaran agama.

Dari sana, kaum muslim memang berambisi besar untuk menaklukkan Konstantinopel, sebab akan membuka jalan bagi ekspansi muslim ke Eropa. Namun harus diakui, penduduk Kristen yang telah berdiam kurang lebih 400 tahun lamanya itu sangatlah tangguh dan tidak mudah untuk dikalahkan. Banyak yang mati syahid di temboknya, termasuk pembawa panji nabi, Ayyub, pada 699.

Baru di tahun 1453, masa Sultan Usmani di bawah pimpinan Mehmet II, Konstantiopel jatuh ke tangan kaum muslim. Itu pun, harus ditebus dengan jumlah korban yang tak terhitung jumlahnya. Selain berbekal persenjataan yang baru dan canggih, Konstantinopel yang hanya dijaga oleh pasukan Kristen 8.000 prajurit di bawah pimpinan Konstantin XI, Kaisar Byzantium ke-57, tak berdaya setelah dikepung pasukan muslim yang mencapai 800.000 orang.

Roger Crowley mengeksplorasi kisah dramatis itu dalam buku yang dalam edisi Indonesia berjudul, 1453: Detik-Detik Jatuhnya Konstantinopel ke Tangan Muslim (2011). Crowley tidak mendeskripsikannya secara teoritik, tapi menarasikan lewat hamparan kata dan kalimat yang begitu memesona dan memikat setiap pembaca.

Baca Juga:  Ketika Harta Menjadi Ujian

Crowley tidak bermaksud membuka luka lama, konflik muslim dan Kristen. Sebaliknya, Crowley hanya mengingatkan kalau kedua agama besar itu pernah bersitegang memperebutkan Konstantinopel—yang sebenarnya tidak semata-mata perang antar agama, tapi lebih tepat dikatakan memperebutkan kekuasaan teritorial.

Yang pasti, tragedi tahun 1453 menyisakan mitos dan cerita rakyat yang dikisahkan turun temurun selama berabad-abad lamanya. Ia masuk ke dalam hadis, yakni kumpulan perkataan yang ditautkan kepada Nabi Muhammad, ramalan yang memperkirakan siklus kekalahan, kematian dan kemenangan terakhir bagi para kesatria di jalan iman. “Dalam jihad melawan Konstantinopel, sepertiga kaum muslim akan menyerah, dan mereka tidak akan diampuni Allah; sepertiga lagi terbunuh di pertempuran, dan mereka syahid; sementara sepertiga lagi akan menang”, tulis Crowley.

Bangsa manapun, yang hidup di zaman itu, dipastikan tergiur menduduki kota mewah itu. Ibu kota Byzantium, dan eksotisme Konstantinopel dipandang sebagai replika surga, pengejawantahan keagungan Kristus, dan kaisarnya dianggap sebagai wakil Tuhan di bumi. Kesalehan Kristen terlihat di mana-mana: di kubah gereja, suara lonceng dan gong kayu, biara, rahib dan biarawati yang tak terhitung jumlahnya, dan parade ikon di sepanjang jalan dan tembok, doa yang senantiasa dilantunkan serta upacara Kristen yang acap dilaksanakan Kaisar dan warga yang taat.

Konstantinopel, didirikan di atas wilayah pemukiman dan dibangun pertama kali oleh orang Yunani yang telah menjadi legenda berna Byzas seribu tahun lalu, menjadi sebuah kota Kristen selama 400 tahun ketika pasukan Maslama terpaksa mundur pulang. Tempat yang dipilih Kaisar Konstantin untuk ibu kota Kristennya yang baru pada 324 SM memiliki kelebihan alamiah yang tak terkira. Ketika tembok-tembok tanah selesai dibangun pada abad ke-5, kota ini nyaris tak bisa diserang selama peralatan pengepungan hanya mengandalkan kekuatan ketapel-tempur.

Baca Juga:  Musyawarah Ditinggalkan, Saling Lapor Digalakkan

Dilindungi tembok sepanjang 12 mil, Konstantinopel berdiri di atas perbukitan curam yang memberikan titik pandang ke laut sekitar. Sementara di sisi lain, teluk kecil Golden Horn, yang berbentuk menyerupai tanduk melengkung, menyediakan pelabuhan dengan air yang dalam. Satu-satunya kelemahan tempat ini adalah tandusnya tanjung, satu persoalan yang diatasi para ahli perairan Romawi dengan menggali beberapa saluran dan waduk.

Itu sebabnya, Konstantinopel hingga kini tetap dianggap menjadi saksi sejarah yang selalu dikenang oleh umat Kristen maupun Islam. Bagi umat Kristen, Byzantium bukan hanya pewaris terakhir Kekaisaran Romawi kuno, dia juga menjadi bangsa Kristen pertama.

Sejak pendiriannya, ibu kota ini dipandang sebagai replika surga, pengejawantahan keagungan Kristus, dan Kaisarnya dianggap sebagai wakil Tuhan di bumi. Sementara bagi umat muslim, Byzantium terbukti sebagai musuh yang tangguh, dan Konstantinopel tetap menjadi luka dan sumber kerinduan.

Bagikan Artikel

About Ali Usman

Avatar
Pengurus Lakpesdam PWNU DIY