Islam dan Sejarah Kemaritiman di Indonesia

Kemampuan maritim bangsa Indonsia tercatat dalam sejarah pada era yang telah lampau. Kerajaan Sriwijaya memberikan sebuah pendiskripsian bahwa saat itu, mereka mampu mengendalikan wilayah di seberang laut.

Ramainya jalan laut perdagangan yang melewati selat Malaka, memungkinkan pula orang Indonesia untuk ikut ke Timur Tengah atau Mekkah sebagai pusat ajaran Islam. Atau pusat perdagangan dan peradaban di Timur Tengah, semisal di Damaskus, Tunisia, Bagdat, dan Al-Azar.

Prestasi kemampuan pelayaran atau navigasi bangsa Indonesia tidak hanya tampak pada abad ke-7 M semata. Jauh sebelumnya fakta sejarah menyatakan bangsa ini telah mampu berlayar mengarungi samudera India atau samudera Persia. Seperti halnya yang disampaikan oleh Gabriel Ferrand bahwa pada abad ke-2 M dan ke-4 M terjadi perpindahan bangsa antara bangsa Indonesia dengan Madagaskar (Tasrif, 1965).

Peristiwa tersebut berulang kembali pada abad ke-10 M terjadi pada massa islam telah memasuki kawasan tersebut. Kemampuan navigasi seperti tersebut oleh Van Leur (1955) dinyatakan sebagai suatu kenyataan yang sangat menakjubkan dari ketakutan laut bangsa Indonesia (a remarkable expreesion of  Indonesia power overseas).

Dapat disimpulkan bahwa pelaku dan cara masuknya Islam di Sumatera Selatan tidak ubahnya seperti terjadi pada wilayah Indonesia lainnya, dilakukan oleh putra Indonesia dan tidak berjalan pasif. Artinya, bangsa Indonesia tidak menunggu kedatangan bangsa Arab semata dengan upayanya mencari tambahan pengetahuan tentang agama Islam.

Islam di Sumatera

Khusus untuk Sumatera Selatan, masuknya agama Islam selain dilakukan oleh bangsa Arab, pedagang utusan Khalifah Umayah (661-750) dan Khalifah Abbasiyah (750-1268), juga perdagangan dari  Sriwijaya berlayar ke Timur Tengah. Hal yang demikian ini tidak bertentangan, sekalipun Sriwijaya sebagai pusat pengembangan ajaran Budha, tetapi, karena watak Indonesia yang mempunyai kesanggupan yang tinggi dalam menghormati perbedaan agama, maka, di wilayah kerajaan Sriwijaya diizinkan masuknya agama Islam melalui jalur perdagangan. Faktor yang terakhir inilah yang memungkinkan Sriwijaya menempuh sistem pintu terbuka dalam menghadapi kenyataan masuknya agama Islam.

Baca Juga:  Islam Melarang Seni?

Di samping itu ada faktor dunia perdagangan saat itu telah beralih dari tangan Persia pra Islam atau Roma ke tangan Islam, sejak masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khatab (634-644), pintu-pintu perdagangan Timur Tengah, Fustat di Mesir. Kuffah dan Basrah di Babylonia, dikuasainya. Pergantian kekuasaan politik yang terjadi di Timur Tengah, tidak merubah hubungan dagang dengan Sriwijaya.

Seperti dikisahkan oleh penulis Arab, Ibn Rusta (900 M), Sulaiman (850 M), dan di lanjutkan Abu Zaid (950 M), hubungan dagang antara Abbasiyah dengan Sriwijaya tetap berlangsung. Kapal-kapal dagang Islam tetap menggunakan lalu lintas laut yang sama, singgah di Srilangka sebagai wilayah Sriwijaya, lewat pula ke pantai India di Saimur dekat Bombay. Pelayaran ini dilanjutkan ke Cina dan Jepang, sehingga dapat dinyatakan bahwa kejayaan Sriwijaya hubungan erat dengan perkembangan Islam dalam periode awal.

Kemampuan navigasi Sriwijaya dalam berita Arab, dikisahkan, bahwa Sriwijaya juga mengadakan hubungan perdagangan melalui jalur laut hingga ke pantau Afrika pada tahun 1154 M. Hal ini tidaklah mengherankan, karena perdagangan melalui jalur laut yang ditempu Sriwijaya dari Maluku saja merupakan seperdelapan lingkar bumi.

Akhir abad ke-16 kawasan Sumatera Selatan merupakan salah satu enclave Islam terpenting. Buktinya, Raden Fatah dari Jawa juga belajar agama Islam di Sumatera Selatan. Bukan saja karena reputasinya sebagai pusat perdagangan yang banyak dikunjungi pedagang Arab muslim pada masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya, tetapi juga dibantu oleh kebesaran Kesultanan Malaka yang secara historis merupakan tanah asal.

Kesultanan Malaka didirikan oleh Parameswara atau Iskandar Shah, seorang putra bangsawan Sriwijaya dari Palembang. Dikisahkan, seorang Syarif yang bernama Syarif Abubakar yang berasal dari Palembang telah menyebarkan Islam ke Sulu dan Mindanau, kemudian nikah dengan puteri setempat bernama Paramisuri.

Baca Juga:  Islam Nusantara, Walisanga, dan Keberagamaan Kita

Jika benar Islam masuk Sumatera Selatan pada abad ke-7, artinya “pengislaman” di Palembang telah lebih lama daripada di Minangkabau (1513) atau pedalaman Jawa (akhir abad 14 Masehi), bahkan jauh lebih dahulu dari Sulawesi Selatan dengan kerajaan Gowa dan kerajaan Laikangnya (abad 13).

Bagikan Artikel

About Ali Usman

Avatar
Pengurus Lakpesdam PWNU DIY