Islam Kaffah Mengembalikan Fitrah Manusia

Islam Kaffah Mengembalikan Fitrah Manusia

Islam Kaffah.ID – Pengenalan manusia pada Tuhannnya tumbuh dan sejalan dengan sejarahnya sendiri. Sejak tercipta, manusia telah mengenal bahwa Allah, Tuhan semesta yang paling pantas untuk disembah. Naluri ber-Tuhan dan beragama adalah fitrah manusia.

Di zaman purba, saat mereka tidak mengenal dan mungkin tidak pernah mendengar dari siapapun, mereka mengaku bahwa Allah adalah pencipta alam semesta. Bertuhan adalah keyakinan yang sangat purba. Firman Allah:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ الْعَزِيزُ الْعَلِيمُ

Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka akan menjawab: “Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.”. QS: Al-Zuhruf : 09

Secara tekstual ayat ini membuktikan bahwa sesungguhnya kesadaran dan pengetahuan tentang Allah telah tertanam di dalam setiap diri manusia. Bertuhan adalah keyakinan yang sudah tertanam bahkan sebelum manusia menyaksikan kekuasaan Allah, sebelum menyaksikan bukti-bukti nyata, dan sebelum mendengarkan informasi bahwa Allah adalah Tuhan yang paling berhak untuk disembah.

Allah berfirman:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آَدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.”  QS: A’rahf, 172

Ayat ini memperkuat, bahwa manusia, sejak sebelum dicipta, dari dahulu hingga kini dan masa-masa yang akan datang telah mengikrarkan keimanannya kepada Allah dengan sebenar-benarnya beriman. Sesuai dengan asas penciptaan manusia untuk menyembah semata kepada Allah. Allah berfirman: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. QS: al-Dzariyat : 56.

Sampai di sini bisa dimafhumi bahwa sejatinya fitrah manusia adalah Bertuhan dan beribadah. Tetapi sayang, seribu sayang, setelah manusi ada, terlahirkan dan terlebih setelah dewasa, lupa akan fitrah dan perjanjiannya untuk beriman kepada Allah. Manusia berubah dari keimanan menjadi sebuah pengingkaran dan pengingkaran, seingkar-ingkarnya.

Baca Juga:  Meraih Kebahagiaan dengan Dzikir

Percaya dan beriman kepada Allah memang bukan hal mudah, tetapi juga bukan hal yang sulit. Karena Islam sendiri bukan agama yang sulit dan mempersulit. Hanya saja, keimanan kepada Allah tidak boleh setengah-setengah apalagi setengah hati. Beriman dari A sampai Z, dari ke-Esaan Allah sampai pada ajaran-Nya yang tertuang dalam risalah kerasulan Nabi Muhammad SAW.

Adalah Abdullah bin Sallam, salah satu dari sekian banyak orang munafik di masa Nabi SAW., mengaku beriman kepada Nabi SAW., tetapi  tidak segan-segan molak ajarannya. Malah, tanpa tiding aling aling mengamalkan ajaran nenek moyang mereka yang jelas-jelas dan nyata bertentangan dengan ajaran Islam. Seperti mengagung-agungkan hari Sabtu dan tidak mau makan daging sapi dan susunya dengan alasan dilarang keras oleh ajaran Nabi Musa.

Karena kejadian itu kemudain turun ayat surat al-Baqarah : 208, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu”. Ayat ini mengiatkan kita untuk menjadikan Islam sebagai agama yang kaffah (utuh), sebagai satu kesatuan dari sebuah akidah dan amaliyah.

Berislam secara kaffah tidak hanya bisa dipahami secara simbolik, tetapi sebagai bentuk pengembalian fitrah kemanusiaan. Manusia harus menemukan kembali jati diri dan perjanjiannya dengan Tuhan secara utuh. Islam kaffah adalah totalitas untuk meyakini Tuhan dalam perbuatan yang nyata.

Islam sebagai agama datang untuk memuliakan manusia, tidak untuk menistakannya. Demikian pula dengan ajaran-ajaran untuk memuliakan manusia, di dunia hingga kelak di akhirat. Seperti firman Allah dalam surat an-Nahl : 97, “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”.

Bagikan Artikel

About Abdul Walid

Abdul Walid
Alumni Ma’had Aly Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo