Islam Membebaskan Perempuan dari Mitos Menstruasi

Pandangan Islam tentang haid sebagaimana dinyatakan oleh al Qur n mengandung sebuah pemikiran baru yang berbeda dengan tradisi Yahudi sebelumnya Dalam tradisi Yahudi perempuan yang sedang menstruasi dianggap sebagai perempuan kotor yang bisa mendatangkan bencana sehingga harus diasingkan dari masyarakat Selama menstruasi ia harus tinggal dalam gubuk khusus menstrual huts tidak boleh diajak makan bersama dan bahkan tidak boleh menyentuh makanan Tatapan mata perempuan yang sedang haid disebut mata Iblis evil eye yang harus diwaspadai karena mengandung bencana Perempuan yang sedang haid harus menggunakan tanda tertentu seperti gelang kalung giwang celak mata cadar riasan wajah yang khusus dan sebagainya agar segera dapat dikenali kalau ia sedang haid Semua itu diberlakukan untuk mencegah si mata Iblis Pandangan teologis yang demikian negatif ini kemudian ditentang oleh al Qur n dan dipertegas dalam hadits Hal ini tampak ketika kita melihat sebab turunnya asbabun nuz l ayat haid QS Al Baqarah 2 222 Mereka bertanya kepadamu tentang haidh Katakanlah Haidh itu adalah suatu kotoran Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci Apabila mereka telah suci maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu Sesungguhnya Allah menyukai orang orang yang bertaubat dan menyukai orang orang yang mensucikan diri QS Al Baqarah ayat 222 Dari ayat tersebut dapat kita simpulkan bahwa haid adalah kotoran dan darah haid bersifat najis Islam bukan agama mitos Islam mendudukkan perempuan haid bukan sebagai aib atau menyimpan potensi bencana Islam melakukan rasionalisasi perempuan dengan istilah kotor dan najis Bukan eksistensi perempuan yang kotor tetapi darahnya Baca juga Islam Itu Senyum Perempuan tidak perlu diasingkan dan dijauhkan dari masyarakat tetapi diposisikan sebagai manusia yang mengalami proses keluarnya kotoran Dalam kondisi itu wanita tidak diperbolehkan untuk melakukan ibadah seperti shalat wajib membaca Alqur an berpuasa dan lain sebagainya sebelum haidnya selesai dan ia kembali suci Selain ayat di atas juga diperkuat dengan hadist nabi yang diriwayatkan dari Asma radhiallahu anha Seorang perempuan datang menemui Nabi shallallahu alaihi wasallam seraya berkata Pakaian salah seorang dari kami wanita terkena darah haid apa yang harus dia lakukan Beliau menjawab Keriklah darah itu kemudian bilaslah dia dengan air kemudian cucilah ia Setelah itu kamu boleh memakainya untuk shalat HR Al Bukhari no 330 Muslim no 291 Pendapat Melarang Wanita Haid Masuk MasjidUlama yang menganut mahzab Maliki dan Hanafi adalah mereka yang melarang wanita yang sedang haid masuk ke dalam masjid Hal ini berlaku mutlak atau dengan kondisi dan keadaan apapaun seorang wanita tidak diperbolehkan memasuki masjid Hal ini adalah berdasarkan hadits Rasulullah SAW berikut Aku tidak menghalalkan masjid bagi orang junub dan tidak pula bagi wanita haid HR Abu Daud 1 232 Baihaqi 2 442 Dan juga disebutkan dalam hadits berikut Hendaklah wanita wanita haid menjauh dari mushalla HR Bukhari nomor 324 Meskipun demikian kedua hadits tersebut dianggap lemah dan tidak mendasari seorang wanita dilarang memasuki masjid karena hadits tersebut disampaikan dalam hal melakukan shalat ied Pendapat Memperbolehkan Wanita Haid Masuk Masjid Pendapat yang kedua menyatakan bahwa seorang wanita boleh memasuki masjid dengan alasan tertentu misalnya hanya sekedar lewat atau mengambil sesuatu di dalam masjid dan ia tidak tinggal lama di dalamnya Hal ini dikemukakan berdasarkan pendapat ulama mahzab Hambali Adapun dalil atau hadits yang mendasari pendapat ini antara lain Artinya Hai orang orang yang beriman janganlah kamu shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan jangan pula hampiri mesjid sedang kamu dalam keadaan junub terkecuali sekedar berlalu saja hingga kamu mandi Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan kemudian kamu tidak mendapat air maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik suci sapulah mukamu dan tanganmu Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun Diperkuat juga dengan Hadits dari Aisyah bahwa Rasulullah SAW telah berkata kepadanya Artinya Siapkanlah al Humrah semacam sajadah dari masjid Lalu Aisyah berkata Saya sedang haid Beliau bersabda Sesungguhnya haid kamu tidak di tanganmu HR Muslim dan at Turmudzi no 134 dan Abu Dawud no 261 dan an Nasa i no 272 dan Ibnu Majah no 632 Pendapat Membolehkan Wanita Haid Masuk Masjid Secara MutlakAdapun pendapat ketiga menerangkan bahwa seorang wanita yang sedang haid boleh memasuki masjid asalkan darah haidnya tidak mengotori masjid atau tempat ibadah tersebut Dalam suatu hadits disebutkan saat Rasulullah berhaji bersama Aisyah RA beliau SAW tidak melarang Aisyah untuk memasuki masjid dan melakukan ritual haji sebagaimana para jemaah haji lainnya Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits berikut Lakukanlah apa yang diperbuat oleh seorang yang berhaji kecuali jangan engkau Thawaf di Ka bah HR Bukhari nomor 1650 Baca syarat wajib haji Demikian penjelasan mengenai hukum wanita haid masuk masjid Dapat disimpulkan bahwa seorang wanita boleh saja memasuki masjid asalkan hanya sekedar lewat dan tidak berdiam diri atau tinggal berlama lama di dalamnya Ketidakbolehan itu juga dikhawatirkan darah haid menetes dan mengotori masjid Namun seiring kecanggilan tekhnologi sudah ada bermunculan berbagai macam solusi untuk mengatasi darah agar tidak jatuh ke lantai yaitu adanya pembalut Seperti yang banyak diketahui bahwa pembalut merupakan produk kesehatan wanita guna menyerap cairan vagina yang keluar saat menstruasi Pembalut terbuat dari bantalan kapas dan kain yang lembut bentuknya persegi panjang Pembalut digunakan dengan cara ditempel atau direkatkan pada celana dalam wanita Dengan adanya sarana pembalut ini sesungguhnya kekhawatiran darah untuk mengotori area masjid sudah diantisipasi Karena itulah dalam pandangan Islam yang hanya menghukumi najis dan kotornya darah tersebut bukan perempuannya maka tidak ada halangan haid untuk melakukan aktifitas di ruang sosial termasuk di dalam masjid Wallahu A lam Farida Asy ari Alumni Ma had Aly Situbondo dan Dosen Agama Politeknik Negeri Pontianak

Bagikan Artikel ini:

About Farida Asy'ari

Dosen Agama Politeknik Negeri Pontianak

Check Also

suara perempuan

Islam dalam Pandangan Perempuan

Kalau bertanya pandangan agama Islam terhadap perempuan, jawabannya, sama saja. Islam tidak membedakan derajat antara …

muslim ideal

Empat Ciri Muslim Ideal Sebagaimana Tradisi Berislam Nabi

Keislaman kita tidak akan se-kaffah keislaman Nabi Muhammad. Tipikal muslim ideal yang paling sempurna ada …

escortescort