Islam Periode Mekkah

0
1783
makkah

Periode Makkah merupakan fase awal dakwah Nabi. Banyak cerita duka di periode ini. Strategi dan pola dakwah yang diterapkan Nabi selalu berbeda-beda. Pun juga konten ajaran Makkah sangat khas tentang tauhid dan prinsip persamaan derajat manusia.


Deklarasi kenabian Muhammad Saw. disebutkan dalam sejarah, tidak berjalan mulus. Ia justru,sebagaimana terlihat di kota Mekkah, menghadapi banyak rintangan dan cobaan, baik dalam “identitas baru” waktu itu sebagai nabi, utusan Allah Swt. untuk menyampaikan kebenaran, maupun rintangan saat menyampaikaan ajaran islam itu sendiri.

Karena alasan itulah, Nabi Muhammad Saw. menerapkan strategi berdakwah, yang dibimbing langsung oleh Allah Swt. Tujuan dakwah Rasulullah Saw. pada periode Mekah adalah agar masyarakat Arab mampu meninggalkan kejahiliyannya dalam bidang agama, moral dan hukum, sehingga menjadi umat yang mempercayai kebenaran utusan Allah Swt. dan ajaran agama Islam yang disampaikannya sekaligus agar dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.  

Agar dapat tercapainya tujuan-tujuan tersebut, maka dalam berdakwah Rasulullah Saw. mempunyai strategi dakwah yang beliau lakukan, yaitu dakwah secara sembunyi-sembunyi dan dakwah secara terang-terangan.  Dakwah Rasul secara sembunyi ini menyerukan agama Islam kepada para kerabat, sahabat, hingga orang-orang sekitar rumah tangganya.

Setelah orang-orang terdekatnya, mempercai kenabian dan ajaran (Islam) yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw., berikutnya mengajak orang dari luar keluarga, yaitu sahabat karibnya bernama Abu Bakar bin Abi Quhafah. Dan dari Abu Bakar-lah, yang dikenal jujur, Islam diperkenalkan dan sekaligus mempercayai kenabian Muhammad adalah Usman bin Affan, Abdurahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, dan lain-lain, yang di masa ini mereka masih sembunyi-sembunyi masuk Islam.

Setelah dakwah berjalan tiga tahun secara diam-diam, Nabi diperintah oleh Allah untuk melakukan dakwah secara terang-terangan (Q.S al-Syu’ara’: 214) dengan mengajak keluarganya, yaitu Bani Hasyim untuk masuk Islam, namun mereka tidak menghiraukannya, bahkan pamannya, Abu Lahab mencemooh Nabi, sehingga turunlah Q.S al-Lahab: 1-5, “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan benar-benar binasa dia! Tidaklah berguna baginya hartanya dan apa yang dia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak (neraka). Dan (begitu pula) istrinya pembawa kayu bakar (penyebar fitnah). Di lehernya ada tali dari sabut yang dipintal”.

Berikutnya Nabi  mengajak orang-orang sesukunya, yaitu kaum Quraisy untuk mengesakan Tuhan dan bahwa tiada sekutu bagi-Nya (Q.S al-Hijr: 94). Mereka ada yang menyatakan masuk Islam, tetapi banyak pula yang menentangnya. Kaum Quraisy yang menentangnya tidak berani menyakiti Nabi, karena Rasulullah dilindungi oleh pamannya, Abu Thalib yang sangat disegani kaum Quraisy. Abu Thalib sebenarnya membenarkan Islam, membela Muhammad, namun tidak mengikuti apa yang dibelanya.

Baca Juga:  Proyek Mengembalikan Sejarah Keemasan Islam, Mungkinkah?

Di masa berikutnya, Rasulullah mengalami amul khuzni, tahun kesedihan, ketika orang-orang terdekatnya meninggal dunia, yaitu Khadijah dan Abu Thalib yang berselang tiga hari. Situasi ini dimanfaatkan orang-orang Quraisy yang tidak mengikuti ajaran Islam untuk terus mengganggu Nabi, sehingga dakwah pun disyiarkan ke luar kota Mekkah, yaitu ke Thaif, khususnya ke suku Saqif, meski di sana juga mengalami penolakan, dan bahkan menyakiti Rasulullah dengan melempar batu.

Allah memperkenankan Rasulullah untuk langsung menghadap Allah Swt. lewat peristiwa isra’ mi’raj (perjalanan spiritual dari masjid al-Haram ke masjid al-Aqsa dan selanjutnya ke sidratu al-muntaha). Pada masa ini, Abu Bakar Shiddiq membenarkan peristiwa spiritual yang dialamai Rasulullah, dan akhirnya ia masuk Islam.

Karena penduduk Mekkah tidak banyak berubah, Allah memerintahkan Rasulullah untuk hijrah ke Madinah. Di sanalah Rasulullah membangun masyarakat baru, sebuah masyarakat madani.

Namun demikian, inspirasi yang bisa dipetik dari jalan dakwah yang dilakukan Nabi Muhammad Saw. periode Mekkah ini terkait dengan prinsip-prinsip egaliter dalam Islam. Artinya, dalam menjalankan dakwah, Rasulullah tidak hanya menemukan orang-orang yang mempercayai sekaligus masuk Islam, melainkan ada beberapa orang yang menolak dan menentang dengan hadirnya ajaran Islam ini, salah satunya kaum Quraisy.

Adapun sebab-sebab kaum Quraisy menentang dakwah Rasulullah Saw. di antaranya karena mereka tidak setuju dengan ajaran persamaan hak dan kedudukan antara semua orang, mereka menolak adanya kehidupan setelah kematian, mereka berat meninggalkan agama dan tradisi hidup masyarakat warisan leluhur mereka, dan mereka menentang keras dan berusaha mengehntikan dakwah Rasulullah Saw. sebab Islam melarang menyembah berhala.

Tinggalkan Balasan