Jamaah Tabligh (selanjutnya disingkat JT) menjadi salah satu klaster dalam penyebaran COVID-19 di dunia. Hal ini setidaknya ditunjukkan pada data-data penderita virus ini di beberapa Negara seperti India, Thailand, Malaysia, Brunei, dan Indonesia.

Data menunjukkan bahwa di India, dari sekitar 4067 kasus sekitar 1445 berasal dari JT (Sing & Sing, 2020), Kementerian kesehatan Malaysia menunjukkan bahwa 60% dari COVID-19 itu disumbang dari JT dan 68% dari total kematian juga disumbang oleh JT (tribunnews/4/4). Sementara di Indonesia, kasus Ijtima’ Asia di Gowa juga mulai menuai panen.

Pertanyaannya, apakah ini hanya sebuah kebetulan atau ada relasi antara cara ibadah dan keyakinan JT dengan kondisi rentan covid-19?

JT adalah kelompok organisasi keagamaan yang bermarkas di India yang didirikan oleh Maulana Ilyas al-Kandahlawy pada 1927 dan kini tersebar di berbagai belahan dunia. Di antara ajaran yang prinsip dan fundamental bagi JT yakni enam hal: Syahadat, Shalat, Ilmu dan dzikir, memuliakan orang Islam, Ikhlas dalam niat, dan Dakwah atau Tabligh dalam bentuk khuruj.

Pemahaman JT atas  Penyakit

Dalam kesehariannya JT mengamalkan pesan-pesan yang tertulis dalam hadis-hadis nabi. Sehingga salah seorang peneliti, Barbara D. Metcalf (1993),  menyebut JT sebagai Living Hadith, hadis berjalan, kelompok yang hafal dan mengamalkan hadis.

Termasuk menarik apabila melihat apa keyakinan JT tentang penyakit yang disandarkan pada hadist. Karena itulah, penting pemahaman hadist tentang penyakit menurut kelompok JT perlu dieksplorasi di sini.

JT meyakini bahwa tidak ada penyakit menular, jika ternyata menular, maka penularannya pasti atas kehendak Allah. Hal ini berangkat dari hadis “tidak ada infeksi, mengundi nasib, binatang terbang di malam hari dan cacing dalam perut” (HR. Bukhari, 5278).

Hadist tersebut menjadid dasar keyakinan para anggota JT mengenai penyakit. Pandemi merupakan  azab  yang Allah ditimpakan  terhadap  siapa  yang  dikehendaki-Nya,  dan  menjadikannya  sebagai  rahmat  bagi orang-orang  yang  beriman.

Dampak Keyakinan JT terhadap Klaster COVID-19

Dengan meyakini hadis di atas, menjadi sangat wajar jika JT tampaknya kurang mengindahkan protokol kesehatan pada masa Covid-19 ini di berbagai negara. Mereka cenderung abai dan tidak menggunakan hadis yang lain misalnya, “bilamana suatu wabah menjangkiti suatu kaum, maka janganlah kalian mendatanginya, tetapi jikalau kalian ada di daerah itu, maka janganlah keluar darinya.”

Akhirnya terdapat beberapa peristiwa yang menjadi JT berada di tengah pusaran penyebaran COVID-19 di beberapa negara. Setidaknya di Indonesia ada beberapa titik pusaran JT dalam covid-19 seperti: Tabligh Petalling, Ijtima Tabligh Gowa, JT Kebon Jeruk, dan JT Temboro.

Pertama, Tabligh Petalling. Pertemuan akbar yang dihadiri oleh 16.000 peserta, 15.000 di antaranya berasal dari Malaysia, sedangkan sisanya berasal dari beberapa Negara, 698 dari Indonesia. Setelah acara ini, kemudian penularan COVID-19 semakin meluas di Malaysia, Thailand, Singapura, Brunei dan Indonesia.

Kedua, Ijtima Tabligh Gowa. Ijtima’ ini sempat dihadiri oleh sekitar 19.163 orang, dengan sekitat 18.698 di antaranya berasal dari Indonesia. Tak lama setelah digagalkannya acara ini, di berbagai daerah di Indonesia mulai terkena, seperti NTB, Purbalingga, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Klaten, dll.  

Ketiga, Masjid Jami’ Kebon Jeruk. Masjid ini akhirnya dinyatakan tertutup setelah dmitemukan sekitar 97 jamaahnya yang positif Covid-19. Hingga saat ini masjid ini masih diisolasi. Masjid ini merupakan persinggahan dari para anggota JT yang sedang melakukan khuruj baik yang berasal dari luar Jakarta atau bahkan dari luar negeri.

Keempat, JT Temboro.  Desa Temboro, Magetan adalah salah satu kantong JT dan pernah menjadi tuan rumah Ijtima Jamaah Tabligh pada 2011. Desa ini menjadi ramai diperbincangkan setelah pemulangan para santri Pesantren al-Fatah yang berasal dari Malaysia diperiksa di bandara Malaysia dinyatakan positif usai rapid test (meski kemudian setelah itu semua dinyatakan negatif).

Di samping itu, sekitar 75  santri al-Fatah, dinyatakan positif (reaktif) COVID-19 setelah menjalani Rapid Test. Padahal di awal April, pesantren ini baru memulangkan sekitar 22 ribu santrinya yang berasal dari berbagai daerah di belahan Indonesia dan negara tetangga. Temboro menjadi klaster baru penyebaran COVID-19 setelah tiga klaster sebelumnya.

Rekonstruksi Khuruj, Mengadaptasi Sains

Khuruj dan Ijtima’ tampak menjadi salah satu pusat penyebaran COVID-19 di JT. Perintah Khuruj didasari pada teks al-Qur’an Surat Ali Imron 105 dan 110, mengenai perintah untuk menyampaikan perbuatan kebaikan.

Di samping itu, cara hidup yang kurang memerhatikan standar kesehatan, seperti ketika khuruj, makan tidur, cuci baju semua dilaksanakan di masjid bahkan makan dalam satu nampan seperti yang Rasulullah lakukan. Hidup berjamaah/berkelompok merupakan satu hal yang dilaksanakan secara kontinyu oleh anggota JT. 

Kasus-kasus di atas menjadi pelajaran bahwa penggunaan hadis dalam dakwah atau khuruj yang disampaikan oleh anggota JT terkesan tidak mengenal situasi dan kondisi. Misalnya terdapat salah seorang anggota JT yang dikarantina karena COVID-19 yang selalu membantah saran dokter dengan hadis.

Memang benar apa dikatakan oleh Barbara Metcalf (1993) bahwa JT cenderung menggunakan hadis sebagai kritik terhadap budaya yang ada saat ini. Kebenaran bagi JT berada di hadis-hadis yang mereka pegangi dan amalkan, sehingga, masukan-masukan yang tidak didasarkan kepada sabda Nabi Muhammad, akan rawan diabaikan dan dibantah. Terkadang alasan dalam bentuk statemen “kami tidak takut Korona, kami hanya takut kepada Allah” dapat menjadi satu bentuk kesombongan yang dibungkus oleh nada tawakkal.

Pada saat ini penting menunjukkan adanya integrasi dan dialog antara doktrin agama yang ada dalam hadis Nabi dengan fenomena sains. Para petinggi JT perlu mempertimbangkan dan merekonstruksi kembali hal-hal yang sifatnya cabang dan terkait dengan interaksi kemanusiaan.

Dalam hemat penulis, JT perlu mempertimbangkan statemen Ibnu Hajar al-Asqalany dalam kitab Badzlul Maun (Buku tentang Pandemi dalam Dunia Islam)(1991) yang menyatakan bahwa pada masa pandemi, terutama COVID-19, maka yang perlu didengarkan adalah saran-saran dari para ahli kesehatan, bukan dari yang lainnya.  JT perlu juga mempertimbangkan visi masa depan dari JT itu sendiri, misalnya, bagaimana khuruj (berdakwah keluar rumah selama beberapa waktu, 3 hari hingga 40 hari) itu dilakukan rasionalisasi dan para jamaah yang hendak khuruj diberi bekal yang mendalam mengenai kesehatan dan aspek aspek sosial yang lain.

Bekal hadis saja dalam melakukan khuruj merupakan satu hal yang belum cukup, tapi para anggota harus dibekali dengan pengetahuan lainnya.  Hal ini penting sehingga mereka tidak asal khuruj dalam setiap tahunnya atau dalam setiap kurun tertentu yang kemudian justru dapat membuat keresahan  di masyarakat. Di sini JT perlu ingat pula dengan statemen Ali bin Abi Thalib, bahwa sebuah kebenaran yang tidak terroganisasi akan kalah oleh kebatilan yang terorganisir. Khuruj harus menyesuaikan dengan situasi zaman.  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.