Banyak kalangan kurang mampu merasa hati ingin menjalankan perintah Allah bernama sedekah (shadaqah). Lazimnya sedekah dipahami sebagai bantuan harta dari seseorang untuk mereka yang kurang dan tidak mampu. Lalu, jika tidak mampu apa tidak ada pintu untuk bersedekah?

Jangan pernah berkecil hati untuk melakukan kebaikan, termasuk bersedekah. Ingin berbuat kebaikan jangan menunggu punya harta. Begitu pula ingin bersedekah tidak harus kaya atau memiliki rejeki yang berlebih. Sebeb sedekah ternyata tidak hanya beruba materi ataupun barang.

Rasa kecil hati dan ketidakmampuan untuk bersedekah ini pernah pula dirasakan oleh para sahabat. Mereka ingin bersedekah tetapi tidak merasa cukup harta untuk berbagi kepada sesama.

Dalam sebuah hadits riwayat Imam al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra dan juga diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulullah bersabda: 

عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ صَدَقَةٌ. قَالُوا : فَإِنْ لَمْ يَجِدْ؟ قَالَ : فَيَعْمَلُ بِيَدِهِ فَيَنْفَعُ نَفْسَهُ وَيَتَصَدَّقُ. قَالُوا : فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ أَوْ لَمْ يَفْعَلْ قَالَ : فَيُعِينُ ذَا الْحَاجَةِ الْمَلْهُوفَ. قَالُوا : فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ قَالَ : فَيَأْمُرُ بِالْخَيْرِ أَوْ قَالَ بِالْمَعْرُوفِ. قَالُوا : فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ قَالَ : فَلْيُمْسِكْ عَنِ الشَّرِّ فَإِنَّهُ لَهُ صَدَقَةٌ 

Artinya: “Wajib bagi setiap Muslim untuk bersedekah.” Kemudian beberapa orang bertanya, “Jika ia tidak mampu, wahai Rasul?” Rasul kemudian menjawab, “Hendaknya bekerja dengan tangannya sendiri, kemudian bermanfaat bagi dirinya dan bersedekah.” Mereka kemudian bertanya kembali, “Jika tidak bisa?” Rasul pun menjawab, “Maka boleh dengan menolong orang yang sedang membutuhkan pertolongan.” Mereka masih saja bertanya, “Jika tidak dikerjakan wahai Rasul?” Rasul menjawab, “Maka boleh dengan meneggakkan kebenaran atau mengatakan yang jujur.” Mereka bertanya kembali, “Jika masih belum bisa melakukan?” Rasul menjawab, “Maka sebaiknya menahan diri berbuat kejelekan, karena hal itu bernilai sedekah baginya.” (Abu Bakar Ahmad bin al-Husain al-Baihaqi, al-Sunan al-Kubra, Hederabad, Majelis Dairah al-Maarif, 1344 H, juz 4, halaman 188).

Dalam hadist di atas dapat disimpulkan beberapa jalan dan pintu untuk bersedekah.

1. Bekerja kemudian dari hasil kerjaan tersebut bisa bermanfaat bagi dirinya kemudian bersedekah. 

Seseorang jika ingin bertahan hidup maka dia harus berusaha untuk bekerja untuk mencukupi kebutuhannya. Jika dalam bekerja ia mampu menghasilkan rejeki lebih maka dia bisa mensedekahkan sebagian hartanya.

2. Menolong orang yang sedang membutuhkan bantuan. 

Namun, jika seseorang memiliki pekerjaan dan hasilnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri, maka orang tersebut bisa menolong seseorang yang sedang membutuhkan pertolongannya atau jasanya baik tenaga atau pikiran.

3. Menegakkan kebenaran dan berkata jujur

Jika dia tidak memiliki kemampuan untuk bersedekah harta ataupun menolong seseorang dengan jasanya, maka ia cukup berkata jujur serta menegakkan kebenaran meski kebenaran itu sulit diterima.

4. Menahan diri agar tidak melakukan perbuatan yang dilarang oleh agama.

Jika dari ketiga amalan tersebut masihlah belum bisa melakukannya, hendaknya dengan menahan diri untuk tidak melakukan maksiat atau hal-hal yang di larang agama cukup membuatnya mendapatkan pahala yang setara dengan pahala ibadah sedekah.

Pelajaran penting dari sabda Nabi di atas bahwa bersedekah itu adalah menolong orang lain dalam bentuk apapun. Bahkan diam diri untuk melakukan perbuatan yang bisa merugikan orang lain juga sebuah sedekah. Sehingga ada kata-kata bijak: jika tidak bisa berbuat baik kepada orang lain, setidaknya tidak berbuat jelek kepada yang lain.

Ibadah sedekah bukan hanya dengan harta, namun orang-orang yang dalam segi finansialnya kurangpun mereka bisa menjalankan amalan yang pahala menyamai dengan pahala sedekah. Membantu orang lain dalam bentuk tenaga dan pikiran adalah sedekah. Jika pun belum mampu maka diam saja untuk tidak berbuat kejelekan adalah sedekah.

Walaupun bukan dengan harta, rumus sedekah tetap berlaku. Memberi manfaat dan pertolongan kepada orang lain akan dibalas dengan lipatan pahala dan manfaat. Walaupun ikhlas tanpa iming-iming imbalan, ingatlah setiap kebaikan yang ditanam akan menumbuhkan buah manis kebaikan serupa pada yang melakukan. Begitu pula sebaliknya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.