kembali pada al-quran
al Quran

Jargon Kembali pada al-Qur’an, Ini Tips dari Sayyidina Ali

Jargon ar Ruju’ ila al Qur’an wa as Sunnah (kembali pada al-Quran dan Sunnah) kerap dipromosikan oleh sebagian kalangan sebagai solusi dari segala kemaksiatan dan kemunduran umat Islam. Penawaran ini dianggap sebagai satu-satunya solusi yang paling ampuh untuk mengembalikan marwah dan ‘izzah umat Islam. Ditilik dari sisi diksi kata yang dipilih, jargon ini bukan hanya pas, tapi juga sangat mulia. Sebab, al Qur’an dan hadis memang menjadi kitab rujukan pertama dan utama sebagai sandaran hukum.

Jargon ini benar, sama sekali tidak salah. Tapi, bagaimana gambaran kongkritnya masih harus dibicarakan. Apakah cukup hanya membacanya/ngaji dan mempelajari terjemahannya lalu mengamalkannya versi pemahaman kita? Atau mempelajarinya dari seorang guru? Ataukah dengan membaca kitab-kitab tafsir dan syarah hadis? Atau seperti apa?

Tarikh at Thabari mengisahkan pertemuan Sayyidina Ali dengan kelompok Khawarij. Khalifah Ali menemui mereka sambil membawa mushaf al Qur’an. Di hadapan kelompok Khawarij, Ali berkata kepada al Qur’an yang dibawanya, “Hai al Qur’an!, Bicaralah kepada kami”. Sontak, semua hadirin kaget dan melongo. Dalam hati mereka berkata, apa-apaan ini, Khalifah menyuruh mushaf untuk bicara, apakah dia tidak waras? Bagaimana bisa al Qur’an bisa bersuara bukankah ia benda mati? Kira-kira seperti itu unek-unek dalam hati kelompok Khawarij.

Sayyidina Ali kemudian berkata, “Al Qur’an hanyalah teks, tulisan yang dibungkus dua sampul. Ia tidak bisa bicara sendiri, manusialah yang berbicara melaluinya”.

Sayyidina Ali sejatinya ingin bertanya kepada kaum Khawarij, dengan cara apa kalian memahami “la hukma Illa lillah” Tidak ada hukum kecuali hukum Allah? Tentu jawabannya dari al Qur’an. Benar. Tapi kan al Qur’an tidak bisa berkata-kata, manusia yang berbicara melaluinya?. Hukum Allah yang dimuat dalam al Qur’an tidak meuncul dengan sendirinya tanpa ada campur tangan penafsiran manusia.

Baca Juga:  Prediksi Rasulullah Perihal Kemunculan Nabi Palsu

Dengan kata lain, Sayyidina Ali hendak mengatakan kepada kelompok Khawarij, bahwa yang diklaim mereka sebagai “Hukum Allah” adalah hukum versi mereka yang dipahami dari teks tertulis al Qur’an yang tidak bisa berbicara. Sebab, al Qur’an tidak bisa berbicara untuk menjelaskan dirinya sendiri. Ia hanya bisa berbicara melalui pembacaan manusia. Entah itu berupa penerjemahan, pentakwilan, atau penafsiran.

Karena yang berbicara atas nama al Qur’an adalah manusia, maka sifatnya sangat nisbi, terbatas dan probabilitas. Bisa benar, bisa juga salah.

Apa yang dilakukan Sayyidina Ali terhadap kelompok Khawarij tersebut merupakan pukulan telak bagi mereka yang selama ini memonopoli tafsir “la hukma Illa lillah”. Mereka menganggap hanya pemahaman mereka sendirilah yang paling tepat. Selain mereka di cap sesat. Tipikal seperti inilah yang membuat kelompok Khawarij begitu mudah mengkafirkan muslim lain yang beda penafsiran. Sehingga, Khawarij lalu melahirkan aktivis-aktivis yang berhaluan keras, radikalis dan teroris.

Beginilah penjelasan dan tips Sayyidina Ali kalau mau “Ar Ruju’ila al Qur’an was sunnah”. Al Qur’an, karena tidak bisa berbicara sendiri, maka butuh penafsiran dari manusia. Namun tidak sembarang manusia yang bisa melakukan penafsiran terhadap al Qur’an. Butuh seperangkat alat pendukung untuk menafsirkan teks al Qur’an. Yakni, ada beberapa disiplin ilmu agama yang harus dikuasai. Seperti, ilmu tafsir, ulumul hadis; sebab salah satu fungsi hadis adalah menjelaskan kandungan al Qur’an, memahami ilmu gramatikal bahasa Arab; nahwu dan sharaf, ilmu ushul fikih, ilmu fikih, ilmu mantiq, ilmu bayan dan seterusnya.

Untuk umat Islam saat ini sebenarnya diberikan kemudahan untuk ar Ruju ‘ila al Qur’an. Cukup membaca kitab-kitab tafsir yang otoritatif. Semisal Tafsir Jalalain, Tafsir al Thabari, Tafsir al Qurthubi, Tafsir at Tahrir wa at Tanwir, Tafsir al Sa’di atau Tafsir al Misbah karya ulama Nusantara Quraisy Shihab dan seterusnya. Karena itu, marilah kembali kepada al Qur’an dengan cara yang benar. Bukan memaksakan kebenaran.

Bagikan Artikel ini:

About Faizatul Ummah

Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo

Check Also

hadiah dari non muslim

Fikih Toleransi (5): Menerima Hadiah dari Non Muslim

Rasulullah adalah manusia paling sempurna dalam segala aspek kehidupannya; paling sempurna ibadahnya, pribadi yang paling …

hidangan non muslim

Fikih Toleransi (4) : Memakan Hidangan Non Muslim

Agama Islam membolehkan memakan makanan apa saja yang penting halal, demikian juga minuman. Maka, meskipun …