Jejak Kerajaan Samudera Pasai dalam Proses Islamisasi Nusantara (Bagian I)

0
490
islam di aceh

Sejarah Islam Nusantara

Pertanyaan besar tentang Islam Nusantara masih terus menjadi perdebatan akademis yang menarik untuk selalu dikaji dan didiskusikan dari berbagai aspek. Tentu saja aspek  sejarah merupakan wilayah paling menggairahkan dengan mempertanyakan kapan sejatinya Islam pertama kali mendarat di bumi nusantara ini.

Banyak proyek penelitian dalam berbagai pendekatan baik arkeologi, filologi, antropologi dan lainnya berupaya menggali pertanyaan besar ini yang sampai kini terbagi dalam beberapa kategori periodisasi yang sekaligus mementukan seperti apa karakteristik Islam Nusantara. Berbagai penelitian dari berbagai pendekatan ini harus terus digairahkan agar kelak Islam Nusantara tidak hanya menjadi slogan ideologis untuk merumuskan karakterstik Islam yang unik ala Nusantara, tetapi menjadi fakta akademis yang layak untuk dipertanggungjawab, bahkan dibanggakan.

Salah satu fakta sejarah yang menarik untuk dikaji dalam proyek Islam Nusantara tersebut adalah peranan kerajaan-kerajaan Islam pada masa dahulu untuk memberikan kontribusi terhadap islamisasi nusantara. Salah satu kerajaan Islam tertua yang bisa dijadikan pijakan dalam memahami sejarah Islam nusantara adalah Samudera Pasai.

Kerajaan yang berada di Aceh Utara ini pada masanya memiliki peran penting dalam penyebaran Islam tidak hanya di Indonesia tetapi di kawasan nusantara untuk menyebutkan Asia Tenggara. Intensitas hubungan luar dengan kerajaan lain menjadi media kerajaan ini untuk menyebarkan Islam.

Sebagai sebuah kerajaan besar dan kokoh yang memiliki hubungan dengan jaringan yang cukup kuat, tidak mungkin keberadaan kerajaan ini tidak memiliki peran dalam penyebaran Islam. Apalagi secara resmi kerajaan ini telah dinyatakan sebagai kerajaan Islam sebagaimana nanti dijelaskan berdasarkan bukti arkeologis dan catatan dari pelancong asing yang pernah singgah di Kerajaan ini.

Jejak Kerajaan Samudera Pasai

Sebelum berbicara tentang kerajaan Samudera Pasai ada beberapa istilah yang kadang perlu dijelaskan karena adanya kekaburan istilah dalam menyebut kerajaan ini. Ada beberapa penyebutan tentang keberadaan kerajaan ini di Aceh dengan istilah samudera, Pasai dan kadang digabungkan Samudera-Pasai.

Dalam hikayat Raja-raja Pasai disebutkan istilah kerajaan Pasai. Pada bagian lain dari hikayat tersebut menceritakan kerajaan bernama Samudera yang diperintah oleh Malikus Saleh. Pasai sebenarnya merupakan kerajaan baru yang dibuka oleh Malikus Shaleh sebagai perluasaan kekuasaannya yang diserahkan kepada putranya bernama Malikus Zahir. Karena itulah, secara sederhana dua kerajaan ini kemudian disebutkan menjadi Samudera-Pasai. (Ismail: 1993, 3). Karena secara geografis berdekatan, sesungguhnya penyebutan Samudera Pasai dimaksudkan untuk menyebutkan dua kerajaan tersebut.

Keberadaan kerajaan ini dapat dilacak dari dua hal. Pertama catatan dari perantau asing tentang keberadaan kerajaan ini. Kedua, peninggalan prasasti yang bisa dilacak sebagai bagian dari sejarah kerajaan ini. Untuk catatan pelancong, dari sumber Cina disebutkan adanya sebuah kerajaan yang bernama Samudera pada abad 14. Secara eksplisit disebutkan pada tahun 1385 di mana kerajaan Samudera diperintah oleh raja bernama Sultan Malik Ghadhanfar yang mengirim utusannya ke Cina.

Dalam catatan lain dari Dinasti Yuan disebutkan kedatangan dua orang utusan, Hasan dan Sulaiman, dari kerajaan Samudera ke Cina pada tahun 1282. Catatan lain adalah dari Marco Polo yang mencatat ringkas tentang keberadaan kerajaan Samudera yang dipimpin oleh Sultan Malik al-Salih atau Sultan Samudera yang wafat pada tahun 1297 M. (Yatim dan Nasir: 1990, 12). Catatan lain yang menunjukkan keberadaan kerajaan ini adalah dari Ibnu Battuta yang menerangkan jati diri Sultan Malik al-Tahir sebagai orang yang alim dan gemar pengetahuan Islam. Disebutkan pula bahwa Sultan mempunyai penasehat keagaman kerajaan bernama Kadi Syarif Amor Sayyid dari Shiraz dan Tajal Din Dari Isfahan. (Yatim dan Nasi: 1990, 13).

Jika dilihat dari bukti arkeologis, keberadaan Samudera ini bisa dilihat dari ditemukannya makam sang Sultan. Nisan yang tercatat di makamnya tertulis 696 H/1297 M. Makam ini terletak di Kampung Muenasah Beringin, gedong, Lhoksuemawe Aceh sebagai kawasan dari Kerajaan Samudera. Bukti lain keberadaan kerajaan Islam ini adalah nisan dari tokoh-tokoh yang disebutkan dengan istilah yang syahid serta dicintai allah (Mahbub qlub al-khaliq). Dua tokoh pemilik makam di Luebok Tuwe meninggal tahun 622 H/1226 M dan makamnya di Matang Ulim meninggal pada tahun 676H/1278 M.

Jika catatan di atas dapat dianggap sebagai bukti, sejatinya abad 13 institusi kerajaan yang bercorak Islam di Nusantara telah ada. Kerajaan Samudera menjadi salah satu prasasti sejarah yang dapat menguatkan berdirinya institusi kerajaan bercorak Islam yang  sudah mapan. Jika dilihat dari catatan tersebut sang Raja juga mempunyai mufti kerajaan yang bertugas memberikan nasehat-nasehat keagamaan.

Samudera Pasai adalah kerajaan yang berada di Aceh Utara. Kerajaan ini dikenal sebagai kerajaan Islam kedua setelah Perlak. Diperkirakan Samudera Pasar berdiri sejak abad ke 7 H/13 M di bawah pemerintahan pertama Sultan Al-Malik Ash-Shalih yang memerintah pada tahun 686 H/1287 M sampai dengan 696 H/1297 M. Kejayaan kerajaan Samudera Pasai berakhir pada abad 10 H/16 M (Ismail 2018: 102). Sebagai sebuah kerajaan tiga abad merupakan masa yang cukup lama dan kokoh bagi sebuah kerajaan. Sebelum kerajaan Samudera menurut sejarah Aceh sudah ada kerajaan islam yakni Kesultanan Aceh Awal. Kesultanan Aceh awal diperintah oleh Johan Syah yang diperkirakan pada tahun 1205 M.

Bersambung..