Mbah Maksum
Mbah Maksum

Jejak Ulama Nusantara (1) : Kisah Mbah Maksum dan Etnis Tionghoa

Saat membaca judul di atas, yang akan terbersit pertama kali adalah nama salah satu tokoh ulama nusantara yang fenomenal, yaitu Mbah Ali Maksum Krapyak. Usat punya usut, kedua tokoh ini, Mbah Maksum dan Mbah Ali Maksum memiliki hubungan biologis. Ya, Kiai Ali Maksum merupakan putra pertama dari hasil pernikahan Mbah Maksum dengan Nyai. Hj. Nuriyah binti KH Muhammad Zein Lasem, yang lahir pada tanggal 2 Maret 1915 di desa Soditan Lasem kabupaten Rembang. Lebih lanjut mengenai Mbah Ali Maksum, penulis akan menorehkan kembali beberapa sepak terjang Mbah Ali Maksum di lain kesempatan.

Kembali kepada Mbah Maksum, Mbah Maksum (biasa juga ditulis dengan Ma’shum) memiliki nama lengkap Muhammadun bin KH. Ahmad. Mbah Maksum lahir dari pasangan suami istri bernama KH. Ahmad dan Nyai Qosimah pada kisaran tahun 1868. Menginjak usia sekitar 7 tahun, Mbah Maksum kecil dititipkan oleh ayahnya untuk berguru kepada KH Nawawi di Jepara. Dari KH Nawawi inilah, Mbah Maksum kecil mulai akrab dengan ilmu agama.

Menginjak usia remaja, Mbah Maksum muda tidak hanya menghabiskan waktu untuk belajar dari sang ayah di Lasem saja. Sebagaimana ulama pada umumnya, Mbah maksum juga belajar dan bertabarukan kepada beberapa ulama lainnya. Seperti diantaranya KH. Abdullah, KH. Abdul Salam, dan KH. Siroj di Kajen, KH. Ma’shum dan KH. Syarofudin di Kudus, KH. Umar Harun di Sarang, KH Idris di Solo, KH. Dimyati Idris di Termas, KH. Ridhwan di Semarang, KH Hasyim Asyari di Jombang, KH Kholil bangkalan, hingga KH Mahfud at-Turmusi di Makkah.

Pada sekitar tahun 1940-an, Mbah Maksum memutuskan untuk menetap di Lasem dan mengajarkan keilmuannya disana. Sampai pada akhirnya, Mbah Maksum bermimpi bertemu dengan Rasulullah. Dalam mimpi tersebut Mbah Maksum mendapat nasehat dari Rasulullah untuk segera mengajarkan ilmunya dan tidak perlu khawatir akan kebutuhan hidupnya. Karena hal tersebut sudah dijamin oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akhirnya, Mbah Maksum pun meneguhkan niatnya untuk mendirikan sebuah pesantren. Pesantren tersebut sampai kini masih tetap eksis memberikan pengajaran kepada santrinya. Nama pesantren tersebut adalah Pesantren Al-Hidayat Lasem.

Baca Juga:  Jejak Ulama Nusantara (2) : Mbah Maksum, Ayam Jago dari Jawa

Bertetangga dengan Etnis Tionghoa

Sebagai daerah pesisir, Lasem menjadi kota kecil yang menarik minat banyak saudagar untuk bermukim. Tak mengherankan jika Lasem sering dijuluki dengan miniature Tiongkok. Selain Tiongkok, Lasem juga dipenuhi oleh saudagar-saudagar dari Timur Tengah. Saudagar-saudagar Timur Tengah inilah yang mengenalkan penduduk Lasem terhadap agama Islam.

Ditengah-tengah masyarakat yang majemuk inilah, Mbah Maksum dan Pesantren al-Hidayat menjadi sebuah ikon yang mewakili ummat muslim. Jadi, sudah menjadi kewajiban bersama untuk tetap menjaga dan mempertahankan harmonisasi hubungan tersebut. Maka tidak mengherankan jika Mbah Maksum dikenal oleh tetangganya (red: Etnis Tionghoa) sebagai figure yang mengayomi dan penuh kharismatik.

Ada sebuah kisah menarik yang pernah terjadi antara Mbah Maksum dan salah seorang tetangganya yang beretnis Tionghoa. Kisah ini diceritakan langsung oleh salah seorang putri Mbah maksum, yakni Nyai Azizah Maksum. Sebelum mendirikan pesantren, kisah Nyai Azizah, Mbah Maksum membangun tujuh masjid yang ada di Lasem. Mbah Maksum ngaji keliling di masyarakat, dari satu desa ke desa lain di Rembang dan Lasem. Mbak Maksum sangat akrab dengan masyarakat, termasuk dengan warga Tionghoa.

Suatu hari, ada warga Tionghoa yang mengeluh. Setelah ditanya oleh Mbah Maksum perihal keluhannya tersebut, diketahuilah bahwa warga Tionghoa tersebut sering kehilangan manga di pekarangan rumahnya. Usut punya usut, yang menghabiskan manga tersebut adalah salah satu oknum santri di Pesantren Al-Hidayat milik Mbah Maksum. Setelah diketahui siapa oknum santri tersebut, Mbah Maksum kemudian memanggil santri tersebut.

Saat itu juga, santri tersebut diminta oleh Mbah Maksum untuk meminta maaf kepada warga Tionghoa yang mangganya sering menjadi incaran santri tersebut. Belum cukup sampai disitu saja, di depan warga Tionghoa tersebut, Mbah Maksum juga menghukum santrinya untuk nungging. Kemudian dipukul bokongnya. Hal ini semata-mata dilakukan Mbah Maksum untuk mendidik santri tersebut. Juga untuk menjaga harmonisasi hubungan dengan warga Tionghoa tersebut dan juga tetangga lainnya.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About M. Arif Rohman Hakim

Avatar
Mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta