Imam Besar Masjid Istiqlal Prof KH Nasaruddin Umar
Imam Besar Masjid Istiqlal Prof KH Nasaruddin Umar

Jika Ingin Rawat Indonesia, Mari Rawat Umat Islam dan Moderasi Islam

Jakarta –Di era kemaduan teknologi yang serba digital dan online membuat dunia komunikasi semakin canggih dan memudahkan informasi tersebar luas ke seluruh dunia dengan cepat. Ironisnya, selain manfaat besar, era digitilasasi dan online, juga dimanfaatkan kelompok atau orang untuk melakukan hal-hal yang negatif. Salah satunya dengan melakukan penistaan agama di media online dan media sosial.

Hal itu diakui oleh  Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof KH Nasaruddin Umar. Menurutnya, penistaan agama di dunia maya kalau ditelusuri sangat banyak. Bahkan banyak konten yang menyudutkan dan menghujat umat Islam di dunia maya.

“Saya sering mengatakan jika ingin melihat Indonesia bertahan lama, solid dan kuat, mari kita merawat umat Islam, mari kita merawat moderasi Islam, tidak ada cara lain untuk mempertahankan Indonesia di masa depan tanpa mengurangi agama-agama yang lain kecuali memperkuat umat Islam,” ujar Nasaruddin pada Webinar bertema “Penistaan Agama Dalam Pandangan Islam yang digelar Yayasan Indonesia Damai Mengaji”, Kamis (2/9/2021).

Nasaruddin menegaskan, memperkuat umat Islam sama dengan memperkuat Indonesia. Sebaliknya, lemahnya umat Islam sama dengan lemahnya Indonesia. Tanpa mengurangi peran agama lain, kalau umat Islam itu kuat maka dengan sendirinya akan mengayomi agama lain yang minoritas.

“Tapi kalau umat Islam diadu domba, di situ muncul penistaan agama berdasarkan agama aliran dan seterusnya, jadi kita harus waspada umat Islam tidak boleh terpancing dengan adanya pernyataan-pernyataan yang ada, cara yang paling baik untuk menyelesaikan penistaan agama ini serahkan ke aparat yang berwajib, jangan kita main hakim sendiri itu tambah memperkeruh situasi,” jelasnya.

Untuk itu ia mengingatkan, umat Islam tidak boleh dikontrol nafsu dan semangat berlebihan, tapi juga tidak boleh sangat lembut. Ia tidak sependapat kalau umat Islam diam dan tidak ada reaksi apapun saat dimaki-maki. Seolah-olah umat Islam kehilangan percaya diri.

Baca Juga:  ISIS Malaysia Rencanakan Serangan Bom Berantai Gereja di Yogyakarta

“Kita tidak ingin menjadi umat yang gampangan, gampang dibayar, gampang diancam dan segala macam, umat yang gampangan itu tidak sesuai dengan ajaran Islam, kita harus tegas pada hal-hal tertentu yang perlu kita tegas, tapi kita perlu juga kasih sayang,” jelasnya.

Nasaruddin menegaskan, kalau sudah sabar sebagaimana ajaran Islam. tapi masih dinistakan kelompok tertentu. Maka tidak boleh diam saja, tapi tidak boleh main hakim sendiri.  Sebab kekerasan tidak pernah bisa menyelesaikan persoalan. Kekerasan untuk apapun, kepada siapapun dan atas nama apapun tidak ada tempatnya dalam Islam.

“Islam itu punya cara untuk menyelesaikan seluruh persoalan kecuali dengan cara kekerasan, dan itu yang dilakukan Rasulullah, itu yang dilakukan Walisongo sampai berhasil sangat menakjubkan,” jelasnya dikutip dari laman republika.co.id, Jumat (3/9/2021).

Bagikan Artikel ini:

About redaksi

Avatar of redaksi

Check Also

pwnu dki jakarta menyalurkan keasiswa kepada santri

Peringati Hari Santri, PWNU DKI Jakarta Salurkan Beasiswa 200 Santri

JAKARTA  – Akar historis Hari Santri adalah tercetusnya Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh KH Hasyim …

Pondok pesantren

Pesantren Berperan Besar Sebarkan Ajaran Islam ke Seantero Nusantara

Jakarta – Pesantren berperan besar dalam memperkuat pendidikan Islam dan generasi bangsa. Melalui pesantren juga, …