rasulullah wafat

Jumlah dan Tingkatan Para Sahabat serta Larangan Mencaci Mereka

Ibnu Hajar al-Asqolani mengatakan bahwa yang dinamakan sahabat adalah orang yang menjumpai Nabî Muhammad SAW dalam keadaan mengimani beliau dan wafat dalam keadaan Islâm. Termasuk sahabat adalah orang yang menjumpai beliau, baik dalam waktu yang lama maupun singkat, baik meriwayatkan (hadits) dari beliau maupun tidak meriwayatkan, baik yang turut berperang beserta beliau maupun yang tidak, orang yang melihat beliau walaupun belum pernah menemani beliau, dan orang yang tidak melihat beliau disebabkan sesuatu hal seperti buta.

Kemudian Ibnu Hajar juga menguatkan pendapatnya dengan mengatakan  bahwa definisi ini dibangun di atas pendapat yang paling benar dan terpilih menurut para ulama peneliti (muhaqqiqîn), semisal al-Bukhârî dan guru beliau, Ahmad bin Hanbal, dan yang meneladani mereka berdua. Adapun pendapat selain ini merupakan pendapat yang ganjil (syâdzah).

Jumlah dan Tingkatan Para Sahabat

Berpijak dari pendapat Ibnu Hajar al-Asqolani di atas menandakan bahwa jumlah orang yang hidup semasa Rasulullah, mengimani beliau serta melihat beliau atau tidak karena udzur itu sangatlah banyak. Berarti jumlah sahabat dihitung dari Rasulullah menerima wahyu sampai beliau wafat kurang lebih 23 tahun. Mulai dari para sahabat yang meninggal diawal dakwah Islam di Mekkah sampai para sahabat dari kalangan anak-anak yang pernah melihat Rasulullah dan mengimaninya.

Menghitung jumlah pasti semua sahabat Rasulullah sangatlah mustahil. Tetapi ada beberapa orang dari kalangan Tabi’in memprediksi jumlahnya, salah satunya adalah Abu Zur’ah ar-Razi (termasuk guru Imam Malik). Beliau mengatakan jumlah seluruh sahabat ada 114.000 orang. Keterangan ini juga dikutip oleh al-Khatib al-Baghdadi dalam kitab al-Jami 2:293.

Dari sekian banyaknya sahabat Rasulullah, Al-Hakim an-Naisaburi membagi tingkatan sahabat menjadi 12 tingkatan dalam karyanya al-Mustadrak. Kedua belas tingkatan tersebut yakni:

  1. Sahabat Khulafa al-Rasyidin dan sepuluh orang yang dijanjikan syurga oleh Allah semasa hidup.
  2. Para sahabat yang masuk Islam sebelum Umar bin Khatab dan mengikuti majelis Dar al-Arqam
  3. Para sahabat yang ikut berhijrah ke negeri Habasyah (Etiopia)
  4. Para sahabat dari Anshar yang ikut dalam baiat Aqabah satu
  5. Para sahabat dari Anshar yang ikut dalam baiat Aqabah dua
  6. Para sahabat yang ikut hijrah ke Madinah sebelum nabi SAW sampai di masjid Quba
  7. Para sahabat yang ikut jihad di perang Badar
  8. Para sahabat yang berhijrah ke Madinah antara masa perang Badar sampai perjanjian Hudaibiyah
  9. Para sahabat yang ikut dalam baiat ar-Ridwan saat ekspedisi Hudaibiyah
  10. Para sahabat yang memeluk Islam dan berhijrah ke Madinah setelah perjanjian Hudaibiyah
  11. Para sahabat yang memeluk Islam setelah Fathu al-Makkah
  12. Para sahabat dari kalangan anak-anak yang melihat nabi SAW di waktu dan tempat manapun setelah Fathu al-Makkah
Baca Juga:  Cinta Tanah Air dalam Tafsir Al-Qur'an

Ibnu Katsîr dalam kitab al-Ba’îts al-Hatsîts II/491 mengungkapkan bahwa status sahabat dapat diketahui acap kali dengan (berita) yang mutawatir, atau berita yang mustafîdhah (banyak namun di bawah derajat mutawatir), atau dengan kesaksian sahabat yang lain, atau bisa juga dengan meriwayatkan hadits NAbî Muhammad, baik secara simâ’ (mendengar) ataupun menyaksikan, selama satu zaman dengan Nabi SAW.

Larangan Mencela Para Sahabat

Selain kita diharuskan mengikuti keteladanan para sahabat yang begitu banyaknya itu. Kita sebagai umat Islam juga diharamkan untuk mencela atau mencaci maka sahabat nabi SAW tanpa terkecuali. Hal ini pernah secara langsung disampaikan oleh Rasulullah dalam satu hadist dari Abu Sa’id Al Khudri RA, beliau berkata: Rasulullah SAW telah bersabda:

”Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas sebesar Uhud, tidak akan menyamai satu mud (infaq) salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya.”

 (Imam Al Bukhari dalam Shahih-nya, kitab Al Manaqib, Bab Qauluhu Lau Itakhadztu Khalilan, no. 3397)

Tidak diperbolehkannya kita mencaci sahabat Rasulullah itu karena mereka menduduki tempat yang sangat mulia di sisi Allah dan Rasul-Nya. Kedudukan mulia tersebut didapat karena mereka adalah orang-orang yang membantu nabi SAW dalam menyiarkan agama Islam pertama kali. Perjuangan mereka sangatlah susah payah dan berdarah-darah.

Kita bisa ketahui dari buku-buku sejarah Islam. Banyak yang mempertaruhkan nyawanya untuk Islam, banyak yang mensedekahkan seluruh atau sebagian besar hartanya untuk berjihad di jalan Allah, banyak yang meninggalkan keluarganya karena ingin memperjuangkan keimanannya dan masih banyak sekali peran-peran penting mereka dalam membantu tersyiarnya Islam sampai ke hati kita sekarang.

Ibn Hajar al-Asqalani dalam kitab Fath al-Bari mengatakan bahwa para ulama berselisih pendapat tentang hukum orang yang mencela para sahabat. Berkata al-Qadhi ‘Iyadh, menurut jumhur ilmuan mereka dihukum manakala menurut sebagian ulama Mazhab Maliki, mereka dibunuh. Sebagian ulama Mazhab al-Syafi’i hukum sedemikian (hukum bunuh) dijatuhkan kepada sesiapa yang mencela Abu Bakar dan ‘Umar serta Hasan dan Husain (dua cucu Rasulullah). Ini diceritakan oleh al-Qadhi Husain dan diperkuatkan oleh al-Subki kepada siapapun yang mengkafirkan Abu Bakar dan ‘Umar.

Baca Juga:  Berjihad secara Kaffah, Bukan Latah

Ada satu kisah tentang akibat seseorang mencela sahabat nabi SAW. Cerita ini ditulis oleh Imam as-Sakhowi asySyafi’i dalam kitab Dzil Tarikhil Islam. Kisah ini terjadi pada tahun 710 H. Izzuddin Yusuf Al-Mushili menceritakan, Dahulu kami punya teman, namanya Asy-Syams Ibnu al-Hasyisyi. Dia sering mencela sahabat Abu Bakar dan Umar bin Khatab. Dia terlalu berlebihan dalam hal ini. Maka ku ucapkan kepadanya: “Ya Syams, sungguh buruk bila kamu mencela mereka, apalagi kamu sudah tua! Apa urusanmu dengan mereka, mereka sudah tiada sejak 700 tahun, dan Allah berfirman (yang artinya): ‘Itulah umat yang telah lalu!’.

Tapi jawaban dia: “Demi Allah, demi Allah. Abu Bakar, Umar, dan Utsman benar-benar di Neraka”. Dia mengatakan itu di depan khalayak ramai, sehingga berdiri bulu kudukku, maka kuangkat tanganku ke langit, dan kukatakan: “Ya Allah, Dzat penakluk seluruh hamba-Nya, wahai Dzat yang tiada sesuatupun yang samar bagi-Nya, aku memohon kepada-Mu… bila ‘anjing’ ini berada di atas kebenaran, maka turunkanlah kepadaku tanda kekuasaan-Mu. Sebaliknya, apabila dia dzolim (dalam tindakannya), maka turunkanlah kepadanya saat ini juga sesuatu yang bisa menjadikan mereka tahu, bahwa dia dalam kebatilan”.

Maka, dua matanya membengkak hingga hampir saja keluar, badannya menghitam hingga seperti aspal dan membengkak, dan keluar dari tenggorokannya sesuatu yang dapat mematikan burung. Lalu dia dibawa ke rumahnya, tapi tidak sampai 3 hari dia mati, dan tidak ada seorangpun yang bisa memandikannya, karena perubahan yang terjadi pada badan dan kedua matanya. Lalu dia dikuburkan -semoga Allah tidak merahmatinya-…

Bagikan Artikel

About M. Alfiyan Dzulfikar

Avatar