Adab Menghadapi Pemimpin : Oposisi Yes, Caci Maki No!

Adab Menghadapi Pemimpin : Oposisi Yes, Caci Maki No!

Sebagai bangsa Indonesia dan umat Islam kita selalu bersyukur atas karunia Allah terhada bangsa ini. Negara penuh dengan keragaman tetapi hidup dalam kebersamaan. Semua umat bisa melaksanakan ibadahnya, termasuk Islam. Adzan dikumandangkan di mana-mana, kalimat syahadat terus digemakan, ibadah shalat ditegakkan dan dakwah di mana-mana.

Inilah pentingnya sebuah negara dalam Islam untuk menjamin syariat Islam ditegakkan dan dijalankan oleh seluruh umat Islam. Pentingnya sebuah negara selaras dengan pentingnya pemimpin dalam Islam. Pemimpin menjadi sangat penting dalam sebuah pemerintahan. Mengangkat dan menghormati keputusan pemimpin merupakan suatu kewajiban agar tatanan masyarakat dapat berjalan dengan baik.

Rasulullah Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Jika terdapat tiga orang dalam perjalanan maka angkatlah salah satunya menjadi pemimpin dalam perjalanan tersebut”. Sabda Nabi ini menandaskan pentingnya orang yang dipercaya mengatur, memberi kebijakan dan mengelola masyarakat agar tidak terjadi percekcokan, pertentangan, dan keributan.

Pelajaran dari hadist tersebut bahwa dalam mengatur urusan keduniaan membutuhkan seorang pemimpin. Untuk perjalanan saja butuh pemimpin agar tidak ada perselisihan apalagi dalam mengantur perjalanan suatu bangsa. Terlebih dalam sebuah negara sebesar Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau, suku dan bahasa yang menandakan bahwa Indonesia merupakan bangsa yang besar dan bangsa yang majemuk. Maka, sudah barang tentu menjadi sebuah kewajiban untuk mempunyai seorang pemimpin.

Baca juga : Membongkar Narasi “Masyarakat Jahiliyah”

Pertanyaan berikutnya, kadang dalam jalannya roda pemerintahan kita sering merasa tidak puas. Kita memandang ada kejelekan, keburukan, kezaliman yang harus dirubah dari pemimpin. Dalam kondisi ini apakah kita boleh mengoreksi dan menyampaikan kebenaran?

Bersikap oposisi dengan menyampaikan koreksi dan nasehat tentu saja merupakan anjuran dalam Islam. Nabi bersabda:

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

Jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran (berkata yang baik) di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Abu Daud no. 4344, Tirmidzi no. 2174, Ibnu Majah no. 4011. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Hadis ini seringkali disalahartikan sebagai ajakan untuk melakukan apapun di depan penguasa atau penguasa sebagai koreksi. Bersikap oposisi dengan tidak suka dengan kebijakan pemerintah tidak disalahartikan boleh melakukan koreksi yang mencaci maki, membeberkan aib, bahkan bisa jadi jatuh dalam fitnah yang bisa membuat keresahan umat.

Inilah yang menjadi kekhilafan sebagai kita yang dengan bebas memberikan kritik dan koreksi depan umum di mimbar, media sosial, bahkan menggunjing pemimpin. Ini tentu saja jauh dari sikap dan perilaku yang islami bahkan cenderung membuat provokasi dan meresahkan umat. Sungguh bentuk menzalimi diri sendiri dan orang lain.

4 Adab Menasehati Pemimpin, Bukan Mencaci Maki dan Memprovokasi

lalu, bagaimana menghadapi pemimpin, apakah kita tidak boleh mengoreksi dan menasehati? Inilah yang diajarkan oleh Islam.

1.    Menyampaikan nasehat tentang kebenaran

Apa yang disampaikan kepada pemimpin adalah tentang kebenaran bukan sesuatu yang masih ragu-ragu. Membawa pesan kepada pemimpin bukan pesan prasangka, tuduhan, atau sekedar mencari sensasi. Sampaikan kebenaran sebagai bagian dari amar ma’ruf dan nahi munkar.

2.    Menyampaikan dengan santun

Dalam menyampaikan nasehat harus dilakukan dengan santun dan perkataan yang lemah lembut. Dalam hal ini nasehat jangan menjadi menghujat, apalagi mencaci maki. Tindakan demikian sudah jauh dari misi awal untuk menasehati dan memperbaiki pemimpin.

Contohlah apa yang diajarkan Allah kepada Nabi Musa dan Harun ketika menyampaikan nasehat kepada raja lalim sekalipun, Fir’aun:

Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya ia telah melampaui batas; Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata – kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut. (QS. Thaha : 43-44)

3.    Menyampaikan secara pribadi bukan memprovokasi

Hadis tentang jihadnya menyampaikan nasehat kepada pemimpin di atas menggunakan kata inda, artinya di samping atau di dekat pemimpin. Menasehati pemimpin harus disertai dengan sikap berani bukan pengecut yang melontarkan di depan umum, di atas mimbar, apalagi di media sosial yang cenderung memprovokasi daripada menasehati.

Bahkan dalam hal menasehati pemimpin, Nabi menganjurkan untuk secara sembunyi agar tidak menurunkan harkat dan kerhomatannya. Inilah yang diajarkan oleh Nabi:

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِيْ سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاِنِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِيْ عَلَيْهِ

“Barang siapa ingin menasihati seorang penguasa maka jangan ia tampakkan terang-terangan, akan tetapi hendaknya ia mengambil tangan penguasa tersebut dan menyendiri dengannya. Jika dengan itu, ia menerima (nasihat) darinya maka itulah (yang diinginkan, red.) dan jika tidak menerima maka ia (yang menasihati) telah melaksanakan kewajibannya.” (Sahih, HR. Ahmad, Ibnu Abu ‘Ashim)

4.    Menjaga kehormatan, bukan menghina pemimpin

Pemimpin adalah orang yang dipercaya untuk mengelola kepentingan umat. Nasehat tidak boleh pada batas menurunkan kepercayaan umat terhadap amanah, martabat dan kehormatan pemimpin. Karena itulah sampaikan dengan mendekati pemimpin bukan menyebar di depan umum apalagi tentang aib dan keburukan pribadi pemimpin.

Sangat tidak pantas dan tidak mencerminkan perilaku Islami dengan menasehati pemimpin tetapi justru bermaksud menghinakan pemimpin. Tindakan seperti itu justru akan menurunkan kredibiltas pemimpin dan berpotensi menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

Rasulullah bahkan secara tegas menjelaskan ancaman Allah terhadap orang yang menghina pemimpin, sesuai dengan sabdanya:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Penguasa adalah naungan Allah di bumi. Barangsiapa yang memuliakannya maka Allah akan memuliakan orang itu, dan barangsiapa yang menghinakannya, maka Allah akan menghinakan orang tersebut.” (HR. Ahmad 5/42, At-Tirmidzi: 2225, As-Shahihah 5/376)

Islam mengajarkan keseimbangan dan kerhamonisan dalam kehidupan. Lihatlah doa para guru, kiayi dan ulama seberapapun mereka tidak sepakat dengan pemimpin:

Ya Allah ampuni dosa kami, dosa orang tua kami, dosa keluarga kami, dosa pemimpin kami.

Kalimat ini sering kita dengar dari para alim ulama yang menyadari potensi kesalahan manusia termasuk diri kita dan pemimpin kita. Itulah cermin kerendahan hati para ulama, bukan justru menunjukkan keangkuhan dan kesombongan.

Comment

LEAVE A COMMENT