Etika Sosial “Al-Hujurat” sebagai Akhlak Membangun Perdamaian

Sering kita mendengar bahwa Islam adalah agama sempurna yang mencakup aturan dan pedoman seluruh kehidupan manusia. Namun, pada prakteknya umat Islam selalu memisahkan antara kesalehan spiritual-individual dengan kesalehan sosial-kemasyarakatan. Ketakwaan hanya dipahami sebagai cermin hubungan diri dengan Tuhan, tetapi tidak memiliki hubungan dengan sesama manusia.

 

Islam harus dipahami dan dipraktekkan secara kaffah baik dari aspek akidah, ibadah, dan akhlak sosial. Inilah pertanyaan dan jawaban dialog antara Nabi dan Malaikat Jibril ketika menjelaskan tiga elemen dasar Islam: iman, islam, dan ihsan. Karena itulah, ulama terdahulu telah membagi 3 aspek tersebut dalam minimal tiga disiplin ilmu: ilmu kalam (teologi) untuk memahami akidah, ilmu hukum Islam (fikih) untuk memahami ibadah, dan ilmu tasawuf (akhlak) untuk memahami etika dan norma hubungan manusia dengan Allah dan hubungan dengan sesame manusia.

 

Jika umat Islam hanya mempunyai mementingkan aspek akidah dan ibadah, tetapi melupakan akhlak selain tidak mencerminkan Islam secara kaffah, juga akan menimbulkan ketegangan di tengah masyarakat. Umat Islam hanya merasa berdosa ketika meninggalkan shalat, puasa, dan ibadah lainnya, tetapi ia tidak merasa berdosa ketika berdusta, berbuat kasar dan memaki sesamanya. Begitu pula sebaliknya.

 

Di sinilah, kita penting menegaskan bahwa etika sosial merupakan bagian penting dari akhlak yang menjadi pondasi keislaman seseorang. Bahkan Nabi sendiri menegaskan misi kerasulannya adalah untuk menyempurnakan akhlak. Etika sosial Islami mulai rapuh dalam diri umat karena anggapan Islam hanya setumpuk ajaran untuk keimanan dan peribadatan semata.

 

Akhlak yang mengandung norma, etika dan nilai dalam pergaulan harus tercermin dalam akhlak seorang muslim. Umat Islam tidak cukup mempunyai keimanan yang kuat, rajin ke masjid, fasih membaca Qur’an, dan rajin puasa, tetapi juga harus disempurnakan dengan akhlak yang sempurna. Ibadah dan akhlak sama derajatnya dan tidak bisa dipisahkan sebagaimana sabda Nabi: Sesungguhnya derajat orang yang berakhlak mulia mencapai derajat ahli puasa dan shalat (HR Tirmidzi)

 

Itulah sesungguh Islam dimaknai secara kaffah dan mewujudkan kesempurnaan Islam. Karena itulah Nabi bersabda : orang mukmin yang paling sumperna imannya adalah orang yang paling baik akhlanya (HR Tirmidzi).

 

Lalu, bagaimana sumber dan cara berakhlak umat Islam? Akhlak umat Islam sebenarnya sangat sederhana yakni meneladani akhlak Nabi. Begitu juga akhlak Nabi sangat sederhana sebagaimana dijelaskan oleh Aisyah : Akhlak Nabi adalah Qur’an. Akhlak tentu saja bukan sekedar tindakan, tetapi mencakup pikiran, sikap dan perilaku yang harus disandarkan pada pedoman Qur’an.

 

Qur’an sebagai pedoman umat Islam telah banyak menyajikan etika dan norma dalam kehidupan sehari-hari. Namun, kadang kita hanya mementingkan hal ibadah, tetapi melupakan akhlak.

 

Pada bagian ini penting untuk menyajikan salah satu bagian etika Islami yang terkandung dalam surat al-Hujurat. Etika dan norma al-Hujurat ini rasanya sangat relevan dan penting untuk dicerna, dipahami dan dipraktekkan dalam kondisi bangsa saat ini.

 

Upaya memecah belah persatuan dan perdamaian menjadi tantangan dan ancaman yang selalu muncul. Hasutan, provokasi, fitnah, dan berita bohong menyebar begitu mudah. Umat Islam harus berhati-hati untuk selalu mengedepankan prinsip dan etika yang Islami dalam menjaga persaudaraan dan perdamaian. Bagaimana caranya?

 

 

Prinsi-prinsip Pergaulan Sosial dalam Surat al-Hujurat

 

1.     Tidak Mudah Termakan Hasutan

 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

 

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu. (QS ; Al-Hujurat: 6)

 

Ayat ini memberikan panduan umat Islam untuk tidak buru-buru mengambil kesimpulan dan tindakan dari semua berita yang belum diketahui tingkat kebenarannya. Semua informasi di era digital saat ini bukan dicari, tetapi menghampiri kehidupan kita. Di sinilah, butuh kehati-hatian umat untuk selalu menyelediki (tabayyun) sebelum mengambil kesimpulan.

 

Umat Islam tidak boleh memberikan keputusan dan tindakan buru-buru dengan hanya termakan informasi yang belum jelas. Qur’an memperingatkan kebodohan informasi justru akan membuat kita celaka dan mencelaki orang lain. Apakah kita rela menjatuhkan keputusan buruk dan sikap buruk terhadap orang lain karena hanya terhasut berita bohong?

 

 

2.     JIka ada Perselisihan Damaikan dengan Adil

 

وَاِنْ طَاۤىِٕفَتٰنِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اقْتَتَلُوْا فَاَصْلِحُوْا بَيْنَهُمَاۚ

 

Artinya : Dan apabila ada dua golongan orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. (QS: Al-Hujurat : 9)

 

Ayat ini jelas memberikan perintah kepada umat Islam untuk selalu membangun perdamaian. Umat Islam mempunyai tanggungjawab moral keagamaan untuk selalu menjaga lingkungan sosial tetap harmoni yang salah satunya adalah mendorong islah dalam persengketaan.

 

Dalam kehidupan sosial, banyak sekali kepentingan yang berbeda bertemu. Ketidakdewasaan dalam menghadapi perbedaan akan melahirkan perselisihan dan konflik. Kadang pula konflik disebabkan karena kesalahpahaman akibat provokasi, adu domba dan fitnah. Mengupayakan islah adalah jalan terbaik dengan cara menjadi pihak ketiga yang netral, independent dan obyektif.

 

3.     Pelihara Persaudaraan dengan perdamaian

 

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

 

Artinya: Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. (QS: Al-Hujurat: 10).

 

Sesame umat Islam adalah bersaudara. Sesame bangsa juga bersaudara. Ikatan iman dan ikatan kebangsaan harus dirawat untuk terjaminnya perdamaian. Prinsip persaudaraan ini menjadi penting dijaga.

 

Qur’an hanya mau mengingatkan kembali ketika ada perbedaan, perdebatan dan perselisihan harus kembali pada prinsip bahwa sesame umat Islam bersaudara. Dan tugas umat Islam adalah memberikan perdamaian terutama kepada saudara kita yang sedang berselisih.

 

 

4.     Jangan Mengolok, mencela dan memaki

 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ 

 

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) (QS: Al Hujurat: 11)

 

Dalam membangun perdamaian dan merawat persaudaraan, umat Islam mempunyai norma dan etika yang harus ditaati. Salah satunya yang diajarkan Qur’an adalah jangan merendahkan orang lain dengan olok-olok, ejekan, dan penghinaan. Berbagai tindakan tidak terpuji ini akan menjadi faktor pendorong perpecahan.

 

Selain sebagai etika terhadap orang lain, Qur’an sebenarnya ingin mengajarkan untuk tidak sombong dan merasa benar. Artinya, bisa jadi orang yang kalian hina dan kalian ejek lebih mulia dan terhormat dari pada kalian.

 

Karena itulah, apabila merasa dirinya sebagai orang beriman jangan pernah merendahkan orang lain dengan perkataan kasar. Tidak ada makhluk sempurna. Semua orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Orang beriman selalu melihat kelebihan orang lain, dan merasa dirinya penuh dengan kekurangan untuk selalu diperbaiki.

 

5.     Jangan selalu mengedepankan pra sangka dan mencari kesalahan

 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ

 

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. (QS; Al-Hujurat : 12).

 

Prinsip berikutnya sebagai orang beriman dalam pergaulan sosial adalah menjaga pikiran. Apabila sebelumnya diajarkan menjaga lisan, pikiran juga harus dikendalikan dengan selalu memiliki pikiran positif kepada orang lain.

 

Cara memiliki pikiran positif adalah dengan menjauhi pra sangka jelek dan suka mencari kesalahan orang lain. Saat ini apapun kita termakan dengan informasi yang bisa memupuk buruk sangka dan mencari-cari kesalahan orang lain.

 

Buruk sangka adalah salah satu hambatan psikologis dalam kehidupan sosial. Buruk sangka akan menimbulkan kerenggangan dan ketidakpercayaan. Karena itulah, prinsip akhlak Islam mengajarkan untuk menjauhi buruk sangka, selalu mencari kesalahan orang dan menggunjing.

 

 

6.     Saling Mengenal dan Menghormati dalam Perbedaan

 

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ

 

Artinya: Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. (QS: Al-Hujurat : 13)

 

Sungguh sangat sempurna ajaran Islam. Di ayat yang menjelaskan etika-etika sosial di atas, Qur’an menutup dengan manifesto dan doktrin pluralitas yang mengagumkan. Inilah sebenarnya puncak etika sosial Islam. Prinsip terakhir ini merupakan landasan filosofis bagaimana umat Islam bergaul dalam kehidupan sehari-hari.

 

Kenapa prinsip ini sangat mengagumkan? Pertama, Qur’an mengajak melihat perbedaan ini sebagai bagian dari sunnatullah. Artinya, perbedaan jenis kelamin, suku, bahasa, etnis dan bangsa merupakan rekayasa Tuhan atau kehendakNya yang tidak bisa dibantah. Keragaman manusia adalah cara Tuhan menciptakan manusia.

 

Kedua, dalam menghadapi berbagai perbedaan tersebut Islam mengajarkan untuk tidak saling menyakiti, menjauhi dan memusuhi. Islam mengajarkan saling mengenal dan menghormati dalam perbedaan itu.

 

Ketiga, prinsip kesetaraan umat manusia dalam berbagai perbedaan. Walaupun Tuhan menciptakan keragaman suku dan bangsa, tetapi itu semua bukan ukuran. Tidak ada suku dan bangsa yang melebihi yang lain.

 

Ukuran kemuliaan di mata Allah adalah ketakwaannya. Dan selalu saja ketakwaan dalam pengertian Qur’an adalah kesalehan spiritual, individual dan sosial. Artinya, orang Islam yang memiliki akhlak mulia terhadap Allah dan sesama manusia, dia lah yang paling mulia di sisi Allah.

 

Wallahu a’lam    

Comment

LEAVE A COMMENT