Islam dan Budaya Lokal: Meneladani Cara Rasul Mengarifi Tradisi

Islam dan Budaya Lokal: Meneladani Cara Rasul Mengarifi Tradisi

Mempertengkan antara agama dan tradisi sebenarnya bukan suatu yang arif. Agama adalah cara manusia mencari kebenaran dan menggapai kehidupan yang harmonis melalui pendekatan spiritual. Sementara tradisi merupakan kebiasaan aktifitas manusia yang dilakukan secara turun temurun untuk menjaga keharmonisan hubungan antar manusia.

Tradisi bisa terbentuk dalam berbagai jenis aktifitas. Bahkan dalam aspek tertentu agama menjadi bagian tak terpisahkan sebagai tradisi yang turun temurun diwariskan dalam kehidupan masyarakat. Tradisi bisa menjadi bentuk tetapi juga menjadi cara manusia mewariskan nilai dan norma.

Agama sebagai wahyu ilahi tidak bisa dilepaskan dari tradisi. Jika agama mau diterima dengan mudah sebagai nilai kehidupan manusia ia harus menjalani proses tradisioanlisasi nilai atau mentradisikan agama sebagai nilai dalam kehidupan masyarakat. Artinya, agama harus menjadi bagian dari keseharian yang diwariskan secara turun menurun.

Dalam konteks itulah, agama menjadi penting untuk merangkul tradisi sekaligus menjadikannya sebagai bagian strategi melanggengkan nilai. Agama tidak bisa melawan tradisi apabila ia ingin dianut, dipertahankan dan diwariskan secara turun temurun. Inilah sebenarnya yang disadari oleh pembawa risalah Islam, Rasulullah, ketika berhadapan dengan tradisi.

Islam dan Tradisi Masyarakat Arab

Kehadiran agama Islam pada prinsipnya untuk mewujudkan kemaslahatan kehidupan manusia dengan membimbing, menuntun dan mengarahkan pada jalan yang lurus sesuai dengan tata atur yang telah dicontohkan Rasulullah. Tradisi, sebagai buah tangan manusia tak luput dari sorotannya. Tentu saja ada yang baik dan sebaliknya. Yang baik akan dirangkul, sebaliknya,bila bertentangan akan diluruskan.

Baca Juga : Menghadirkan Islam Kaffah sebagai Agama Nasehat

Agama terakhir yang diturunkan oleh Allah ini sebenarnya sangat jeli dan akomodatif dalam menyikapi tradisi. Beberapa ayat al Qur’an dan Hadis membincangkannya. Ujaran dua referensi utama dalam hukum Islam ini membuktikan ketegasannya menyikapi dan keberpihakannya terhadap tradisi jahiliyah. Rangkulan mesra firman Allah dan sabda Rasulullah terhadap tradisi jahiliyah tergambar di bawah ini.

Ada banyak fakta terkait Islam yang mengakomodir budaya masyarakat jahiliyah. Lihatlah misalnya puasa ‘Asyura,  awalnya puasa sunnah ini menjadi bagian tradisi jahiliyah. Setelah Islam datang, tradisi ini tidak dihapus. Sebaliknya, masuk dalam syariat Islam  sebagai puasa sunnah.

Demikian juga tradisi aqiqah yang menjadi tradisi masyarakat jahiliyah diakomodir oleh agama Islam. Islam menempatkannya sebagai ibadah sunnah. Rasulullah hanya membuang kebiasaan mengolesi dahi bayi dengan darah hewan yang dijadikan aqiqah, menggantinya dengan minyak wangi.

Berikutnya adalah ritual haji. Ritual ini merupakan tradisi Arab jahiliyah, seperti thawaf. Sebelum Islam datang, masyarakat jahiliyah telah melakukan ibadah thawaf ini. Mereka melakukannya dengan cara yang tidak sopan, yakni, telanjang. Rasulullah tidak menghilangkan ritual ini tetapi membungkusnya dengan rupa yang islami dengan memakai kain ihram.

Sebagai contoh berikutnya, bahwa Islam sangat akomodatif terhadap tradisi jahiliyahi adalah pada saat hari raya kaum Majusi. Rasulullah memperbolehkan menerima hadiah berupa makanan selain daging sembelihan mereka. Sikap Rasulullah tersebut sebagai bukti bahwa Islam sangat menghormati tradisi sebelumnya yang sudah dipraktekkan oleh masyarakat dan agama lain.

Islam dan Budaya Nusantara

Di Nusantara, pendekatan ala Rasulullah  dipakai oleh para pegiat dakwah Islam ketika baru pertama kali menapaki negeri ini. Jamak diketahui, ada pola akulturasi budaya yang kerap terjadi. Lihatlah misalnya, Sunan Kalijaga, yang menyertakan wayang untuk menarik minat masyarakat. Karena pada waktu itu, kecenderungan berkumpul dan menikmati kesenangan orang-orang Jawa adalah pertunjukan wayang. Terbukti, hal ini menjadi magnet besar menarik mereka bebondong-bondong memeluk Islam.

Faktor lain sukses besar ini, ditunjang pula oleh faktor batin yang memang telah terdidik. Dalam bahasa yang sederhana, tidak hanya mauidhah hasanah, tetapi juga uswah hasanah. Tengoklah apa yang dilakukan Maulana Ishaq, paman Sunan Ampel, sebelum berdakwah beliau terlebih dahulu melakukan kontemplasi, khalwat atau uzlah dalam upaya riyadloh. Tirakat yang dilakukan ini untuk menyiapkan diri menjaga konsistensi mengamalkan syariat, baik yang fardu maupun yang sunnat. Memperbaiki diri dulu, kemudian berdakwah mengajak masyarakat untuk memeluk Islam.

Maulana Ishaq sukses mengislamkan masyarakat Blambangan, setelah sebelumnya berhasil menyembuhkan Dewi Sekar Dadu putrid Menak Sembayu dari sakitnya. Beliau, dengan karomahnya dan sebab pertolongan Allah bisa menyembuhkannya setelah tidak ada satu tabibpun yang mampu melakukannya. Sebab itu kemudian beliau dinikahkan dengan sang putri dan mendapat bagian separuh wilayah Blambangan. Di sinilah, ditempat yang letak strategis posisi yang baru didiami serta sikap konsistennya, sukses mengislamkan masyarakat Blambangan.

Wali Songo kerap memasukkan intisari nilai-nilai Islam terhadap unsur budaya sebagai proses Islamisasi Nusantara, secara ramah dan penuh toleransi.  Kesuksesan lain, adalah Islam ditanamkan menjadi bagian tidak terpisahkan dari tradisi Nusantara. Apa yang dilakukan pendakwah awal tidak memberangus tradisi sebagaimana juga dilakukan Rasulullah. Mereka membangun dan menanamkan nilai Islam ke dalam tradisi.

Rasulullah dan para Wali menyadari bahwa tradisi menjadi penting sebagai langgam tempat bersemainya nilai. Tradisi tidak bisa dihilangkan tetapi diberikan nuansa dan nilai dengan tidak membuang sama sekali. Ada proses transformasi tradisi dalam bentuk perubahan orientasi nilai dan fungsi.

Pentingnya Strategi Dakwah dalam Transformasi Tradisi

Dengan melihat pentingnya tradisi dalam hubungannya dengan agama, para penyebar dan pendakwah agama harus mempunyai strategi untuk melakukan transformasi nilai dalam sebuah tradisi yang melingkupi masyarakat. Seorang pendakwah harus menyadari, memahami dan mampu memetakan tradisi yang ada. Ketika sudah mampu memahami mereka harus mampu meramu strategi dakwah yang tepat.

Strategi dakwah menjadi penting untuk bisa membawa nilai agama menjadi bagian dari tradisi. Apa yang dipraktekkan oleh para Wali dan cara ulama membenamkan Islam Nusantara dalam berdakwah meliputi; pertama, berdakwah dengan hikmah, kedua, toleran terhadap budaya lokal, ketiga, memberikan teladan dengan akhlakul karimah. Keempat, memprioritaskan maslahah ammah ketimbang maslahah khassoh. Kelima, memegang prinsip irtikab khaff al dlararain, dan Keenam, mengedepankan prinsip dar’ al mafasid muqoddam ’ala jalb al mashalih.

Maslahah yang dijadikan pijakan Islam di Nusantara ini adalah maslahah yang punya pijakan syariat. Sehingga, aslahah yang berdasar pada hawa nafsu tidak layak untuk dipakai. Karena kalau maslahah dikembalikan kepada akal manusia, maka standarnya akan berbeda-beda. Dan bias kepentingan masing-masing. inilah yang melatar belakangi rumusan fiqih dikembalikan pada madzahib mudawwan, madzhab yang sudah dikodifkasi.

Imam Ghazali, dalam al Mustasyfa mengatakan; siapa yang menganggap maslahah tanpa dalil syar’I maka batal. Selanjutnya beliau juga mengatakan maslahah yang dilegalkan adalah yang berdasar pada al kulliyah al khams, yakni melindungi agama, nyawa, akal, leturunan dan akal.

Comment

LEAVE A COMMENT