Menafsir Bencana dalam Kacamata Islam

Rentetan bencana alam melanda tanah air dari gempa di NTB, Gempa dan Tsunami di Sulawesi Tenggara tepatnya Palu dan Donggala, Gempa di Jawa Timur tepatnya Situbondo dan Sumenep dan terakhir banjir dan longsor yang melanda Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Rangkaian peristiwa ini terjadi berurutan. Belum selesai pemerintah dan masyarakat bahu membahu mencurahkan tenaga, pikiran dan materi kepada korban, bencana lainnya seakan mengikuti.

Akibat banyaknya bencana yang terjadi akhir-akhir ini banyak suara yang menjadi liar menafsirkan bencana dengan begitu mudah. Negeri ini sedang dihukum oleh Allah, mereka melakukan kemungkaran, itulah siksa dari Tuhan. Demikian narasi berkembang begitu liar. Sudah menjadi korban bencana, mereka yang terkena musibah masih mendapatkan beban moral yang disebut sebagai hukuman dari Tuhan. Entah dasar teologis dari mana, tetapi melontarkan pandangan demikian sungguh sangat melukai mereka yang tengah bergelut untuk bangkit akibat bencana.

Asumsi korban bencana sebagai pihak yang salah semestinya tidak arif dan tepat dilontarkan dan harus segera diakhiri. Namun, memang kita sebagai umat beragama mempunya PR besar dalam persoalan tafsir terhadap bencana yang belum tuntas. Kekeliruan cara pandang keagamaan dalam bencana akan banyak menganggu terhadap proses respon masyarakat dalam menghadapi bencana. Karena itulah, penting sekali untuk melihat bagaimana tafsir bencana dalam Islam dan bagaimana sebaiknya umat Islam menyikapi bencana saat ini.

Penulusuran itu akan dimulai dengan pertanyaan, apakah bencana sekedar peristiwa alam atau takdir tuhan, atau hukuman dari Tuhan atau ujian dan cobaan. Tafsir-tafsir ini sebenarnya sudah klasik dan mendapatkan rujukan dari khazanah perbincangan klasik dari pandangan para ulama. Lalu, bagaimana Islam memandang bencana? Pandangan Islam terhadap bencana harus dilacak setidaknya pada nash yang berbicara tentang bencana dan tafsir ulama terhadap nash tersebut. 

Bencana dalam Qur’an

Definisi bencana dalam KBBI dirumuskan sebagai sesuatu yang menyebabkan atau menimbulkan kesusahan, kerugian, atau penderitaan yang disebabkan oleh alam. Biasanya bencana ini menyangkut segala kejadian yang menimpa dalam skala yang besar dan efek yang luar biasa. Dalam kategori bencana alam, kategori bencana dibagi dalam dua hal; bencana yang disebabkan oleh ulah manusia dan bencana sebagai proses alamiah.

Terkait bencana alam Qur’an telah merekam berbagai kejadian bencana masa lalu dalam berbagai jenis dan fungsinya. Berbagai bencana alam yang diceritakan dalam Qur’an umumnya terjadi dan ditimpakan kepada orang kafir yang melakukan pelanggaran, seperti mendustakan para rasul dan kufur terhadap ayat-ayat Tuhan. Inilah yang dijadikan landasan seringkali bencana saat ini dihubungkan dengan konteks dan semangat yang sama sebagai hukuman terhadap manusia.

Beberapa peristiwa bencana alam sebagai hukuman misalnya 1) bencana banjir yang menimpa kaum Nabi Nuh. Kejadian ini direkam dalam  Q.S. al-Mukminun [23]: 27. 2) bencana hujan batu yang menimpa umat Nabi Luth yang disebutkan dalam Q.S. Al-A’râf [7]: 84). 3) bencana gempa bumi atau (al-zalzalah) pernah terjadi pada umat Nabi Musa yang dikisahkan dalam Q.S. (Q.S. al-A’râf [7]:155. 4) bencana angin topan yang menimpa orang kafir pada waktu perang Khandaq yang diberitakan dalam Q.S. al- Ahzâb [33]:9.

Jika kita baca dari kisah-kisah bencana tersebut, gambaran bencana dibaca dalam potret hukuman terhadap mereka yang menentang Nabi dan mengingkari ajaran Rasul. Berbagai jenis bencana seperti gempa, banjir dan badai digerakkan oleh Allah untuk menghukum mereka yang mengingkari kebesaran Allah yang disampaikan oleh para utusannya. Karena semangatnya sebagai hukuman seringkali kita memotret juga kejadian serupa hari ini dengan semangat hukuman seperti zaman dulu. Padahal apabila kita cermati kata dan makna bencana dalam Qur’an sangat beragam dan memiliki tujuan dan hikmah yang berbeda-beda.   

Setidaknya dalam menggambarkan bencana ada beberapa kata untuk melukiskan kejadian yang tidak menyenangkan yang menimpa manusia. Pertama, al-bala’ yang berarti ujian. Kata ini dalam al- Qur’an terulang enam kali. Sedangkan dalam bentuk pluralnya, balayâ, dengan segala derivasinya dipakai dalam al-Qur’an sebanyak 33 kali yang tersebar dalam berbagai surat. Beberapa contoh dalam Qur’an misalnya :  

Artinya : Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah- buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Q.S. al-Baqarah [2]: 155)

Artinya : Apabila manusia mampu menyikapinya dengan sikap terbaik dan bersabar, niscaya akan dilimpahkan rahmat Tuhan dan digolongkan sebagai orang-orang yang memperoleh petunjuk (Q.S. al-Baqarah .)157).

Kedua, terma term mushibah. Term ini terulang dalam al-Qur’an sebanyak sepuluh kali. Musibah berarti sesuatu yang menimpa (objek tertentu). Musibah telah diserap dalam Bahasa Indonesia untuk menggambarkan suatu kejadian yang tidak disenangi manusia. Dalam al-Qur’an kata ini berarti segala macam peristiwa petaka yang dapat menimpa umat manusia, baik mukmin, kafir atau munafik.

Ketiga, term fitnah juga digunakan oleh Qur’an sebagai suatu kejadian yang merusak. Dalam al-Qur’an terkait konteks bencana makna ini lebih dekat dengan bala’, sebagaimana ketika Allah menguji ibu Nabi Musa as.

Artinya : Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (lauh mahfudz) sebelum kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. Q.S Al-Hadid [57]: 22.

Misteri di Balik Bencana

Segala yang datang dan terjadi di muka bumi karena kekuasaan dan kebesaran Allah. Jika Allah berkehendak maka terjadilah. Namun, dalam konteks bencana, manusia tidak serta mengeluh dengan selalu menyalahkan Tuhan. Tuhan sedang berencana dalam setiap kejadian yang ada di dunia. Dan apapun takdir yang dijatuhkan saat ini merupakan bentuk dari realisasi yang sudah ditentukan.

Dalam memahami bencana, dari penelurusan kata tersebut setidaknya empat perspektif dalam melihat bencana dalam Islam. Pertama, bencana sebagai ujian. Hal ini sebagaimana dalam Quran :

Artinya: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, "Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun" (Q.S.al-Baqarah/2:155-156).

Bencana yang menimpa umat Islam dan kaum beriman adalah sebuah ujian yang diberikan oleh Allah untuk menguji kesabaran seorang hamba. Bencana akan mendidik hamba untuk semakin meneguhkan keyakinan dan kewajiban yang harus terus ditunaikannya.

Kedua, bencana sebagai peringatan. Selain ujian, bencana juga menjadi perigatan bagi umat Islam dan manusia pada umumnya atas kebesaran Tuhan. Manusia yang berpotensi melakukan kesalahan dan melalaikan perintah akan ditegor dan diingatkan dengan fenomena alam. Hal ini sebagaimana firman Allah :

Artinya: Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh- musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata: "Dari mana datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri". Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Q.S. Ali Imran/3:165).

Dalam menghadapi bencana, umat yang beriman akan menghadapi bencana sebagai momentum untuk memperbaiki diri. Bencana dilihats ebagai peringatan bagi dirinya untuk kembali pada jalan Tuhan. Segala musibah baik berupa bencana atau lainnya yang menimpa manusia memiliki hubungan yang erat dengan perbuatan manusia itu sendiri (Q.S.ar- Rum/30:41). Tuhan mengingatkan manusia terhadap perbuatan manusia yang berupa kerusakan dan kejahatan terhadap lingkungannya akan berdampak pada kehancurannya sendiri. Dengan peringatan Allah swt ini diharapkan manusia akan sadar dari kekeliruan dan kesalahannya.

Ketiga, bencana sebagai siksaan. Dalam pandangan ini bencana dianggap sebagai siksaan dan balasan terhadap dosa yang telah manusia lakukan. Dalam Qur’an banyak kejadian alam yang ditimpakan sebagai musibah kepada mereka yang mengingkari ajaran Tuhan.  

Artinya: dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (Q.S.al-Maidah/5:49).

Keempat, bencana sebagai ekspresi kasih sayang Allah kepada manusia. Tidak selama bencana yang merugikan itu sebagai sesuatu yang menakutkan. Bencana merupakan cara Tuhan menguji sekaligus memberikan kasih sayang kepada umat manusia. Allah berfirman:

Artinya: Tidak ada sesuatu musibahpun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S.at-Taghabun/64:11).

Dalam konteks memahami bencana sebagai bentuk kasih sayang, kaum beriman harus menghadapi bencana dengan cerdas. Musibah harus dihadapi sebagai sebuah rahmat dari misteri Allah memberikan hikmah. Bencana yang dihadapi dengan sikap negatif dan pesimis justru akan menjadi bencana yang berlipat. Lalu bagaimana seharusnya menghadapi bencana? Qur’an telah memberikan tuntunan terhadap persoalan tersebut.

Tuntutan Islam Merespons Bencana

Al-Qur‟an memberikan tuntunan kepada manusia dalam menyikapi dan menghadapi musibah. Sikap ini penting dipegang oleh umat Islam dalam melihat dan menghadapi bencana. Pertama, mengembalikan kepada Allah. Ekspresi sikap mengembalikan semua kepada Allah dilafalkan dengan kalimat Istirja‟. Sikap ini secara ikhlas dan kepatuhan mengembalikan segala sesuatu termasuk musibah dan bencana yang menimpa kepada Allah swt. Umat Islam percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan ini adalah atas kehendak Allah swt.

Artinya : “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang- orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". mereka Itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. al-Baqarah [2]: 155-157).

Artinya: “Barang siapa yang mengucapkan istirja‟ (Inna lillahi wa inna ilaihi raji‟un) ketika tertimpa musibah, Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik, dan Allah akan membalasnya dengan kebaikan, serta akan dianugerahi penerusnya (ananknya) yang saleh dan berbakti kepadanya.”

Kedua, bersikap sabar. Al-Qur‟an memberikan tuntunan agar kita bertakwa dan bersabar ketika ditimpa bencana.

Artinya : “Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. jika kamu bersabar dan bertakwa, Maka Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk urusan yang patut diutamakan.” (QS. Ali Imran [3]: 186)

Artinya : “Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Baqarah [2]: 177).

Bencana dalam hal ini dipahami sebagai suatu proses Tuhan menguji kesabaran seorang hamba. Kesabaran yang akan menuntun manusia pada nikmat dan kebahagian yang telah dijanjikan oleh Allah. Allah mengatakan belum masuk surga seseorang, sampai ia bisa membuktikan kesabarannya (QS. Ali Imran [3]: 142).

Ketiga, bertawakkal. Sikap tawakkal adalah sikap menyerahkan segala sesuatu pada kekuasaan Allah. Umat Islam percaya semua yang terjadi adalah garis yang sudah ditentukan oleh Allah kepada seluruh manusia.  

Artinya : “Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa Kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung Kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. al-Taubah [9]: 51).

Sikap tawakkal adalah modal bagi umat manusia ketika menerima takdir yang buruk. Tentu saja manusia bisa berusaha, tetapi sepenuhnya penentu utama dalam kehidupannya adalah takdir Tuhan. Sikap pasrah dan tawakkal merupakan obat penenang agar manusia tidak merasa bisa melampaui kekuasaan di luar batas kemampuannya.

Keempat, intropeksi diri dan kembali pada jalan Allah. Bencana kadang juga menjadi pengingat dan peringatan yang diberikan Allah kepada manusia. Umat yang beriman akan memahami peristiwa bencana untuk mengevaluasi kesalahan dan kekeliruan yang telah dilakukan. Pintu taubat akan selalu terbuka dan Allah Maha mengampuni segala dosa.

Artinya : “Dan Sesungguhnya Kami telah membinasakan negeri- negeri di sekitarmu dan Kami telah mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang supaya mereka kembali (bertaubat).” (QS. al-Ahqaf [46]: 27)

Artinya : “Dan Sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), Mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. al-Sajdah [32]: 21).

Demikian Allah menuliskan dan menentukan sesuatu baik kesenangan maupun kesedihan, penderitaan maupun kebahagiaan. Manusia selalu berusaha melakukan yang terbaik tetapi pada titik akhir Tuhan adalah Maha Menghukumi segala sesuatu dengan bijak dan adil. Kebijakan dan keadilan ini yang menjadi Patokan bagi umat Islam untuk melihat makna di balik peristiwa, termasuk dalam bencana.

Tuhan sedang memberikan pelajaran, ujian, peringatan, siksaan maupun kasih sayang melalui bencana. Hanya orang yang beriman dan mengedepankan pandangan positif dan husnuddzon yang akan menemukan hikmah indah di balik bencana. Semoga kita selalu dalam perlindungan Allah dari segala marabahaya dan fitnah.

Comment

LEAVE A COMMENT