Modal "Mengkekiniankan" Al Quran

Di akhir abad 20, berkembang pertanyaan, "kenapa tidak ada metodologi baru penafsiran Al Quran ?" Apakah sudah tidak ada metodologi tafsir yang bisa ditawarkan untuk menghadapi krisis pribumisasi/tadabbur Al Quran ? Hingga memasuki abad 20, belum ada jawaban yang memuaskan.

Fenomena sakralisasi pemikiran Islam dari kalangan tradisionalis pada saat ini dihadapkan pada sakralisasi "klaim kebenaran" pemahaman Al Quran dari kalangan skriptualis yang tidak dapat berko-eksistensi dengan kalangan Islam lain yang berbeda dengannya. Apakah "klaim kebenaran" pemahaman Al Quran akan mampu dihadapi oleh kalangan tradisionalis dengan konsekuensi mengangkat gerakan pribumi Islam tanpa mengabaikan pemahaman otoritatif ulama klasik ?

Jawabannya, kembali kepada epistemologi Ilmu seperti yang disebutkan Imam Syafi'I ; "Ilmu adalah apa yang bermanfaat" dengan fokus pada kualitas umat Islam yang berstatus wajib untuk terus melakukan dialog dengan Al Quran, bukan fokus kepada metodologi atau keilmuan metode tafsirnnya yang selalu akan selalu relevan dengan watak kekinian Al Quran.

Konon Sayidina Ali bin Abi Thalib pernah berpesan :

اِسْتَنْطِقِ الُقرآنِ

Artinya : "Ajaklah Al Quran berbicara".

Pesan ini memberikan isyarat kepada generasi Islam sekarang akan pentingnya membumikan atau living Qur'an dan menerima perkembangan metodologi tafsir selama mengacu pada paradigma "tafsir mencari kebenaran" bukan "tafsir untuk kepentingan/manipulatif" atau tafsir bi al ra'y al mahd (tafsir berdasarkan pikiran).

Artinya, keberadaan metodologi tafsir baru dibutuhkan selama mampu menghasilkan metode yang mudah untuk mengantarkan pada pemahaman yang benar tentang apa yang dimaksudkan Allah di dalam ayat ayat Quran. Pesan istintoq yang disampaikan Sayidina Ali tersebut tidak hanya berlaku untuk kalangan da'i dalam mengembangkan metode tafsir tematik (maudlui), melainkan juga bagi kalangan pribadi awam yang  mengerti bahasa Arab dalam mengamalkan tadabbur Al Quran.

Pada prinsipnya, istintoq sebagai konsekuensi tadabbur tidak bisa dibatasi oleh pemenuhan syarat seorang mufasir yang ketat. Berbeda dengan tafsir sebagai konsekuensi istinbat nash yang terikat syarat yang ketat sebagaimana disepakati oleh para ahli tafsir. Istinthoq adalah bagian dari perintah membumikan dan "mengkekiniankan" Al Quran dalam kehidupan sehari-hari dengan tanpa mengorbankan teks, kepribadian, budaya bangsa dan perkembangan positif masyarakat.

Dari Tafsir ke Tadabbur

Jika merujuk ke tradisi tafsir awal Islam, maka pertimbangan bahwa kualitas keilmuan dan ketaqwaan umat zaman Nabi dalam hal penafsiran Al Quran berbeda dengan dua kurun generasi setelahnya. Sebagaimana legitimasi Nabi bahwa sebaik-baik masa adalah masa Nabi, kemudian masa setelahnya dan masa setelahnya. Misalnya di masa Nabi, kualitas Sayidina Ali yang tercermin dalam pengakuan beliau, "Demi Allah tidaklah ayat itu diturunkan kecuali saya tahu tentang apa ayat itu diturunkan, dimana diturunkan dan kepada siapa diturunkan. Sungguh Tuhanku telah menganugerahiku akal yang jernih dan lisan yang fasih". Atau kualitas sahabat Ibnu Abbas yang didoakan langsung oleh Nabi agar menjadi pakar tafsir berbeda dengan sahabat lainnya dan juga generasi setelahnya.

Penafsiran zaman Nabi, Sahabat dan Tabi'in memiliki kualitas yang berbeda-beda menurut kedalaman (capacity) masing-masing meskipun pengajian tafsir sama-sama bercorak kebahasaan dan periwayatan. Pada masa Nabi dan Sahabat, metode penafsiran ayat-ayat al Quran dilakukan secara ijmali (global), artinya tidak memiliki rincian yang memadai dan merupakan metode yang pertama kali muncul dalam diskursus tafsir al Quran.

Membahas generasi muslim di abad 21, terdapat fenomena yang menunjukan adanya pergeseran mindset dalam menekuni bidang keilmuan, seperti pergeseran dari minat menekuni bidang keilmuan Islam yang kaffah ke ke bidang keilmuan sains unsich yang kering dengan epistemologi Islam. Pada akhirnya, akan dianggap sebagai hal biasa jika ada generasi muslim yang lebih mendahulukan khazanah ilmu fardlu kifayah seperti sains dan mengakhirkan, bahkan meninggalkan ilmu fardlu ain seperti ilmu tajwid yang merupakan ilmu pertama dan dasar untuk dapat membaca Al Quran secara tartil yang menjadi syarat keabsahan bacaannya.

Syarat tartil tersebut tidak hanya menyangkut syarat artikulasi bacaaan, melainkan juga syarat pemahanan umum/global atas apa yang dibaca sebagaimana terindikasi oleh ketepatan waqaf dan ibtida'. Syarat ini ditegaskan oleh Sayidina Ali dalam pendefinisiannya atas makna Tartil, yaitu :

الترتيل هو تجويد الحروف ومعرفة الوقوف

Artinya : Tartil adalah mentajwidkan huruf (makhraj dan sifat) dan mengerti waqaf. 

Definisi ini setidaknya mengikat para pengguna bahasa Arab, sehingga tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak melakukan tadabbur/memahami makna atas apa yang dia baca dari Al Quran. Tadabbur disini merupakan bentuk tafsir level paling dasar bagi orang Arab atau non-Arab/Ajam yang belum berkapasitas untuk melakukan analisis metodologis dan merasa kesulitan dengan pembahasan metodis.

Sahabat Ibnu Abbas membagi jenis tuntutan untuk mentadabburi Al Quran dalam empat macam, yaitu tuntutan bagi orang Arab yang menguasai ilmu Arab, bagi orang yang berbicara bahasa Arab, bagi kalangan Ulama dan tuntutan bagi siapa pun untuk memasrahkan keterbatasan pengetahuannya kepada Allah. Pembagian keempat berlaku untuk setiap ayat yang membahas persoalan metafisika/ghaibiyyat.

Klasifikasi Sahabat Ibnu Abbas perlu dijadikan bahan oto-kritik dan diamalkan oleh seluruh umat Islam generasi sekarang yang mengaku muslim dan sadar dengan kebutuhannya untuk "moco Qur'an angen-angen sakmaknane". Lantas bagaimana dengan seorang muslim yang tidak pernah berbahasa Arab tetapi hanya mengucapkan bacaan/simbol Arab dalam ritual-ritual keagamaannya?.

Tentu jawabannya merupakan kewenangan kepala lembaga yang bertanggung jawab atas desainer mutu pendidikan Al Quran itu sendiri. Apakah generasi umat Islam dibiarkan dalam standar primitif layaknya masa sebelum transisi peradaban dari zaman politeisme ke monoteisme, ataukah meningkatkannya ke standar modern dari era monoteisme (tauhid-syariat) ke era gerakan keilmuan. Dalam hal revolusi ilmu, Al Quran harus ditempatkan sebagai inspirator, pemandu dan penghias gerakan keilmuan dimaksud.

Tugas Menghidupkan Kembali Qur’an

Para penghafal dan guru Al Quran merupakan komunitas dan aset penting untuk membangun peradaban Indonesia yang religius dengan penduduk mayoritas muslim. Perjuangan mereka perlu didukung dan dikembangkan ke tingkat tadabbur Al Quran dan gerakan keilmuan dengan dukungan para akademisi dan ulama sebagai misi profetik kenabian ke generasi berikutnya. Seandainya tidak ada ulama, akhlak manusia akan menjadi seperti binatang.

Pola pendidikan dikotomik yang diwariskan oleh gerakan kolonialisme di negara-negara muslim, termasuk gerakan Belanda di Indonesia sedikit demi sedikit menggeser peran ulama sebagai pendidik umat dan pelopor peradaban setelah pemerintah dan rakyat. Mereka digeser dengan peran birokrat dan tokoh sosial yang kurang memiliki kepedulian dengan warisan keagamaan sebagai kontrol perubahan sosial.

Kenyataan ini menunjukkan perlunya revitalisasi peran Penghafal dan Guru Al Qur'an sebagai pewaris paham keagamaan yang moderat dan penghambat provokasi kalangan skriptualis dengan "klaim kebenaran" pemahaman Al Quran. Upaya revitalisasi ini bisa dimulai dari tahap pengembangan kompetensi bahasa Arab bagi Penghafal dan Guru Al Qur'an untuk pembekalan modal dasar penafsiran Al Quran sebagaimana isyarat Ibnu Abbas di atas.

Selain pertimbangan normatif, era keterbukaan informasi, revolusi ilmu dan industri perlu menjadi pertimbangan dalam merintis perubahan generasi Qur'ani tersebut. Indonesia sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim dengan tokoh-tokohnya yang revolusioner di bidang keilmuan memiliki kesiapan untuk mengawal peradaban dunia. Tugas pengawalan tersebut tidak lepas dari penguatan peran akademik dan pribumisasi bahasa Arab di Indonesia melalui komunitas penghafal dan guru Al Quran yang tersebar di seantero Indonesia.

Kualitas bacaan Al Quran yang dimiliki oleh penghafal dan guru Al Quran merupakan modal penting kefasihan berbahasa Arab. Dalam hal kefasihan, tidak ada perbedaan antara orang Arab dan Indonesia yang tergolong Ajam. Kedua-duanya adalah komunitas berbeda yang tidak diragukan kemampuannya dalam membunyikan artikulasi Al Quran secara fasih.

Dalam hal ini, Al Quran tidak hanya sebagai kitab rujukan artikulasi ideal bahasa Arab, melainkan juga sebagai kitab rujukan bagi uslub/gaya bahasa Arab. Oleh karena itu, Al Quran harus dikembalikan "kewibaannya" untuk menjaga orsinilitas bahasa Arab dan menggeser "klaim kebenaran" pemahaman skriptualis terhadap Al Quran itu sendiri.

Landasan spiritual Al Quran harus dijadikan pijakan untuk mengembalikan "kewibawaan" Al Quran tersebut. Landasan tersebut dimulai dari beberapa tahap, yaitu tahap menjaga diri dari perbuatan yang menyimpang dari ajaran Al Qur'ani (Takhaliyah), tahap mengisi hati dengan tadabbur Al Quran (Tahalliyah) dan tahap menghiasi tindak tutur dengan rasa takut dan harap terhadap kesakralan Al Quran (Tajalliyah). Tahap ketiga tersebut senada dengan isyarat Al Ghazali dalam bait puisinya :

فَكَانَ مَا كَانَ مِمَّا لَسْتُ أَذْكُرُه # خَبَرًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنِ السَّبَبِ

Artinya : "yang ada adalah yang ada meski tidak aku sebutkan # sebuah kabar yang engkau tidak perlu menanyakan sebabnya". 

Perlu ditegaskan bahwa penguasaan yang baik terhadap keilmuan bahasa Arab bukanlah syarat bagi orang yang hendak menafsirkan Al Qur'an, melainkan syarat bagi orang yang hendak mengistimbat hukum dari Al Quran. Penafsiran yang tugasnya mengungkap ambiguitas dan ketidakjelasan pesan simbolik Al Quran di era milenial membutuhkan kemampuan khusus dalam mengefektifkan bahasa dan memperindah logika, serta tidak mencontoh apa adanya tradisi intelektual tafsir klasik seperti yang diwariskan oleh Imam Al Thabari, Ibnu Kastir dan Al Qurthubi yang banyak menampilkan diskursus kebahasaan yang begitu panjang, njelimet, dan tidak langsung menyampaikan pesan inti nash Al Quran itu sendiri.

Modal "mengkekiniankan" Al Quran di zaman ini adalah mengembangkan inspirasi keilmuan dan nilai rekontruksi Al Quran melalui tadabbur ke wujud institusi Islam moderat melalui pendidikan yang menjadi modal utama bagi kemajuan peradaban, bukan aspirasi "kebenaran tunggal" yang menjadi sebab utama bagi kemunduran peradaban.

Wallahu A'lam.

*Ribut Nur Huda (Mahasiswa S3 University of Holy Quran and Islamic Sciences)    

Comment

LEAVE A COMMENT