Pentingnya Memahami Visi dan Misi Kerasulan untuk Mewujudkan Islam Kaffah

Pentingnya Memahami Visi dan Misi Kerasulan untuk Mewujudkan Islam Kaffah

Memahami Islam tidak sekedar mengetahui aspek keimanan dan peribadatan saja, tetapi juga penting mengetahui subtansi visi dan misinya. Dua elemen ini menjadi ruh subtantif yang menjiwai seluruh aspek keimanan dan keislaman. Kegagalan dalam memahami visi dan misi Islam atau mengacuhkannya akan menyebabkan kegagalan dalam berislam.

Layaknya dalam sebuah organisasi besar, Islam diturunkan membawa visi dan misi yang cukup jelas. Namun, sebagian kita mengabaikannya dengan lebih memilih hal teknis dalam berislam. Padahal berislam sejak mengucapkan syahadatain menuntut umat Islam juga memahami visi dan misinya.

Sebagian lain mengatakan yang penting Syariah ditegakkan. Sebagian lain mengatakan yang penting berdiri negara Islam. Ada pula sebagian yang mengatakan dosa besar jika tidak menghukumi dengan hukum Allah. Namun, iman, ibadah, dan hukum adalah bagian dari cabang yang memuat visi dan misi Islam. Semuanya tidak akan pernah lepas dari visi dan misi Islam.

Apa itu visi dan misi Islam? Sebelum memahami itu penting sekali diketahui bahwa Islam adalah agam wahyu yang diberikan kepada Rasul bernama Muhammad bin Abdullah. Kepercayaan Tuhan kepada Muhammad di samping sebagai manusia pilihan, tetapi karena Muhammad dipandang memiliki kapasitas yang memumpuni dalam menjalankan misi Allah yang kemudian disebut misi kerasulan Nabi.

Baca Juga : Modal "Mengkekiniankan" Al Quran

Rasul dengan demikian merupakan pengirim pesan ilahi dalam bahasa manusiawi untuk meningkatkan martabat kemanusiaan. Jika tidak ada Rasul pesan-pesan ilahi, tidak akan pernah terjamah dan dinikmati oleh manusia. Sehingga memaknai visi dan misi Islam, sejatinya harus berangkat dari memahami tujuan Rasul diutus ke muka bumi.

Visi Rahmatan lil alamin

Memahami visi dan misi Islam bukan sesuatu yang teknis, doktrinal dan spesifik. Visi dan misi adalah gambaran abstrak dari tujuan besar yang ingin dicapai oleh Islam. Karena itulah, kita akan melihat visi dan misi itu dari tujuan universal diutusnya Nabi Muhammad.

Ada dua narasi besar ketika berbicara tentang tujuan diutusnya Nabi Muhammad. Tujuan ini secara nyata dan tegas dinyatakan dalam Qur’an. Inilah sebenarnya visi universal Islam yang berlaku sepanjang zaman dan waktu. Allah dalam surah al-anbiya ayat 107 menegashkan :

“Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.

Penting penegasan ini untuk melihat kata-kata “tiadalah” dan “melainkan” adalah bentuk negasi dan afirmasi bahwa sesungguhnya tiada tujuan lain dari diutusnya Muhammad selain sebagai rahmat.

Artinya, semua hukum-hukum Islam adalah dinaungi dengan semangat rahmat bukan bencana terhadap siapapun. Inilah yang kemudian ditegaskan Nabi dalam sebuah hadist : “Sesungguhnya aku tidaklah diutus sebagai tukang laknat, tetapi sebagai rahmat”. (HR. Muslim No. 4704). Jadi penegasan ini menjadi cukup jelas bahwa visi Islam adalah sebagai rahmat.

Penegasan kedua dan ini menjadi suatu visi yang menjangkau ke depan. Rahmat bagi semesta alam. Meskipun Islam diturunkan melalui Muhammad dalam jazirah Arab dengan bahasa Arab, tetapi jangkauan Islam adalah seluruh semesta. Rahmat Islam dengan demikian adalah bersifat universal.

Dalam Ayat lain Allah menegaskan tentang universalitas visi ini :  “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. Saba’: 28). “Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.” (QS. Al-A’raf: 158). “Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al-Furqan: 1).

Dalam tafsirnya Ath-Thabari dengan mengutip riwayat dari Ibnu ‘Abbas bahwa kerasulan Nabi Muhammad dengan membawa Islam sebagai rahmat untuk semesta alam berlaku baik bagi mukmin maupun kafir. Orang beriman diberikan petunjuk dengan kabar gembira dengan kebahagiaan iman dan ibadahnya ke dalam surge. Sementara, rahmat bagi orang kafir adalah peringatan agar memahami siksaan kelak di akhirat. Rahmatnya adalah siksaan di dunia tidak ditimpakan berupa bencana sebagaimana umat-umat terdahulu yang seketika mendapatkan bencana ketika mendustakan Rasulnya.

Jadi, sebenarnya bisa dihapami bahwa visi Islam melalui tujuan kerasulan adalah sebagai rahmat. Islam memberikan rahmat bagi semesta, bukan sebagai laknat. Ibadah, hukum dan kebajikan dalam Islam bermuara dan bertujuan untuk memberikan rahmat bagi semesta alam. Jika ada umat Islam justru menimpakan laknat dan bencana di semesta alam berarti sesungguhnya ia gagal memahami visi Islam.

Misi Akhlakul Karimah

Setelah memahami visi, kita beranjak pada misi Islam. Misi adalah turunan dari visi. Jika visi Islam adalah sebagai rahmat, misi bertugas bagaimana visi ini diterjemahkan dalam hal kongkret kehidupan sehari-hari. Bagaimana mewujudkan rahmat. Nabi menegaskan mewujudkan rahmat adalah dengan cara akhlak yang baik.

Misi penting Nabi sebagai pembawa rahmat seluru semesta adalah mendidik manusia yang berada dalam kubangan kebodohan mempunyai bekal akhlak muliah (akhlakul karimah). Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.” (HR. Al-Baihaqi).

Untuk mencapai Islam sebagai rahmat harus dijalankan dengan akhlak yang mulia. Tidak mungkin wujud rahmat dilakukan dengan akhlak yang tidak baik. Dalam memberikan pelajaran akhlak Nabi berposisi sebagai teladan yang baik bagi umatnya. Ini sesuai dengan firman Allah : Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.” (Al-Ahzab: 21).

Allah memuji Nabi tidak lain karena aspek akhlak beliau yang ditampilkan dan menjadi teladan bagi umatnya. Pujian akhlak Nabi tertera dalam Qur’an : Artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS Al-Qalam: 4).

Apakah akhlak sebagai misi Islam ini tidak ada dalam ibadah? Ingatlah, ibadah dan keimanan itu bermuara dari ruh akhlak yang baik. Tidak aka nada keimanan tanpa akhlak. Begitu pula Ibadah adalah memupuk umat Islam untuk memiliki akhlak yang baik.

Akhlak adalah sesuatu yang inheren dalam agama, keimanan, ajaran agama, dan ibadah. Nabi ketika menyandingkan keimanan selalu berbicara tentang akhlak kepada sesama seperti tetangga, tamu, dan saudara. Bahkan perilaku sosial menjadi pra syarat kesempurnaan iman. Tidak sempurna iman seseorang apabila tidak menampilkan akhlak yang baik kepada saudaranya, tetangganya, tamunya dan sesama manusia.

Begitu pula dengan ibadah. Dimensi ibadah adalah membina akhlak agar menjauhi perkara yang buruk dan munkar. Puasa misalnya disebutkan Nabi sebagai perisai umat manusia dari pikiran, perkataan dan tindakan yang jelek dan buruk. Hukum Islam pun diajarkan dan ditegakkan untuk membina akhlak.

Dari sinilah sebenarnya umat Islam harus memahami lebih awal tentang visi dan misi kerasulan Nabi untuk memahami Islam secara utuh dan komprehensif (kaffah). Berteriak-teriak tentang Islam yang kaffah, tetapi lupa dasar visi dan misi subtantif kerasulan, sesungguhnya ia hanya ingin membangun bangunan besar, tanpa pondasi yang kuat. Yang tampaknya hanya persoalan penampilan yang mewah, bukan muatan yang kokoh. 

Wallahu a’lam

Comment

LEAVE A COMMENT