Sejarah FIkih

Sejarah Perkembangan Fikih: Ikhtiar Ulama Mendialogkan Islam dengan Realitas

Bagi intelektual muslim, entah itu kyai, ustad, santri, pendakwah dan sederet pribadi yang menyebut diri atau mendapat predikat sebutan ulama, tidak akan asing apabila mendengar satu ungkapan dalam kaidah ushuliyah “Perubahan hukum di tengah masyarakat tidak terlepas dari dinamika perubahan waktu, tempat dan kondisi sosial masyarakat”. Oleh karena itu, fiqih sering disebut sebagai produk yang lahir dari sumber Islam dalam merespon dinamika kehidupan manusia .

 

Fikih adalah produk hukum Islam yang selalu berkelindan dengan realitas. Di mana ada masyarakat di sana pasti ada hukum. Realitas masyarakat berkembang secara dinamis dari masyarakat purbakala dulu, yang primitif hingga masyarakat yang maju dan moderen saat ini. Begitu pula fikih tidak boleh membeku ketinggalan zaman.

 

Sebagaimana diketahui bersama, syariat Islam merupakan hak prerogatif  Allah. Namun demikian, karena keduanya hanya tertuang dan tercantum dalam dua sumber pokok al Qur’an dan hadis yang hanya berbicara secara garis besar saja, maka pemegang otoritas yang sah, Rasulullah dan penerus-penerusnya membingkai rumusan hukum sebagai turunan dua dalil tersebut. Mereka mengemasnya dalam suatu kemasan berbentuk fiqih. Hal ini bertujuan untuk memberikan kontribusi besar terhadap umat Islam dalam rangka mentaati perintah dan menjauhi larangan syariat Islam.


Baca juga : Menghadirkan Wajah Islam Kaffah dengan Memanfaatkan Ushul Fikih 


Cita-cita besar dan harapan agung ini bermula sejak masa Rasulullah, era sahabat besar, sahabat kecil, tabi’in, tabiut ta’biin dan imam mujtahid. Untuk itu menjadi penting bagi umat Islam saat ini mengetahui sejarah perkembangan fikih supaya tidak lagi ada gaungan yang menganggap fikih bukanlah bagian dari al Qur’an dan hadis.

 

Sungguh terdengar sangat menggelikan dan lucu apabila ada orang yang tidak ingin bermadzhab dan mempelajari produk keilmuan ulama salaf dengan dalih kembali Qur’an dan Hadist. Mereka menjadi amnesia karena sesungguhnya produk-produk keilmuan itu adalah lahir dari masa-masa keemasan Islam dalam mempelajari, menggali dan menghasilkan ilmu dari Qur’an dan Hadist. Sesungguhnya sikap meninggalkan keilmuan para sahabat, tabiin dan para ulama salaf seperti ingin mempelajari Islam dari nol.

 

Karena itulah, penting di sini untuk melihat bagaimana sejarah lahirnya salah satu ilmu penting sumbangan para ulama salaf dalam menggali hukum Islam dari Qur’an dan hadist, yakni ilmu fikih.

 

 Periode Fiqih masa Rasulullah

 

Pada periode ini, perkembangan fiqih bermula dari turunnya wahyu dan berakhir dengan wafatnya Nabi. Yakni sejak tahun 13 sebelum hijrahnya beliau sampai pada tahun ke 11 H. Kalau dihitung, lama periode ini adalah 22 tahun,  beberapa bulan.


Baca juga : Mengenal Jenis Kaidah Fikih 


Pada masa ini, perkembangan fiqih tidak terlihat jelas mengingat pemutus tunggal  pembinaan hukum Islam bertitik tumpu pada Rasulullah. Namun, apakah masa Nabi tidak ada ijtihad yang dilakukan oleh Sahabat karena sudah ada rasul?

 

Pada masa Rasul sahabat juga berijtihad. Adapun pola Ijtihad yang dilakukan para sahabat pada masa ini mengambil beberapa bentuk.

 

Pertama, adanya penugasan Rasulullah kepada sahabat ke suatu tempat tertentu, sehingga harus melakukan ijtihad manakala menemui suatu masalah yang terkait hukum Islam. Seperti pada kasus Muadz ibn Jabal.

 

Kedua, ijtihad yang dilakukan sahabat terkadang disetujui Rasulullah, kadang tidak disetujui. Hal ini karena beliau dibimbing langsung oleh  Allah  melalui wahyu yang dibawa Malaikat Jibril.

Dan yang ketiga, bila  terjadi  kasus  di  kalangan  sahabat  yang  belum  ada  jawabannya,  lalu  mereka bertanya kepada Rasulullah, adakalanya beliau tidak menjawab langsung permasalahan tersebut, akan tetapi  menunggu wahyu Allah. Inilah yang kemudian menjadi sabab turun ayat tersebut atau sabab nuzul.

 

Periode Fikih masa Sahabat dan Tabi’in

 

Fikih, pada periode sahabat, secara praktis sudah terjadi dan sudah dilakukan oleh para sahabat karena Rasulullah sebagai sumber informasi dan Pembina hukum telah tiada. Namun aktifitas mereka dalam bidang fikih sangat terbatas.

 

Mereka tidak berusaha melakukan pengandaian kasus dan menetapkan hukumnya. Namun  menunggu kasus  di mana hal tersebut secara tekstual belum tersentuh al-Qur’an dan sunnah.

Sebagai contoh apa yang dilakukan oleh Abu Bakar. Ketika ditanya tentang suatu kasus hukum, maka hal pertama yang ia lakukan adalah mencermati  apakah kasus tersebut sudah dijelaskan dalam al Qur’an.   Bila   telah dijelaskan, maka stop sampai di sini. Bila tidak ada penjelasan di al Qur’an, maka ia cari jawabannya dalam sunnah. Kalau ada di sunnah, maka putuskan secara otomatis keputusannya berdasarkan sunnah, tapi jika belum ia jumpai, maka ia kumpulkan para sahabat dan bertanya kepada mereka seraya berkata:  “Apakah kalian mengetahui bahwa Rasulullah pernah memutuskan perkara kasus ini? Maka para sahabat terkadang menjawab pernah dan kadang belum.

 

Apa yang dilakukan oleh Abu Bakar diikuti oleh Umar ibn Khattab ketika ia menjumpai suatu masalah. Ia akan bertanya kepada para sahabat apakah Abu Bakar telah memutuskan kasus ini. Bila sudah, maka akan ia ikuti dan bila belum, maka ia akan berijtihad.

 

Selain Abu Bakar dan Umar, kegiatan ijtihad yang melahirkan fikih juga dilakukan oleh Usman ibn Affan dan Ali ibn Abi Thalib serta Zait ibn Tsabit, Abdullah ib Mas’ud dan lainnya dari kalangan pembesar sahabat atau Kibar al Shahabah. Sedangkan dari kalangan shabat kecil,  Sighar al Sahabah dan generasi tabi’in  yang saat itu tersebar di berbagai kota besar adalah Abdullah bin Umar dan Urwah ibnu Zubair di Makkah, Alqamah ibnu Qais al Nakha’I,  Ibrahim ibnu Yazid al Nakha’I, Masruq ibn al Ajda al Hindi dan Abdullah ibn Amr al Salimi al Muridi di Kuffah.

 

Sementara di Basrah ijtihad dilakukan oleh Anas ibn Malik al Anshari. Di Syam  Abdurrahman al Anshari,  Abu Idris al Karakhi dan Qubasah ibn Suaib. Sedangkan di Mesir ada  Abdullah ibn Amr ibn Ash,  Abdul Khair Marsad ibn Abdullah dan Yazid ibn Abi Thalib. Dan terakhir di   Yaman ada Tawus a Jundi dan Yahya ibn Abi Kasis.


Baca juga : Kaidah Fikih Induk Pertama Niat 


Muhammad Tahir al Naifur membagi ijtihad sahabat dan tabi’in pada tiga macam; Pertama, penjelasan dan tafsir dari al Qur’an maupun al Sunnah. Kedua, analogi dari hal-hal yang terdapat dalam al-Qur’an maupun Sunnah dan Ketiga, ra’y ah atau pendapat sahabat yang sama sekali tidak berlandaskan nash tapi dibangun atas dasar Maqashid al Syari’ah.

 

Periode Pembentukan Madzhab Fikih

 

Periode Keemasan fikih berbarengan dengan zaman keemasan Islam dalam berbagai bidang. Adapun indikasi pertumbuhan fikih adalah terwujudnya fikih sebagai disiplin ilmu secara mandiri  secara teratur dan sistematis.  Di samping itu, digalakkannya pembukuan tafsir, sunnah, ushul fikih dan filsafat.

Faktor utama yang mendukung perkembangan fikih periode ini tidak lain adalah adanya hubungan harmonis antara ulama dan khalifah bahkan ada khalifah yang merangkap sebagai ulama. Selain itu, adanya realitas kebebasan bagi masyrakat umum bahwa ijtihad adalah hak setiap warga masyarakat.

 

Fase ini dalam sejarah dikenal dengan istilah “Periode ijtihad dan keemasan fikih Islam” yang melahirkan para imam besar di bidang fiqih, seperti: Abu Hanifah, Malik bin Anas, Muhammad Idris al Syafi’I dan Ahmad bin Hanbal. Periode ini juga ditandai dengan munculnya para mujtahid mutlak dan atau mujtahid mustaqil.

 

Umat Islam saat itu, bersikap obyektif terhadap madzhab yang dianutnya dan masing-masing mujtahid tetap mengakui kelebihan dan kekurangannya. Sebagai  ilustrasi,  ketika  Imam  Syafi’i  memuji  dan  menghormati  Imam  Abu Hanifah dan Imam Ahmad ibn Hanbal dalam bidang tertentu.

 

Kenyataan tersebut di atas memberikan pemahaman bahwa periode keemasan fikih didasari pada etos kerja ijtihadi yang tinggi dan tumbuhnya semangat toleransi dalam menyikapi berbagai perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan mereka dan para penganut madzhab tersebut.

 

Pada perkembangan selanjutnya adalah pelestarian madzhab. Pada periode  ini  muncul banyak ulama yang kemudian memberikan syarah, khulashah, hasyiyah dan koleksi fatwa yang dibutuhkan. Perhatian mereka lebih fokus pada pembahasan pada teks matan, syarah mukhtashar dan hasyiyah kitab-kitab fiqih imam mujtahid. Dan, hingga saat ini apa yang mereka wariskan tetap lestari.

 

Fikih : Cara Mujtahid Mendialogkan Sumber Islam dengan Realitas

 

Walhasil, perkembangan fikih dari masa ke masa ini memberikan penjelasan bahwa fikih sejatinya hukum-hukum yang bersumber dari al Qur’an dan hadis. Fikih adalah respon mujtahid dalam menjadikan Qur’an dan Hadist selalu relevan menghadapi kondisi zaman.

 

Qur’an dan hadist sebagai sumber pokok Islam tidak boleh mati dan diam dalam berbagai masalah. Namun, tidak serta merta Qur’an dan Hadits harus menjustifikasi realitas membabi buta. Ada metodologi yang jelas dengan perangkat keilmuan yang memumpuni untuk mendialogkan sumber Islam dengan realitas.

 

Menanggalkan keilmuan fikih dan berbagai aspek metodologinya seperti ushul fikih dan perangkat keilmuan lainnya seperti ulumul qur;an, ulumul hadist, tafsir, balaghah, dan lainnya dengan alasan langsung merujuk Qur’an dan hadist adalah keponggahan intelektual. Kesombongan beragama dengan merasa mampu memahami Qur’an dan hadist tanpa menggunakan keilmuan lain.

 

Pada akhirnya justru Qur’an hanya diambil secara tekstual dan hadist dicomot secara serampangan untuk menghakimi realitas. Berbeda dengan para mujtahid dan pendiri madzhab dengan keilmuan yang memumpuni dan kehati-hatian serta kebijaksanaan dalam mempelajari Qur’an telah menghasikan karya yang sangat bermanfaat sekaligus arif dalam menghadapi perbedaan pendapat.

 

 

Comment

LEAVE A COMMENT