Umat Islam harus mengembalikan Islam seperti awal

Sejak abad ke-20 banyak ide-ide cemerlang yang muncul ke permukaan untuk mengembalikan umat Islam seperti semula sehingga Islam kembali menjadi energi baru dalam membangun peradaban dunia sebagaimana yang pernah dicapai sebelumnya. Islam berhasil  membangun sebuah peradaban yang mampu menggantikan peradaban-peradaban yang pernah berjaya pada masa itu.

Hassan albanna misalnya tampil dengan ide-ide perubahan, pendidikan, musyarakah dalam pemerintahan dan revolusi untuk menguasai kekuasaan. Hanya dengan itulah Islam dapat kembali memegang kekuasaan dan menjadi pioneer umat. Demikian pula Syech Muhammad bin Abdul wahab yang tampil dengan konsep puritanisasi ajaran Islam yang anti bid’ah yang dipandang sebagai penyebab utama terjadinya kemusyrikan dan keterbelakangan. Demikian pula  Sayyid Khan yang juga tampil dengan ide-ide kebangkitan umat Islam yang berkemajuan dan lain-lain seperti Syech Muhammad Abduh, Rasyid Ridha dan Jamaluddin Al Afghani.

Upaya mengembalikan Islam ke masa awal juga telah dilakukan oleh ulama-ulama salaf pada abad kedua hijriyah. Corak pemikiran Islam berkembang pesat pada era itu dianggap dapat meruntuhkan nilai-nilai dan ajaran Islam yang sesuai dengan Alqur’an dan Sunnah sehingga muncul madrasah-madrasah yang masing-masing memiliki karakteristik tersendiri. Ajaran ahlussunnah waljamaah yang merupakan salah satu wujud upaya para ulama untuk menjaga dan memelihara keyakinan umat Islam terhadap agamanya. Upaya ini boleh dihitung berhasil karena sampai saat ini pemahaman ahlussunnah waljamaah mendominasi di hampir semua negara-negara muslim di Asia, Afrika dan Arab.

Dua pola pemikiran di atas  muncul sebagai reaksi terhadap kehidupan sosial politik. Satunya muncul di abad-abad awal kembangkitan Islam dan satunya lagi muncul di era moderen yang ditandai dengan runtuhnya kekhilafaan Islam dan bangkitnya modernisasi barat. Pengaruh kedua pola  ini masih dirasakan sampai hari ini termasuk di Indonesia. Di Indonesia, keretakan yang terjadi di kalangan umat Islam cukup memperihatinkan karena antara satu dengan yang lain masing-masing mengklaim diri sebagai yang terbaik.

Baca juga : Smart Pakem: Celah Gerakan Intoleransi & Radikalisme ???

Rasulullah Saw  lahir di tengah masyarakat yang tidak beragama. Namun ia dijuluki sebagai  Al Amin padahal masyarakat kala itu belum mengenal Islam yang mengajarkan sikap amanah. begitupula ketika ia diajak pindah ke Madinah, warga madinah menganggap bahwa ia adalah satu-satunya sosok yang dapat mempersatukan suku-suku yang selalu bertikai di Madinah. Dititik ini, Rasulullah Saw memiliki prilaku dan etika yang sangat tinggi sehingga ia mampu menarik perhatian siapapun di sekitarnya.

Jika umat Islam ingin mengembalikan Islam sebagaimana sebelumnya maka beberapa hal yang menjadi karakteristik umat Islam di masa lalu harus menjadi kunci untuk membongkar dan menyelesaikan masalah yang dihadapi umat ini:

1.      Umat Islam harus menjadi uswatun hasanah

Nabi adalah uswatun hasana dalam segala aspek kehidupan. Posisi inilah membuat orang lain berbondong bondong memeluk Islam. Prilaku  yang ditunjukkan selalu menarik perhatian dan di luar kebiasaan masyarakatnya. Rasulullah dalam segala kebijakannya dan prilakunya tidak pernah menafikan sisi-sisi kemanusian dan selalu menjunjung tinggi nilai-nilai itu. 

Menjadi uswatun hasanah bagi umat islam merupakan sesuatu yang mutlak dilakukan sehingga ia selalu menjadi contoh yang baik dalam segala aspek kehidupan politik, ekonomi dan sosial budaya. Selama umat Islam belum mampu menjadi panutan dalam sisi-sisi ini maka sulit menarik perhatian masyarakat lain untuk menghormati Islam.  Masyarakat di sini bukan saja masyarakat muslim akan tetapi juga masyarakat secara umum tanpa melihat latarbelakang mereka masing-masing.

2.      Umat Islam harus selalu tampil sebagai leadership

Islam mengajarkan umatnya agar menjadi saksi di tengah-tengah manusia. Saksi disini bukan saksi dalam sati kejadian akan tetapi lebih sebagai pertanggung jawaban atas apa yang telah dilakukan dalam menjamin kelangsungan hidup manusia. Ini tidak dapat dilakukan jika umat Islam tidak menjadi pemimpin paling tidak di kalangan umat islam itu sendiri sehingga ia mampu mempertanggungjawabkan apa yang dilakukannya. Saking pentingnya pemimpin ini, maka  satu detikpun tidak boleh kosong dari kepemimpinan. Semua umat Islam adalah pemimpin dan akan bertanggung jawab terhadap apa yang mereka pimpin. Paling tidak menjadi pemimpin yang baik dalam keluarga sendirinya. Menjadi pemimpin bukanlah hal mudah, namun bukan berarti sesuatu yang tidak mungkin. Umat Islam harus memiliki jiwa-jiwa leadership yang amanah dan adil sehingga tidak ada satupun yang akan merasa dirugikan jika ia sedang dipimpin oleh seorang muslim.

3.      Umat Islam harus cerdas

Ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw adalah perintah membaca. Membaca di sini bukan saja membaca kitab atau sesuatu yang tertulis akan tetapi juga membaca apa yang ada di sekitar umat Islam. Umat islam harus mengetahui perkembangan yang terjadi di sekitarnya agar dapat menyikapi perkembangan itu. Ini sangat penting karena jika tidak demikian maka sadar atau tidak sadar akan terbelenggu dengan situasi tersebut sehingga mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Penguasaan dan pemahaman terhadap situasi yang ada disekitar kita merupakan sebuah keharusan agar kita dapat menyikapi dengan baik. Persoalan sekarang umat Islam sering kali tidak dapat memposisikan  dirinya sehingga menyulut ke lembah perpecahan yang merepotkan umat Islam itu sendiri.

4.      Umat Islam harus berkemajuan

Rasulullah Saw mampu membangun masyarakat primitif menjadi masyarakat berkemajuan. Islam mengajarkan mulai dari hal-hal yang paling kecil seperti membersihkan air kencing hingga bagaimana membela negara dan mempertahankan eskistensi sebuah masyaraat semuanya diajarkan Islam.   Ajaran Islam  sarat dengan nilai-nilai yang berkemajuan dan tidak sedikit ayat yang mengajak agar umat Islam berkemajuan dalam segala aspek kehidupan ekonomi, politik dan ilmu pengetahuan. Di sinilah umat Islam harus sadar bahwa ada yang lebih penting menjadi perhatian utama dibanding perbedaan-perbedaan furuiyat yang hanya menyita waktu dan energi tanpa memberikan dampak apapapun terhadap agama dan masyarakatnya.

5.      Umat Islam harus mandiri

Kemandirian dalam segala hal merupakan suatu keharusan. Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Umat Islam harus berusaha semaksimal mungkin membangun dirinya sendiri tanpa harus mengharapkan orang lain membantunya. Nabi berternak dan berdagang, melanglang buana menjual barang-barang dagangannya. Ia pun menikahi seorang janda yang kaya raya untuk mendukung dakwahnya. Ia tidak pernah meminta kepada siapapun untuk keperluannya bahkan ia selalu mencari solusi terhadap masalah-masalah yang dihadapi. Ia hidup sederhana sesuai dengan gaya masyarakatnya tanpa berlebihan dalam segala demi suatu tujuan yang diinginkan.

Jika lima hal ini terpatri dalam jiwa setiap umat Islam maka perbedaan-perbedaan yang pernah terjadi dalam sejarah Islam dan wacana-wacana yang pernah muncul di zaman dulu tidak akan menjadi pemicu perbedaan kita. Kini saatnya harus membebaskan diri dari wacana-wacana itu menuju sebuah kehidupan yang lebih maju dan Islam akan bebas dari stempel-stempel seperti radikal , terorisme, dan fundamentalisme

Comment

LEAVE A COMMENT